Sukses

Terungkap, Obesitas Bikin Rentan Kena COVID-19!

Obesitas tak cuma tingkatkan risiko keparahan COVID-19. Kondisi ini juga bikin Anda lebih rentan kena infeksi virus corona dan masalah kesehatan lainnya.

Indonesia punya dua masalah kesehatan yang berkebalikan (double burden), yaitu kurang gizi termasuk stunting, dan obesitas alias kegemukan. Di antara keduanya, yang paling menjadi sorotan selama pandemi COVID-19 adalah obesitas.

Obesitas dituding bisa memperparah COVID-19 lewat penyakit penyerta yang ditimbulkannya, seperti penyakit jantung dan diabetes.

Hal tersebut pula yang disinyalir menjadi biang keladi tingginya angka kematian akibat virus corona di Amerika Serikat, mengingat lebih dari 107 juta warga dewasa setempat mengalami kelebihan berat badan.

1 dari 3 halaman

Terbaru Tentang Obesitas dan COVID-19

Dilansir Live Science, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) melaporkan, 73 persen tenaga kesehatan yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19 ternyata mengalami obesitas.

Hal yang lebih mengejutkan lagi, ada dugaan bahwa obesitas dapat mengganggu efektivitas vaksin COVID-19.

Pasalnya, orang dengan kondisi berat badan di atas normal memiliki peradangan kronis di dalam tubuhnya.

Peradangan akibat obesitas disebabkan oleh jaringan adiposa atau lemak di perut, termasuk pada organ hati dan organ lainnya.

Ketika vaksin dimasukkan, peradangan tersebut mengganggu respons kekebalan terhadap banyak jenis vaksin.

Respons tumpul itu pertama kali diteliti tahun 1985. Seorang pegawai rumah sakit yang obesitas kala itu mendapatkan vaksin hepatitis B. Sebelas bulan kemudian, perlindungan dari vaksin tersebut menurun.

Artikel Lainnya: Mungkinkah Ada Orang yang Kebal Virus Corona? Ini Faktanya!

Sedangkan, pada orang yang berat badannya normal, penurunan perlindungan dari vaksin tidak terjadi secepat itu.

Atas dasar itulah, obesitas dianggap sebagai masalah global yang serius. Bukan cuma memicu timbulnya penyakit kronis, kegemukan yang parah juga disebut bisa menurunkan efektivitas vaksin.

Tidak berhenti di situ. Dokter spesialis obesitas di University of Virginia Health System juga mengatakan, orang obesitas lebih rentan kena COVID-19 ketimbang orang yang berat badannya ideal.

2 dari 3 halaman

Ini Terjadi pada Paru-paru orang Obesitas yang Kena COVID-19

Masih dari Live Science, jaringan adiposa berlebih yang menyimpan lemak menciptakan tekanan mekanis pada pasien obesitas.

Hal ini membatasi kemampuan untuk mengambil dan melepaskan napas secara penuh, sehingga dapat menyebabkan penyakit paru-paru restriktif.

Dalam kasus lebih serius, kondisi serupa tersebut menyebabkan sindrom hipoventilasi yang bikin seseorang hanya memiliki sedikit oksigen dalam darahnya.

Jaringan adiposa melepaskan senyawa yang bisa menyebabkan peradangan kronis pada orang obesitas.

Dalam kasus peradangan ringan, tubuh akan melepas sitokin yang merupakan protein untuk melawan peradangan.

Ketika peradangan berubah kronis, hal tersebut menjadi lebih susah dilawan. Jika dianalogikan, kondisi tersebut seperti “api kecil” yang terus menyala di dalam tubuh.

Artikel Lainnya: Oh, Tidak, Virus Corona Bisa Merusak pada Testis Pria

Apabila orang obesitas terpapar virus SARS-CoV-2 penyebab COVID-19, maka akan ada dua api yang menyala pada tubuhnya. Alhasil, risiko kerusakan paru-paru bisa sangat tinggi.

Lebih dari itu, banyaknya jaringan adiposa juga turut meningkatkan enzim ACE-2 di dalam tubuh. Enzim tersebut dapat menjadi “jalan” bagi virus corona untuk menyerang sel tubuh dan merusaknya.

Jadi, virus dapat mengikat dan menyerang lebih banyak sel pada orang-orang obesitas yang memiliki banyak jaringan adiposa di dalam tubuhnya. Kondisi ini bisa memicu infeksi yang lebih parah dan lama sembuhnya.

Menanggapi dampak obesitas dan COVID-19, dr. Arina Heidyana angkat bicara. Menurutnya, temuan-temuan tersebut dapat dijadikan pengetahuan tambahan agar setiap orang lebih peduli terhadap pencegahan berbagai penyakit.

Artikel Lainnya: Ini Waktu yang Diperlukan Virus Corona untuk Hidup di Benda Mati

“Hingga sekarang, hal-hal di atas masih butuh penelitian lebih lanjut. Semua opini dari para dokter dan peneliti masih harus dibuktikan secara pasti,” ucap dr. Arina.

“Adanya opini di atas sangat wajar. Ahli kesehatan sangat khawatir pada orang obesitas, karena memang mereka inilah yang paling banyak mengalami perburukan (kondisi kesehatan),” jelasnya.

Terlepas dari semua hal tersebut, keterkaitan antara obesitas dan COVID-19 memang harus diwaspadai sejak dini guna mencegah efek samping merugikan di masa mendatang.

Mulailah untuk memperbanyak aktivitas fisik; mengurangi asupan lemak dan gula; kelola stres dengan baik; serta penuhi kebutuhan serat, vitamin, dan mineral dari aneka sayur maupun buah-buahan.

Jangan lupa juga lakukan medical check up secara berkala dan terapkan protokol kesehatan di mana pun Anda berada.

Masih ada pertanyaan mengenai COVID-19 dan obesitas? Atau, Anda ingin tahu lebih lanjut mengenai hal-hal lain seputar kesehatan?

Konsultasikan langsung kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar