Sukses

Menjadi Bapak Rumah Tangga di Tengah Stigma Negatif

Joshua, seorang bapak rumah tangga, bercerita soal tekanan yang dihadapi untuk menjalani peran tersebut. Simak kisahnya di sini.

Joshua, bukan nama sebenarnya, masih ingat peristiwa beberapa tahun lalu itu. Suatu hari, tiba-tiba Sang Kakak menasehatinya, "Laki-laki itu kerja, Lae (panggilan untuk pria dalam bahasa Batak)."

Saat itu Joshua sedang tidak bekerja. Kesehariannya dihabiskan di rumah. Saban pagi dan siang ia mengantar-jemput anak ke sekolah.

Di sisa hari, Joshua tenggelam dalam urusan domestik. Membersihkan rumah, mencuci pakaian, dan memberi makan anak, merupakan kesibukannya sehari-hari.

Pada 2009, Joshua membuat keputusan besar: menjadi bapak rumah tangga. Saat itu, Ibunya mulai kerepotan harus sendirian mengasuh anak Joshua setiap hari.

Joshua terpaksa menitipkan anaknya karena belum mendapat asisten rumah tangga yang pas. "Biasanya ART cuma bertahan satu bulan, datang dan pergi," kenangnya.

Di sisi lain, kondisi kantor tempatnya bekerja sebagai desainer interior kebetulan tengah terpuruk. Deretan faktor-faktor tersebut membuat Joshua berhitung.

Setelah berdiskusi dengan istrinya, ia memutuskan berhenti bekerja. Joshua akan mengurus rumah, sementara istrinya tetap bekerja.

"Dari karier, yang bisa lebih berkembang itu istri. Desainer interior itu kan bisa bekerja di luar kantor. Saya juga pengen usaha yang bisa dikerjakan dari rumah," kata Joshua menjelaskan rencananya waktu itu. 

Singkatnya, ia begitu menikmati periode awal mengurus rumah. Baginya, bisa bangun siang dan mengatur waktu sendiri merupakan kemewahan. 

Frekuensi interaksinya mengasuh anak juga tidak terganggu keharusan berangkat ke kantor. Joshua merasa punya banyak ruang untuk mendidik anak.

Artikel lainnya: Waspada, Masalah Rumah Tangga Bisa Ganggu Kesehatan Pria!

"Gua pengen bentuk anak seperti yang gua inginkan," katanya soal cita-citanya menjadi bapak rumah tangga.

Sembari menjadi sibuk dengan urusan rumah, Joshua merintis bisnis. Tapi usahanya itu hanya bertahan tiga tahun.

Perkembangan teknologi, menurut dia, menjadi penyebab bisnisnya berhenti. Ia tergilas kemajuan karena gagal mengikuti tren. 

Joshua akhirnya hanya mengerjakan proyek-proyek lepas yang tidak tentu kapan datangnya. Pengeluaran rutin rumah tangga semuanya sepenuhnya ditanggung sang istri.

Joshua tidak ada masalah dengan hal itu. Terlebih, pembagian peran Joshua mengurus rumah tangga sudah menjadi kesepakatan mereka berdua.

1 dari 2 halaman

Dianggap Tidak Lazim

Tapi bagi sebagian orang, pria yang mengurus rumah tangga bukan perkara lazim. Ada stigma negatif terhadap pria yang mengurus rumah tangga. Maka, tak heran Joshua mendapat cibiran dan omongan nyinyir.

Banyak juga orang yang mendesaknya kembali bekerja. Tidak cuma sang kakak, mertuanya pun pernah meminta Joshua bekerja lagi. "Yang paling pedes babe gua aja, sampe ada kata kasar," kata Joshua setengah berseloroh.

Apalagi dia berasal dari lingkungan tradisi Batak yang menempatkan laki-laki sebagai tulang punggung keluarga. Jangan kan dari orang sekitar, pernah suatu kali anaknya juga menanyakan kenapa Joshua tidak bekerja.

Mungkin ia membandingkan dengan ayah teman-temannya yang bekerja. Joshua hanya memberikan pengertian kepada anaknya.

Artikel Lainnya: Masalah Rumah Tangga yang Muncul setelah Punya Anak

Ia sendiri tidak merasa minder atau tersinggung dengan omongan orang terhadap dirinya. Menurutnya, totalitasnya mengurus anak, toh, sudah membuahkan hasil.

"Karena apa yang gua curahin ke anak jadi. Anak gua jadi bisa main musik, kalau gua ke pesta, anak gua, gua suruh main," ia berujar.

Sepuluh tahun lamanya Joshua menjadi bapak rumah tangga. Pada 2019, ia baru mulai bekerja kantoran lagi.

Tapi faktor pendorongnya kembali bekerja bukan karena omongan orang. Ia punya pertimbangan ekonomi.

Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., pada prinsipnya pertukaran peran mencari nafkah antara suami dan istri bukan sebuah masalah. Asalkan, keputusan itu diambil kedua belah pihak.

Dengan demikian, suami dan istri sama-sama tahu konsekuensinya. Namun, ia mengingatkan faktor budaya dan nilai pada keluarga dan lingkungan sekitar juga harus dipertimbangkan.

Anggapan miring orang kepada peran bapak rumah tangga pasti ada. "Ingat, itu adalah hal yang tidak dapat kita kontrol," kata Ikhsan.

Ia menggarisbawahi pentingnya komunikasi dengan pihak luar. Mereka, lanjut dia, perlu tahu alasan kenapa keputusan pertukaran peran itu diambil.

Tak hanya di sisi suami, pertukaran peran juga kemungkinan membuat istri tertekan. Periode awal, kata Ikhsan, biasanya berat dan butuh adaptasi.

Bagi pasangan yang memutuskan perubahan peran tersebut, ia menyarankan agar terus mengingat komitmen dan pertimbangan kenapa keputusan itu diambil. Hal tersebut akan membuat pasangan lebih tangguh menghadapi omongan orang.

"Karena kalau kita ikutin apa yang orang lain sampaikan itu yang ada malah membuat kita stres, sih," saran Ikhsan.

Untuk tahu informasi kesehatan lainnya, baca terus artikel kesehatan di aplikasi Klikdokter. Anda bisa berkonsultasi kepada dokter lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter.

(JKT/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar