Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Suka Nonton Film Porno Bisa Jadi Tanda Gangguan Narsistik

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Suka Nonton Film Porno Bisa Jadi Tanda Gangguan Narsistik

Nonton film porno sesekali sah-sah saja. Namun, kalau sampai menjadikannya kebutuhan primer, jangan-jangan Anda penderita gangguan narsistik!

Apa yang pertama kali terlintas di pikiran Anda ketika mendengar istilah gangguan narsistik?

Mungkin, tak sedikit yang langsung memikirkan kebiasaan membangga-banggakan diri sendiri, mengharap pujian konstan, dan tak bisa menerima penolakan.  

Tak salah memang. Sebab, gangguan narsistik merupakan gangguan kepribadian yang membuat seseorang merasa harus dan wajib menjadi sentral dari semuanya. 

Pernahkah Anda berpikir bahwa gejala gangguan narsistik juga bisa dilihat dari kebiasaannya dalam menonton film porno? 

1 dari 4 halaman

Apa Hubungan Gangguan Narsistik dan Nonton Film Porno?

Seorang psikolog klinis bernama dr. Ramani Durvasula sempat membahas hubungan antara penderita gangguan narsistik dan kebiasaan nonton film porno. 

Menurutnya, pornografi memang menjadi perhatian dari orang-orang dengan gangguan narsistik. Rancangan narsisme yang dimiliki mereka sangat cocok dengan apa yang diberikan oleh pornografi. 

“Salah satu kekurangan yang dimiliki oleh pemilik sifat narsis adalah mereka tidak peduli dengan keintiman,” kata Durvasla, seperti dilansir dari Men’s Health.

“Bagi orang narsistik, hubungan yang mereka lakukan sebagian besar berfungsi untuk mengatur harga diri mereka. Hubungan yang dijalin pun tidak benar-benar tentang cinta, timbal balik, rasa hormat, atau mutualitas,” kata dia lagi.

Artikel Lainnya: Kiat agar Anak Tak Terpapar Konten Bernuansa Seks

Jika dilihat dari sudut pandang yang sehat, Durvasula berpendapat bahwa seks adalah cara untuk mengungkapkan ketertarikan, cinta, dan hubungan. 

"Tapi itu tidak berlaku bagi orang narsistik. Bagi mereka, seks adalah kekuasaan, kepuasan, kontrol, kinerja, dan validasi. Dan pornografi memberikan semua itu. Film porno menjadi bahan yang bisa dikonsumsi sesuai permintaan dan selera,” jelasnya. 

Film porno tidak membutuhkan empati, tidak perlu koneksi antara dua orang, dan tidak ada timbal balik. Film tersebut “dangkal” dan secara visual sangat menampilkan kontrol dan kekuasaan. 

Tidak ada permintaan dan semuanya tentang kepuasan. Kondisi ini sangat cocok buat orang dengan gangguan narsistik.

Karena itulah, psikolog klinis tersebut berpendapat, mereka akan jauh lebih sering nonton film porno daripada orang dewasa normal. 

Artikel Lainnya: Ini Dampak Keseringan Nonton Film soal Tindak Kriminal

2 dari 4 halaman

Bagaimana Efek Film Porno pada Kehidupan Seksual Orang Narsistik?

Kendati bisa menjadi penanda, Ikhsan Bella Persada, M.Psi.,Psikolog mengingatkan bahwa kondisi di atas tidak bisa menjadi satu-satunya indikasi dari gangguan narsistik. 

Senada dengan Durvasula, Ikhsan berpendapat, “Memang, ketika orang tersebut nonton film porno, akan ada kepuasan yang berpusat pada diri sendiri. Itulah yang membuatnya ada kecenderungan narsistik.”

Ketika kebiasaan tersebut sudah sangat-sangat berlebihan, kemungkinan besar kehidupan seksualnya bersama pasangan juga terpengaruh. 

“Orang ini akan menuntut pasangannya untuk memenuhi kepuasan seksualnya. Dari adiksi pornografinya sendiri, dia akan punya fantasi seksual yang tinggi. Padahal, apa yang ada di film itu berbeda dengan aktivitas seksual nyata,” jelas Ikhsan. 

Hal yang lebih mengherankan, saat ditegur, kemungkinan besar si narsis akan menyalahkan pasangannya karena tak mampu memberi kepuasan.

Bahkan, dia juga bisa berdalih bahwa pornografi merupakan alternatifnya untuk menghindari selingkuh. Alhasil, hubungan yang kerap dijalaninya pun cuma bertahan sebentar saja.

Artikel Lainnya: Terapi untuk Remaja yang Kecanduan Pornografi

3 dari 4 halaman

Apa Kebiasaan Tersebut Perlu Diatasi?

Karena kebiasaan ini sudah sampai mengganggu kehidupan pribadinya, tentu adiksi dan gangguan kepribadiannya perlu ditangani tenaga profesional.

Ikhsan menerangkan, “Baik gangguan narsistik dan adiksi terhadap pornografi, keduanya memang membutuhkan treatment panjang.”

Lalu, mana yang perlu diatasi lebih dulu? 

“Lebih baik fokus untuk mengatasi adiksi nonton film pornonya dulu. Kondisi tersebut harus diterapi supaya dia tidak terus-menerus mencari pemuasan diri ke pornografi. Si pasien akan dialihkan ke hal yang lebih positif. Setelah itu, barulah gangguan kepribadiannya yang diatasi,” sarannya. 

Jadi, benar bahwa adiksi atau kebiasaan berlebihan nonton film porno bisa menjadi tanda adanya kecenderungan gangguan narsistik.

Hal itu bisa sampai mengganggu kehidupan pribadi, terutama hubungan dengan pasangan.

Masih punya pertanyaan seputar gangguan kepribadian dan bagaimana cara menghadapinya?

Langsung saja konsultasikan hal tersebut pada dokter atau psikolog lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar