Sukses

Dampak Ayah Pecandu Alkohol terhadap Psikis Anak

Ayah adalah sosok pemimpin di mata anak-anaknya. Tapi, bagaimana bila sang ayah adalah pecandu alkohol. Apa dampaknya bagi psikis anak?

Menjadi seorang ayah memang jadi kebanggaan tersendiri. Tak heran bila banyak pria yang langsung mengubah kebiasaan buruknya jadi lebih baik ketika menjadi ayah.

Tapi, bagaimana bila sang ayah masih kecanduan alkohol, bahkan ketika sudah punya anak? Dampak seperti apa yang bisa memengaruhi psikis anak akibat ayah pecandu alkohol?

1 dari 3 halaman

Alasan Pria Rentan Kecanduan Alkohol

Selain berdampak buruk bagi kesehatan diri sendiri, seorang pecandu alkohol juga bisa memengaruhi kehidupan orang lain, termasuk anaknya sendiri.

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, mengatakan ketika seseorang sudah kecanduan akan satu hal – dalam kasus ini alkohol – maka tidak hanya berpengaruh pada diri sendiri, tapi juga orang lain di sekitarnya.

“Kalau sudah kecanduan, memang sulit untuk keluar dari kondisi tersebut. Ini dikarenakan ketika Anda minum alkohol, Anda merasa mendapatkan kesenangan dan ketenangan. Inilah yang membuat sang ayah mungkin jadi sulit lepas dan rentan kecanduan alkohol,” ujar Ikhsan.

Selain itu, ketika seorang ayah sudah kecanduan alkohol, hal ini akan membuat perubahan kimia di dalam otaknya.

Jadi, jika seorang ayah masih minum alkohol, maka ini bisa jadi tanda ia belum menemukan cara yang tepat untuk mengatasi sumber stres dan bagaimana mendapatkan kesenangan.

Artikel lainnya: Kedinginan karena Hujan dan Banjir, Jangan Minum Bir!

“Ketika minum alkohol, seseorang akan merasa mendapatkan kesenangan dan stres yang dialaminya terasa hilang. Awalnya itu jadi bentuk pelarian orang dari stres yang dihadapi, tapi lama kelamaan jadi bentuk kebiasaan. Akhirnya, yang ia tahu kalau mengatasi stres ya dengan minum alkohol,” kata Ikhsan.

2 dari 3 halaman

Dampak Ayah yang Kecanduan Alkohol bagi Psikis Anak

Lalu, bagaimana dampak ayah pecandu alkohol terhadap kondisi psikis anak? Beberapa di antaranya yaitu:

1. Meniru Perilaku Ayahnya

Ayah adalah sosok pemimpin dan panutan bagi anak-anaknya. Tapi, jika sang ayah tidak mencontohkan hal yang benar sejak anak masih kecil, maka ini bisa membuat sang anak jadi mengikuti “jejak” ayahnya.

Dalam kasus ini, anak akan menganggap minum alkohol secara berlebihan boleh dilakukan.

2. Rentan Depresi

Selain meniru perilaku ayah, anak juga akan mendapatkan pola asuh yang tidak baik. Pasalnya, ketika ayah sudah kecanduan alkohol, emosinya jadi tidak stabil dan pikirannya jadi terganggu (tidak jernih).

Tidak menutup kemungkinan anak terus menjadi sasaran emosi sang ayah ketika sedang stres. Anak pun bisa berisiko depresi.

Artikel Lainnya: Agar Hangover Tak Parah, Ini Makanan Dikonsumsi Sebelum Minum Alkohol

3. Kurang Paham Norma Sosial

Dampak lainnya yang bisa menimpa anak adalah ia jadi kurang paham norma sosial.

Ikhsan mengatakan, “Anak jadi kurang paham mana yang baik dan tidak. Karena, anak tidak melihat kecanduan alkohol sebagai sebuah hal yang salah.”

“Dengan kurangnya pemahaman norma sosial, hal ini juga akhirnya membuat anak rentan melakukan tindakan-tindakan yang berisiko merugikan diri sendiri.”

4. Rentan Di-bully

Buah tak jatuh jauh dari pohonnya.Kalimat ini mungkin jadi anggapan orang-orang sekitar yang melihat anak dengan orang tua pecandu alkohol.

Masyarakat sekitar mungkin memiliki stigma terhadap sikap dan sifat anak. Akhirnya, anak jadi sasaran bullying, diintimidasi, dan dijauhi orang-orang sekitar. 

Nantinya, kondisi ini juga bisa membuat anak jadi bermasalah dalam bersosialisasi maupun berkomunikasi. Tak heran bila ia berubah menjadi sosok yang pendiam, tertutup, dan enggan bersosialisasi.

Itulah beberapa dampak psikis yang mungkin bisa terjadi pada anak ketika memiliki ayah yang pecandu alkohol. Karenanya, pecandu alkohol membutuhkan bantuan yang tepat sedini mungkin agar terhindar dari dampak negatifnya.

Bila butuh bantuan ahli profesional dalam mengatasi kecanduan alkohol, pakai Live Chat dari KlikDokter untuk konsultasi lebih mudah dengan dokter dan psikolog.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar