Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Vaksin Oral Polio Tidak Direkomendasikan WHO, Ini Alasannya

Vaksin Oral Polio Tidak Direkomendasikan WHO, Ini Alasannya

Ada dua jenis vaksin polio, yakni oral atau suntik. Akan tetapi, WHO baru-baru ini tidak merekomendasikan pemberian vaksin polio oral. Apa alasannya?

Vaksin polio menjadi salah satu imunisasi wajib diberikan pada anak-anak demi menghindari penyakit polio. Biasanya diberikan secara tetes lewat mulut (oral) dan suntik secara bergantian. 

Akan tetapi, sebuah kabar muncul dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), bahwa vaksin oral tidak direkomendasikan. Bagaimana bisa? Selanjutnya, apa tanggapan dokter terkait hal ini?

1 dari 3 halaman

Mengenal Vaksin Polio

Meski menjadi penyakit yang melumpuhkan dan berpotensi mematikan, polio sebenarnya dapat dicegah dengan pemberian vaksin. 

Kalau di Amerika Serikat, seperti dilansir dari CDC, inactivated polio vaccine (IPV) adalah satu-satunya vaksin polio yang diberikan sejak tahun 2000. Vaksin ini diberikan dengan suntikan di lengan atau tungkai, tergantung usia.

Selain IPV, ada juga vaksin polio oral atau oral polio vaccine (OPV) yang banyak digunakan di negara lain, termasuk Indonesia.

"Anjuran dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), vaksin polio diberikan secara oral (OPV) ditambah setidaknya satu kali IPV, ini yang lewat injeksi," ujar dr. Devia Irine Putri

Dia menambahkan, bayi dianjurkan untuk diberikan lima kali vaksin polio. Yang pertama, vaksin polio oral diberikan saat pulang dari rumah sakit setelah lahir. 

“Selanjutnya, pemberian vaksin polio 1 di usia 2 bulan, polio 2 usia 3 bulan, polio 3 usia 4 bulan, polio 4 usia 18 bulan (booster). Kalau ditanya kapan harus diberikan polio suntik, tidak ada patokannya. Tapi, setidaknya 1 kali suntik selama vaksin polio itu,” ujar dr. Devia.

Sejak beberapa dekade, pemberian vaksin oral polio tampaknya tidak ada masalah dan menimbulkan efek samping. Terbukti Indonesia dinyatakan bebas polio pada tahun 2014. 

Artikel Lainnya: Yuk, Ketahui Jarak dan Jadwal Imunisasi Anak

2 dari 3 halaman

Mengapa Vaksin Polio Oral Tidak Direkomendasikan WHO?

Akan tetapi, belakangan, WHO menyebutkan kalau vaksin polio oral tak lagi direkomendasikan. Apa latar belakangnya?

Beberapa laporan menyebutkan kalau pemberian vaksin oral polio berisiko menyebabkan kelumpuhan. Salah satunya yang dilaporkan T Jacob John, seorang dokter anak di India.

India telah bebas dari virus polio liar sejak 2011. Namun, Kementerian Kesehatan setempat tidak pernah merilis data tentang kelumpuhan polio terkait vaksin, efek samping langka OPV.

John bersama koleganya juga telah menerbitkan analisis tersebut dalam Indian Journal of Ethical Issues

Dia menunjukkan, di hampir 40 negara, pemerintah telah lama menghentikan OPV karena risiko polio yang terkait dengannya.

Makalah tersebut juga menyoroti bahwa dalam lima tahun terakhir, secara global, kasus polio yang disebabkan oleh virus vaksin telah melebihi jumlah kasus polio yang disebabkan oleh virus polio liar.

Artikel Lainnya: Wajib Tahu, Ini 5 Vaksin yang Ditanggung BPJS Kesehatan!

Lantas, apa tanggapan dokter soal efek samping vaksin polio oral ini?

“Alasan yang mendasari mengapa OPV tidak disarankan lagi karena adanya laporan terjadinya kasus vaccine associated paralysis poliomyelitis. Ini disebabkan oleh virus polio tipe 2,” ujar dr. Devia.

"Kedua vaksin polio, oral dan injeksi, selama ini saling melengkapi. Vaksin oral mencegah polio tipe 1 dan 3. 

Dulu ada tipe 2 (virus polio liar) tapi sekarang sudah tidak ditemukan lagi sejak tahun 1999," kata dr. Devia Irine.

Dia menambahkan, kedua jenis vaksin tersebut juga membentuk kekebalan yang berbeda. 

Vaksin oral, menurut dr. Devia, akan membentuk kekebalan di usus, sedangkan vaksin suntik akan membentuk kekebalan di darah.

“Itu sebabnya, di negara yang masih ada transmisi polio liar, maka bayi dan balita harus tetap diberikan vaksin oral agar ada kekebalan di usus. Tapi kalau 5 tahun atau lebih tidak ditemukan virus polio liar dalam tubuh balita, maka bisa bertahap menggunakan polio suntik,” ucap dia.

Itulah sebabnya, hingga saat ini IDAI masih menganjurkan untuk tetap memberikan vaksin polio oral dan minimal 1 kali vaksin polio suntik (IPV) pada anak.

Di lain sisi, kasus yang dilaporkan tidak selalu muncul pada anak yang divaksin. Itu artinya, penelitian pada area yang lebih luas dan mendalam harus dilakukan menyoal efek vaksin polio oral tersebut.

Jangan sampai si kecil ketinggalan vaksin ya, bun! Manfaatkan Kalender Imunisasi dari Klikdokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar