Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Membandingkan Efek Samping Vaksin Virus Corona yang Tengah Diuji

Membandingkan Efek Samping Vaksin Virus Corona yang Tengah Diuji

Beberapa relawan mengalami efek samping yang berbeda setelah disuntik vaksin virus corona. Mengapa demikian? Ini kata dokter.

Berbagai perusahaan farmasi dunia masih terus menguji vaksin virus corona yang mereka kembangkan. Hingga sekarang, belum ada satu pun vaksin yang mendapat lampu hijau untuk digunakan di masyarakat luas.

Meski begitu, perkembangan dari uji vaksin COVID-19 yang dilakukan serentak mengalami kemajuan. Seperti yang dikembangkan Pfizer bersama BioNtech, vaksin ini diklaim 90 persen ampuh melindungi seseorang dari bahaya virus corona.

Di balik manfaat yang dijanjikan, vaksin virus corona ternyata dapat mencetuskan efek samping yang berbeda-beda.

1 dari 3 halaman

Perbandingan Efek Samping Vaksin Virus Corona

Berikut ini adalah beberapa jenis vaksin virus corona beserta efek samping yang dilaporkan saat uji coba:

1. Pfizer

Perusahaan farmasi Amerika Serikat, Pfizer, menggunakan teknologi mRNA dalam vaksin virus corona buatannya. Teknologi tersebut tidak menggunakan virus utuh sebagai vaksin, melainkan salinan gen (mRNA) yang disuntikkan ke tubuh.

Dilansir The Sun, relawan bernama Glenn Deshield (44) dari Texas merasakan efek samping seperti mabuk berat setelah disuntik vaksin tersebut. Namun, gejala yang dialaminya tidak berlangsung lama.

Sedangkan relawan lainnya, Carrie (45) dari Missouri, mengatakan bahwa dirinya menderita sakit kepala, demam, dan nyeri tubuh setelah suntikan pertama pada September silam. Efek samping yang dia rasakan semakin buruk setelah suntikan kedua, Oktober lalu.

Artikel Lainnya: Ini Waktu yang Diperlukan Virus Corona untuk Hidup di Benda Mati

2. Sinovac

Perusahaan farmasi China, Sinovac Biotech, mengembangkan vaksin bernama CoronaVac. Vaksin tersebut tengah diuji ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

Uji CoronaVac dilakukan di Bandung dan tengah memasuki fase tiga. Ketua Tim Uji Klinis Vaksin Unpad-Bandung, Prof. Kusnandi Rusmil, mengatakan tidak ada efek samping serius dari vaksin yang tengah diuji.

Menurutnya, beberapa relawan hanya mengalami panas (2 persen dari jumlah relawan) dan bengkak ringan.

Hasil tersebut berbeda dengan temuan di Brasil. Negara tersebut baru saja menghentikan uji coba vaksin Sinovac. Mengutip Reuters, penghentian dilakukan karena pemerintah setempat masih menyelidiki kematian salah seorang relawan pada Oktober lalu.

Selama ini Presiden Brasil, Jair Bolsonaro, terus mempertanyakan kredibilitas dari vaksin Sinovac.

Artikel Lainnya: Busui, ASI Dapat Bantu Melawan Infeksi Virus Corona

2 dari 3 halaman

Mengapa Timbul Efek Samping yang Berbeda?

Menurut dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, ada beberapa faktor yang membuat efek samping vaksin virus corona berbeda-beda pada setiap orang.

Pertama, hal itu tergantung dari respons imun masing-masing relawan. Kemudian, perbedaan jenis vaksin membuat mekanisme kerjanya juga tidak dapat disamakan.

Ketiga, apakah seseorang sebelumnya memiliki riwayat infeksi atau tidak. Misalnya, jika sebelumnya terinfeksi virus yang berbeda, hal itu bisa membuat efek samping yang berbeda pula.

“Ada yang jenis mRNA, seperti Pfizer. Itu dia mekanismenya menstimulasi protein dari antibodi untuk defense terhadap virus,” kata dr. Muhammad Iqbal.

“Intinya, masing-masing vaksin memiliki cara kerja sendiri yang memancing imun tubuh bereaksi. Pasti beda-beda juga reaksi yang ditimbulkan,” tegasnya.

Di samping ketiga faktor tersebut, faktor genetik, usia, dan juga gaya hidup juga menentukan efek samping yang dirasakan.

 “Diet, olahraga, stres, kebiasaan merokok atau minum alkohol, itu bisa mempengaruhi respons imun tubuh terhadap vaksin,” ucap dr. Iqbal.

Lantas, mana vaksin virus corona yang paling menjanjikan? Menurut dr. Iqbal, hal tersebut belum dapat dipastikan hingga saat ini. Pasalnya, semua vaksin virus corona masih dalam tahap penelitian hingga artikel ini diterbitkan.

Masih penasaran dan punya pertanyaan mengenai vaksin virus corona? Konsultasikan secara langsung kepada dokter melalui LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar