Sukses

Wanita Suka Ngambek Lebih Berisiko Kena Bipolar?

Karena lebih sering mengalami perubahan mood yang cepat, wanita disebut-sebut lebih berisiko untuk mengalami bipolar. Benar atau tidak? Ini tanggapan psikolog.

Gangguan bipolar menjadi populer sejak banyak selebritas yang mengaku memiliki gangguan tersebut. Sebut saja Marshanda, Rachel Vennya, Medina Zein, Demi Lovato, Mariah Carey, hingga Selena Gomez. Waduh, wanita semua ya?

Apa jangan-jangan benar, karena wanita suka ngambek, mereka lebih berpotensi untuk kena bipolar?

1 dari 3 halaman

Menyingkap Risiko Bipolar pada Wanita

Dilansir dari Web MD, perubahan suasana hati yang ekstrem itu dialami lebih dari 10 juta orang Amerika. Gangguan tersebut memengaruhi pria, wanita, semua ras dan etnis, serta semua kelas sosial ekonomi.

Meskipun pria dan wanita sama-sama berisiko untuk mengalami bipolar, siklus perubahan suasana hati tersebut lebih sering terlihat pada wanita. Lalu, apa tanggapan psikolog mengenai hal tersebut?

“Sebenarnya, perempuan dan laki-laki punya potensi yang sama atau setara untuk punya risiko bipolar. Hanya saja, terdapat perbedaan episode bipolarnya,” jelas Ikhsan.

Pada wanita bipolar, episodenya diawali dengan depresif (kesedihan yang mendalam). Bahkan dilansir dari Bridges to Recovery, persentase wanita yang mengalami episode depresif sampai 75 persen.

Artikel lainnya: Kebiasaan Bohong Gejala Bipolar?

Sementara pada pria bipolar, kebanyakan episodenya diawali dengan mania atau manik (gembira).

Episode kegirangan atau terlalu bersemangat pada pria kerap tak terdeteksi sebagai bipolar oleh orang awam. Mungkin ini karena kebanyakan orang menganggap bahwa keceriaan itu hal yang wajar.

Beda halnya dengan ekspresi kesedihan. Orang-orang pasti langsung peka terhadap kondisi tersebut sehingga wanitalah yang dianggap lebih berisiko mengalami gangguan bipolar.

Sementara itu, hormon diketahui memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kesehatan mental, terutama pada penderita gangguan bipolar. Fluktuasi hormon yang dialami wanita selama siklus menstruasi dan reproduksinya ternyata memengaruhi keparahan gejala bipolar.

Gangguan bipolar dapat memburuk selama fase tertentu, misalnya fase pramenstruasi, menstruasi, menjelang menopause, dan menopause. Bahkan, 70 persen wanita dengan gangguan bipolar mengalami perburukan suasana hati yang luar biasa saat hendak haid.

Lalu, menopause dan menurunnya hormon estrogen karena usia juga berdampak serius pada wanita bipolar. Mereka akan sering mengalami gejala suasana hati yang intens, terutama depresi. Risikonya makin tinggi bila si wanita tidak memanfaatkan terapi hormon.

Artikel lainnya: Kenali Tanda dan Pencegahan Bunuh Diri pada Pengidap Bipolar

2 dari 3 halaman

Apakah Sering Ngambek Jadi Tanda Bipolar pada Wanita?

Ngambek atau cranky sendiri artinya perasaan tidak nyaman atau aneh yang ditunjukkan lewat perilaku, ekspresi (cemberut), keluhan, ocehan (marah), dan tak jarang lewat tangisan.

Ketika seseorang sedang cranky, dia akan mudah tersinggung dengan hal-hal kecil yang sebenarnya “biasa saja”. Dengan kata lain, tanggapannya tidak proporsional dengan pemicunya.

Dilansir dari Healthline, lekas marah dan mudah tersinggung merupakan emosi yang sering dialami oleh penderita gangguan bipolar. Orang tersebut sering kali marah pada tindakan orang lain, meskipun itu dilakukan untuk membantunya.

Perasaan marah itu kadang juga tidak diketahui muncul dari mana. Tak jarang, hal itu sampai mengganggu hubungannya dengan pasangan, sahabat, dan keluarganya sendiri.

Lantas, apakah sering ngambek itu bisa jadi gejala bipolar pada wanita? Pada akhirnya, kita tidak bisa melakukan diagnosis sendiri tanpa pengawasan arahan psikolog maupun dokter.

Tanpa beberapa cara diagnosis yang tepat dari ahlinya, masalah mental seseorang cukup sulit untuk diketahui.

Bisa saja ketika seseorang mudah tersinggung dan ngambekan, sebenarnya dia tidak mengalami gangguan bipolar. Bisa jadi wanita tersebut hanya sedang memiliki masalah berat, tidak sedang enak badan, atau bahkan hanya sekadar lapar.

Kini Anda sudah tahu kan bahwa baik pria maupun wanita sama-sama berpotensi untuk mengalami gangguan bipolar. Gejala yang ditampilkan oleh wanita memang bisa lebih parah karena pengaruh hormon.

Selain itu, tak perlu lagi menggeneralisasi suka ngambek sebagai salah satu gejala bipolar pada wanita. Lebih baik lakukan konseling dan pemeriksaan dulu dengan psikolog ataupun psikiater.

Bila masih ada pertanyaan seputar kesehatan mental, langsung saja konsultasikan kepada dokter dan psikolog lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar