Sukses

Pusing Mana, Punya Pacar Playboy atau Womanizer?

Playboy dan womanizer, dua-duanya piawai soal menaklukan hati wanita. Namun, apakah salah satunya bisa lebih menyakiti? Ini jawaban dari psikolog.

Punya hubungan dengan pria bersifat baik memang bikin tenang. Kondisi seperti itu tentu sangat berkebalikan jika Anda menjalin hubungan dengan seorang playboy atau womanizer.

Keduanya memang punya reputasi yang kurang baik soal percintaan. Namun bagi beberapa wanita, punya pacar playboy atau womanizer malah menjadi tantangan tersendiri.

1 dari 3 halaman

Apa Itu Playboy dan Womanizer?

Dekat dengan wanita bukan hal baru untuk playboy dan womanizer. Bahkan, menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, keduanya sama-sama tidak bisa memberikan komitmen dalam menjalin hubungan asmara. 

Playboy merupakan sosok pria yang suka gonta-ganti pasangan. Mereka rela mengeluarkan usaha lebih demi mendapatkan targetnya. 

“Ketika seorang playboy menjalin hubungan, tujuannya memang hanya untuk bersenang-senang,” jelas Ikhsan. 

Seorang playboy bisa sangat terlihat mencintai dan menginginkan Anda ketika masih pendekatan. 

Namun ketika sudah termiliki, hasratnya sudah terpuaskan sehingga perilakunya akan berubah dan cenderung menyia-nyiakan pasangannya. Pada saat Anda disia-siakan, “kasih sayangnya” sedang dibagikan kepada target selanjutnya. 

Artikel Lainnya: 7 Tanda Pria Tak Setia pada Pasangan

Bagaimana dengan womanizer? Menurut Ikhsan, womanizer umumnya sering bikin orang lain terbawa perasaan (baper), tetapi tidak sampai melanjutkan ke hubungan yang serius. 

“Bisa dibilang, pria womanizer lebih memberikan harapan palsu kepada wanitanya. Jadi, sekadar dekat tapi tidak dilanjutkan lagi,” tutur Ikhsan. 

Seorang womanizer biasanya lebih sedikit “berusaha” ketimbang playboy. Tanpa effort berlebih, pria womanizer sudah menjadi magnet bagi para wanita. 

Mereka umumnya tidak terlalu tampan, tetapi memiliki sex appeal yang tinggi. Sedangkan playboy, hasrat berburunya jauh lebih tinggi dan lebih eye catching

Saat sudah menjalin hubungan, womanizer tak seperti playboy yang akan langsung mencampakan target lamanya ketika menemukan yang baru.

Womanizer memiliki cara yang lebih halus dan bisa saja seperti tidak terjadi apa-apa. Mereka biasanya tetap spesial dalam memperlakukan pasangan, meski sedang tertarik dengan wanita lain. 

Kalau putus atau sekadar dekat lalu tak “jadian”, pria womanizer biasanya bisa mengatur suasana, alasan, dan emosi sebaik mungkin. Alhasil, mereka bisa tetap berhubungan baik dengan mantan gebetannya atau pacarnya. 

Artikel Lainnya: Setia pada Pasangan Seksual Belum Tentu Bebas dari Kanker Serviks

2 dari 3 halaman

Mana yang Lebih Bikin Sakit Hati, Playboy atau Womanizer?

Menanggapi pertanyaan soal mana yang lebih “berbahaya”, begini jawaban Psikolog Ikhsan. 

“Bagi korban, keduanya bisa saja membuat sakit hati dan stres. Hanya saja, rasa kecewanya mungkin lebih besar untuk korban womanizer,” ujarnya.

“Kenapa? Karena si womanizer ini sudah memberikan harapan lebih dan kondisi kedekatan yang sangat nyaman buat lawan jenisnya. Jadi, ketika tahu hal yang sebenarnya, rasa tertipunya bisa lebih besar,” sambung Ikhsan. 

Sedangkan untuk pacar playboy, mereka telah mendapatkan perlakuan yang kurang baik ketika si pria sudah bertemu target baru. 

Dengan demikian, yang muncul pada diri pasangan adalah rasa marah dan benci. Ketika hubungan berakhir, itu justru melegakan. 

Bahkan, karena pengalaman yang menyebalkan itu, Anda yang pernah berpacaran dengan playboy jadi bisa mengajarkan cara menghadapi pria dengan sikap tersebut kepada teman-teman agar tak mengalami kondisi serupa. 

Artikel Lainnya: Berapa Lama Kita Bisa Sembuh dari Rasa Sakit Patah Hati? Ini Faktanya

Lain halnya dengan womanizer yang “perlakuannya lebih halus”. Meski merasa sangat kecewa dan sakit hati, Anda susah untuk marah dan benci. 

Meski demikian, bukan berarti pria playboy lebih baik dibandingkan womanizer. Keduanya sama-sama tidak baik soal komitmen. Hal tersebut biasanya disebabkan oleh pengalaman masa lalu mereka. 

Jika ditanya mana yang lebih berpotensi untuk berubah menjadi good guy, Ikhsan mengatakan itu sangat tergantung dari masing-masing pribadinya. 

“Mana yang lebih bisa berhenti dari kebiasaannya, itu kembali lagi ke individu dan seberapa dalam pengalaman masa lalu yang membentuk mereka hingga seperti itu,” tegas Ikhsan.

Tidak ada patokan pasti untuk cara memilih pacar. Walau begitu, Anda tetap harus waspada ketika sedang didekati oleh orang yang punya reputasi playboy dan womanizer. Anda tidak ingin berakhir tersakiti, bukan? 

Bila masih ada pertanyaan seputar hubungan dan kesehatan mental, Anda bisa langsung berkonsultasi pada ahlinya melalui LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar