Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Pengakuan Mengejutkan Mantan Penulis Zodiak di Majalah Remaja

Pengakuan Mengejutkan Mantan Penulis Zodiak di Majalah Remaja

Kepada Klikdokter, mantan penulis rubrik zodiak di majalah remaja membuat pengakuan mengejutkan!

Taurus

Asmara: Si dia mulai melirik kamu, nih!

Karier: Jangan setengah-setengah kalau mengerjakan tugas!

Keuangan: Saatnya berhemat, jangan sampai weekend tongpes!

Siapa yang tidak akrab dengan petikan kalimat di atas: ramalan zodiak. Di era 90-an hingga awal 2000, rubrik zodiak adalah primadona di majalah-majalah remaja.

Anak-anak muda pada masa itu tak sabar melihat peruntungan mereka seminggu ke depan berdasarkan 12 tanda bintang.

Salah satunya Ajeng, bukan nama sebenarnya, wanita 30 tahunan yang di masa mudanya sangat menikmati rubrik zodiak.

“Waktu gue ABG, teman-teman gue percaya banget sama zodiak. Jadi setiap ada majalah baru, semua langsung buka ramai-ramai di kelas, lihat bagian zodiak,” kata Ajeng dalam perbincangan dengan Klikdokter beberapa waktu lalu.

“Bahkan pas SMA, suka ada yang baca keras-keras di depan kelas,” lanjut wanita itu lagi.

Namun, Ajeng akan terkejut jika mengetahui rubrik zodiak bukan ditulis oleh ahli astrologi. Bahkan ditulis oleh mereka yang tidak punya pengetahuan sedikitpun soal pseudoscience tersebut.

Salah satunya yang berhasil diwawancara Klikdokter adalah Ningrum, bukan nama sebenarnya, mantan penulis zodiak.

Ningrum sempat menjadi penulis rubrik zodiak di majalah remaja yang kini beralih ke online. Pekerjaan itu digelutinya selama tiga tahun terakhir dari enam tahun kariernya di majalah tersebut.

“Gue bukan ahli astrologi. Tapi, gue tahu kalau astrologi tuh sebuah ilmu yang meyakini kalau benda-benda angkasa mempengaruhi kehidupan. Nah, tapi cara belajar dan bagaimana penerapannya...jujur gue buta,” kata perempuan 34 tahun ini kepada Klikdokter.

Artikel Lainnya: Benarkah Golongan Darah Tentukan Karakter Seseorang?

Lantas, tanpa ilmu pengetahuan, bagaimana Ningrum bisa menulis rubrik zodiak. Pada tahun-tahun pertamanya, Ningrum menulis mengacu pada buku karangan ahli astrologi ternama dunia yang mencakup ramalan bintang dalam setahun.

“Gue beli buku soal zodiak dari Amerika. Belinya harus pesan khusus alias PO. Setiap tahun, penulis itu mengeluarkan 13 seri buku ramalan zodiak. Hal yang gue lakukan adalah merangkum selama seminggu apa yang terjadi sama si pemilik zodiak, diaplikasikan sama kehidupan cewek-cewek di Indonesia,” kata Ningrum.

Ningrum tidak secara langsung menjiplak buku tersebut. Ia  memodifikasinya sehingga bisa menyenangkan pembaca majalahnya.

Dia juga harus pilah-pilih, jangan sampai ada ramalan yang terlalu buruk. Jika ada bintang yang ramalannya jelek, dia harus mengubahnya menjadi indah.

“Pernah ada dalam ramalan di buku itu semua zodiak nasibnya jelek banget. Ya, gue kan nggak mau pembaca kehilangan harapan. Jadi, gue ubah-ubah dikit, biar nggak semua zodiak jelek,” kata Ningrum.

Pada suatu ketika, buku tersebut tidak terbit lagi, Ningrum kelimpungan mencari bahan rubrik zodiak. Akhirnya dia mengarang bebas dengan menanyakan peruntungan kawan-kawannya selama sepekan.

Artikel Lainnya: Bahaya Terlalu Percaya Zodiak bagi Kesehatan

Di sinilah keterampilan menulis diperlukan. Tidak heran pengisi rubrik zodiak di majalah itu mesti penulis berpengalaman. Isi ramalan zodiaknya, kadang suka-suka penulisnya saja.

“Kadang kalau gue lagi kesal sama orang dengan zodiak tertentu, gw jelek-jelekin juga tuh ramalannya. Tapi giliran zodiak gue, harus bagus-bagusin,” ujar Ningrum.

Ningrum mengatakan kondisi ini tidak hanya terjadi di majalahnya, tapi beberapa media remaja lainnya. Ternyata juga tidak hanya di Indonesia, tapi di luar negeri pun demikian.

Laura Brodnik, editor media hiburan di Australia mengakui pernah menjadi penulis zodiak di awal kariernya. Dia mengatakan, seluruh ramalan bintang itu adalah bohong.

Dilansir Mamamia.com.au, Brodnik mengatakan dia masih magang di sebuah koran saat ditugaskan mengisi rubrik zodiak.

Artikel Lainnya: Tips Mudah Bangun Rasa Percaya Diri Anda

Tugasnya adalah mengumpulkan bahan dari tulisan-tulisan zodiak terbitan terdahulu, lalu mengemasnya ulang dengan kata-kata baru. Tak ada ilmu pengetahuan di situ, total kepiawaian mengolah kata.

“Ramalan bintang yang kalian baca dan andalkan sejak lama, kalimat-kalimat harapan yang kalian baca dengan seksama setiap minggu, mencari secercah cahaya untuk masa depan yang terselubungi kegelapan?” tulis Brodnik.

Well, saya benci menyampaikan kabar buruk ini, tapi ramalan bintang tidak nyata. Tak sedikit pun. Saya tahu, karena saya pernah menuliskannya,” lanjut dia.

1 dari 2 halaman

Bahaya Percaya Zodiak

Walau sebagian besar adalah karangan semata, namun tidak sedikit yang memercayai ramalan bintang.

Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M. Psi, memercayai zodiak berbahaya bagi remaja karena bisa memicu kecemasan dan rasa tidak percaya pada diri sendiri. Pasalnya, remaja cenderung punya locus of control atau kendali diri yang dipengaruhi dari luar.

“Dia akan cenderung bergantung terhadap apa yang diramalkan oleh zodiak tersebut. Padahal itu hanya kebetulan yang sama, akhirnya dia terkena barnum effect, yang buat dia percaya bahwa yang tertulis memang yang akan terjad,” kata Ikhsan.

Sementara psikolog Gracia Ivonika, M.Psi., Psi. mengatakan bahwa remaja berada dalam tahap perkembangan yang signifikan terkait identitas diri. Membaca ramalan zodiak bisa membantu mereka mendefinisikan siapa diri mereka sebagai individu.

Beberapa studi, kata Gracia, juga menunjukkan bahwa memercayai astrologi adalah respons terhadap stres dan kecemasan yang berasal dari ketidakpastian. Konten astrologi memberikan rasa aman dan kepastian yang dibutuhkan, serta menurunkan emosi negatif yang dialami oleh remaja.

“Saat merasa terganggu dengan ketidakpastian, orang cenderung mencari kecocokan akan apa yang dialami dengan prediksi yang ada atau melakukan validasi secara subjektif. Terlebih pada masa remaja, dimana mereka rentan dipengaruhi oleh lingkungan mengingat identitas diri dan kepribadian yang belum matang,” kata Gracia.

Senada dengan Ikhsan, Gracia mengatakan orang yang memercayai zodiak percaya bahwa keberhasilan atau kegagalan mereka dihasilkan dari faktor eksternal. Pada akhirnya, terlalu percaya kepada zodiak akan membuat seseorang kehilangan kontrol akan dirinya sendiri.

“Ia mungkin akan lebih bersikap pasif terhadap hal yang ia hadapi, termasuk dalam menghadapi masalah atau kesulitan,” ujar Gracia.

Ningrum sendiri menganggap tulisannya di rubrik zodiak hanya hiburan semata bagi pembaca. Dia juga meyakini, terlalu memercayai zodiak yang dibuatnya bisa memperburuk keadaan seseorang. Jika ramalan zodiaknya buruk, bukan tidak mungkin seseorang akan tambah takut dan resah.

Gue enggak suka dengan konsep ramalan masa depan. Karena menurut gw Tuhan merahasiakan itu pasti ada reason-nya,” kata Ningrum.

Jika Anda masih ingin bertanya seputar psikologi, jangan segan untuk bertanya langsung kepada psikolog melalui fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(ARM/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar