Sukses

Tak Cuma Wanita, Pria Juga Alami Body Shaming!

Selama ini body shaming diidentikkan dengan kaum hawa. Padahal, kaum adam juga kerap merasakannya, lho! Tak percaya?

Korban body shaming yang banyak disorot selama ini adalah wanita. Sebab, selama ini memang yang terlihat fokus pada penampilan adalah kaum hawa.

Kendati demikian, tahukah Anda, makin ke sini makin banyak kasus body shaming yang dialami para pria?

Pria Juga Jadi Sasaran Body Shaming!

Tahun lalu misalnya, kita ambil contoh body shaming yang dialami aktor Hollywood pemeran Aquaman, Jason Momoa.

Di film tersebut, tubuh Jason memang terlihat sangat atletis dan seksi. Tapi, setelah syuting film superhero itu, beredarlah foto perubahan tubuh aktor asal Amerika Serikat itu.

Banyak wanita yang mengomentari tubuh Jason berubah jadi dad bod, karena “kotak-kotak” di perutnya menghilang dan mulai agak buncit (dad belly).

Selain itu, lekukan v-line di perut bawah menuju selangkangannya juga tak terlihat lagi. Bahkan, salah seorang warganet ada yang menyuruh Jason untuk segera nge-gym lagi!

Komentar kaum hawa terkait tubuh Jason Momoa tersebut sangat berbeda dibanding saat ia masih syuting dan promo film Aquaman.

Sayang, berita tersebut tidak terlalu terekspos. Mungkin banyak terpikir, jika korban body shaming adalah selebriti wanita, maka mungkin hal itu akan lebih “didengar”. 

Dilansir dari Times of India, hal serupa juga dilontarkan oleh psikiater di Delhi bernama dr. Shobhana Mittal.

Dirinya mengatakan, “Kami sering membicarakan masalah citra tubuh wanita. Tetapi kami sendiri lupa, sebenarnya pria juga sering menjadi korban. Dalam beberapa tahun terakhir ini, lonjakan kasus pria yang dipermalukan karena tubuhnya terus meningkat,” jelasnya.

Artikel lainnya: Ini Alasan Wanita Suka Lakukan Body Shaming Penampilan Wanita Lain

Di tahun 2014 saja, ada penelitian yang melaporkan 90 persen pria pernah mengalami body shaming dan bergumul dengan ketidakpuasan terhadap tubuhnya sendiri.

Selama ini, kondisi fisik sempurna dari seorang pria digambarkan dengan rambut tebal, tubuh tinggi, dan berotot.

Tak jarang, para pria kerap gila nge-gym dan menjadikan protein shake sebagai makanan sehari-hari.

Sama seperti wanita yang kerap melakukan perawatan kecantikan di klinik, pria pun berani menyuntikkan steroid agar ototnya nampak sempurna meski berisiko efek samping!

Citra tubuh sempurna sering kali dikeluarkan oleh produk-produk perawatan. Psikoterapis Susie Orbach mengatakan, produk tertentu sering mempromosikan ketidaknyamanan dan ketidakpuasan fisik. Akhirnya, para pria tergiur membelinya agar terlihat sempurna.

1 dari 4 halaman

Kena Body Shaming, Pria Punya Cara Respons Berbeda dari Wanita

Sementara itu, dilansir dari laman Bradley University, Amerika Serikat, para pria punya respons berbeda ketika tubuhnya dipermalukan. Mereka cenderung lebih tenang ketika menghadapi negativitas bentuk tubuh.

Hal ini agak berbeda dengan respons wanita yang biasanya langsung kehilangan kepercayaan diri secara total. Bahkan, sampai ada yang depresi dan meluapkannya di depan orang banyak.

Kendati begitu, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan, di balik respons tenangnya, para pria sebenarnya juga merasakan sakit hati dan stres.

“Hanya saja, pria punya pengelolaan stres yang bentuknya mencari dukungan sosial lingkungan sekitar, mencari tindakan apa yang bisa dilakukan, dan kadang langsung bersikap konfrontatif,” jelas Ikhsan.

“Misalnya, saat ada yang mengejek, ia langsung melakukan perlawanan ke orang tersebut sehingga tak ada perasaan yang dipendam. Orang yang melakukannya pun jadi langsung tahu, apa yang dilakukan barusan tidak disukai.”

“Di sisi lain, kalau ejekan datang dari temannya sendiri, mereka juga bisa menerima dengan lebih santai dan menjadikannya bahan bercandaan. Kalau memang tak suka atau sudah kelewat batas, biasanya mereka langsung memberi jarak pada yang mengejeknya,” ungkap Ikhsan.

Beda dengan wanita yang biasanya terlihat baik-baik saja, tetapi ternyata perasaan sakit hatinya dipendam.

Artikel lainnya: Jangan Remehkan, Body Shaming Bisa Picu Stres

2 dari 4 halaman

Efek Body Shaming pada Pria

Ada kalanya bila sudah berlebihan, hal-hal terkait penampilan memengaruhi psikis para pria. Pada akhirnya, kepercayaan dirinya memudar. Mereka pun jadi sangat malu ketika harus telanjang di depan pasangannya sendiri.

Semua perasaan negatif yang dimiliki bisa menimbulkan disfungsi seksual, terutama masalah disfungsi ereksi. Karena terlalu fokus pada penampilan yang tidak sempurna, mereka jadi enggan berhubungan seks.

Sekalinya berhubungan seks, performa mereka juga bisa tidak maksimal karena diselimuti perasaan malu, meski pasangannya fine-fine saja dengan kondisi tubuh si pria. Akhirnya, ereksi juga tidak maksimal.

Akibat kondisi tersebut, pada akhirnya baik pria maupun wanita sama-sama tidak mendapat kepuasan. Kalau hal seperti itu terus terjadi, bukan tak mungkin keharmonisan terganggu.

Tak berhenti di situ, bentuk tubuh pria yang sering diejek bisa memunculkan keinginan untuk melakukan perubahan dengan cara yang tidak aman dan tidak sehat. Bukan tak mungkin bila ada pria yang jadi kecanduan operasi plastik.

Artikel lainnya: Anak Jadi Korban Bullying, Apa Yang Harus Dilakukan?

3 dari 4 halaman

Hentikan Body Shaming kepada Siapa Pun!

Psikolog Ikhsan menyarankan kita untuk memahami, segala sesuatu yang bisa menyinggung seseorang harus dihindari.

Gunakan sudut pandang terbalik. Kalau kita yang diperlakukan seperti itu, apakah nyaman? Kalau tidak, jangan lakukan kepada orang lain!

Ketimbang terus-menerus meledek, lebih baik pakai cara yang halus. Tanpa menyinggung fisiknya, langsung saja ajak rekan Anda berolahraga bersama.

Kalau soal tatanan rambut, Anda juga bisa langsung mengajaknya ke barber shop yang memang punya style bagus.

Semua yang dilakukan bersama-sama jarang menimbulkan sakit hati. Karena, “tuntutan” perubahan itu tidak ditujukan hanya untuk satu orang. Lagipula, lebih bahagia kalau sama-sama tampil keren, kan?

Body shaming pada wanita maupun pria sama-sama tidak baik. Jadi, sebisa mungkin hindari hal-hal yang berhubungan dengan fisik seseorang. Apalagi sampai menjadikannya bahan gunjingan.

Bila ada pertanyaan seputar kesehatan mental, langsung konsultasikan kepada psikolog lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar