Sukses

Ketahui Fakta Reinfeksi Virus Corona!

Berita tentang pasien yang mengalami reinfeksi virus corona mulai meresahkan. Lalu, hal apa saja yang perlu diketahui soal masalah tersebut?

Sudah sembuh dari COVID-19 pasti bikin lega. Tapi, bagaimana bila ternyata kita tetap berisiko kena penyakit yang sama dua kali alias reinfeksi virus corona?

Perasaan leganya kemungkinan besar akan hilang. Kondisi seperti itu pada kenyataannya memang benar-benar terjadi dan bikin bingung para penyintas maupun orang-orang yang belum pernah terinfeksi.

Kasus Reinfeksi Virus Corona

Kasus pertama reinfeksi COVID-19 terjadi di Hong Kong dan dialami pria berusia 33 tahun. Ya, bukan lansia, tetapi orang muda dan produktif yang mengalaminya!

Lalu, bagaimana dengan kasus reinfeksi virus corona di Indonesia? Nah, menurut Pandemic Talks, di Indonesia sendiri belum ada laporan mengenai kasus tersebut.

Bisa saja fenomenanya seperti fenomena gunung es, terlihat tidak ada di permukaan, padahal ada dan besar di dalamnya.

Sampai tanggal 3 November 2020, sudah ada 24 kasus reinfeksi di berbagai negara dengan 1 pasien meninggal dunia. Pasien tersebut adalah seorang wanita lansia berusia 89 tahun berkewarganegaraan Belanda.

Lima puluh sembilan hari pasca sembuh, ia terinfeksi COVID-19 untuk kedua kalinya dengan gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Wanita itu diketahui juga memiliki penyakit kanker darah dan tengah mendapatkan pengobatan kemoterapi.

Kombinasi antara COVID-19 dan penyakitnya, ditambah kemoterapi yang bisa menurunkan sistem kekebalan tubuhnya, diduga menjadi penyebab meninggalnya lansia tersebut.

Artikel Lainnya: Perlengkapan Medis Rumahan untuk Bantu Lawan Virus Corona

1 dari 3 halaman

Reinfeksi Bisa Terjadi Akibat Antibodi Menurun

Sementara itu, dr. Dyah Novita Anggraini menjelaskan hal seperti itu memang mungkin saja terjadi.

“Di jurnal terbaru, memang antibodi orang yang pernah kena COVID-19 bisa berkurang dalam kurun waktu enam bulan. Setelah enam bulan, apa ia bisa terinfeksi virus corona lagi? Jawabannya, bisa saja,” jelas dokter yang kerap disapa dr. Vita itu.

“Karena, COVID-19 jenis penyakit yang unik. Sampai saat ini, penelitian mengenai virus SARS-CoV-2 ini masih dilakukan.”

Dokter Vita menambahkan, “Kondisi ini memang agak beda dengan penyakit lain. Kalau yang lainnya kan bila sudah pernah terinfeksi akan terbentuk antibodi sehingga nggak akan terpapar lagi. Kalau COVID-19 bisa, karena itu ada yang namanya reinfeksi virus corona.”

Artikel Lainnya: Cegah Stigma, Infeksi Virus Corona Bukan Aib!

Common Cold Bisa Jadi Gejala Reinfeksi Virus Corona

Reinfeksi berbeda dengan reaktivasi. Reinfeksi adalah tubuh terinfeksi untuk kedua kalinya oleh virus yang sama.

Sedangkan, reaktivasi adalah virus tersebut sebenarnya masih ada di dalam tubuh. Tetapi, seperti “menunggu” atau memberi jeda waktu untuk kambuh kembali.

Melansir Pandemic Talks, gejala reinfeksi virus corona bervariasi. Ada yang lebih berat, tapi ada juga yang tanpa gejala.

Rata-rata waktu atau rentang waktu infeksi pertama ke infeksi kedua adalah 74 hari.

Hampir separuh (41,6 persen) dari kasus tersebut merasakan gejala yang lebih berat dari infeksi pertama. Sedangkan, hanya 16,67 persen yang mengalami gejala lebih ringan.

Sebanyak 20,83 persen menunjukkan keparahan yang sama dari infeksi pertama. Sebenarnya, jenis virus corona lainnya sudah terbukti dapat menyebabkan reinfeksi dengan gejala common cold.

Namun untuk virus SARS-CoV-2 ini, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut terkait respons antibodi.

Yang jelas, dengan adanya kasus reinfeksi, kita tidak bisa mengandalkan herd immunity. Kekebalan masih sulit terjadi meski sebagian besar orang sudah terinfeksi.

Artikel Lainnya: Hati-hati Virus Corona, Ini Pertolongan Pertama untuk Mengatasinya

2 dari 3 halaman

Apakah Reinfeksi Pengaruhi Pengembangan Vaksin?

Kejadian reinfeksi disebut-sebut tidak berpengaruh terhadap pengembangan vaksin yang sudah ada dan sedang berjalan.

Mutasi yang sudah terjadi pun bukan halangan vaksin untuk memberikan perlindungan. Kendati demikian, dr. Vita menjelaskan pada akhirnya vaksin nanti hanya memberikan kekebalan tubuh sementara saja.

Karena itulah, yang paling penting dilakukan semua orang adalah tetap melaksanakan protokol kesehatan.

Pakai masker, tidak berada di kerumunan, berada di area yang sirkulasinya baik, serta rutin mencuci tangan dan menyemprotkan disinfektan benda-benda yang sering dipakai merupakan kunci.

Apa yang Harus Dilakukan Penyintas agar Tak Kena Reinfeksi?

Ada beberapa hal yang direkomendasikan agar para penyintas bisa menjauhkan diri dari reinfeksi COVID-19, yaitu:

  • Tekankan di pikiran Anda, reinfeksi COVID-19 nyata dan bisa terjadi pada siapa saja.
  • Tetap menerapkan protokol kesehatan di mana pun dan kapan pun.
  • Apabila tiba-tiba muncul gejala tak enak badan seperti gejala infeksi pertama, segera memeriksakan diri ke dokter.

Itu dia sejumlah fakta seputar reinfeksi virus corona. Ada baiknya Anda tetap mengikuti protokol kesehatan agar tak terinfeksi coronavirus.

Bila Anda ada pertanyaan seputar COVID-19, segera konsultasikan kepada dokter lewat fitur LiveChat 24 jam di aplikasi Klikdokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar