Sukses

MedFact: Fakta di Balik TikTok Syndrome pada Remaja

Badan suka gerak sendiri kini dianggap sebagai TikTok Syndrome. Tapi, apa iya media sosial yang satu itu bisa sampai memicu penyakit? Cek dulu faktanya di sini!

Pernah dengar soal TikTok syndrome? “Penyakit” itu ramai dibahas di media sosial belakangan ini. Warganet mengaitkannya dengan orang-orang yang tubuhnya suka gerak-gerak sendiri meski sedang tidak berjoget atau membuka platform buatan Tiongkok tersebut. 

TikTok sendiri memang dikenal sebagai wadahnya orang-orang yang suka mengekspresikan diri lewat berbagai gerakan. Meski kini variasi konten TikTok sudah banyak sekali, tetapi unsur dance-nya tetap menjadi ciri khas. 

1 dari 4 halaman

Berawal dari 3 Remaja yang Akui Kena TikTok Syndrome

Untuk menghafal dan membuat sebuah konten dance, penggunanya pasti melakukan latihan berkali-kali. 

Belum lagi ditambah dengan musik-musik pendeknya yang adiktif. Wah, buat sebagian orang, hal itu memang bikin mereka susah lepas dari TikTok!

Buntut dari keranjingan itu adalah beredarnya sebuah video dari tiga remaja, yaitu Santika Rahmi, Kesar, dan Renaldi yang mengaku mengalami TikTok syndrome

Tubuh mereka refleks suka bergerak-gerak sendiri meski sedang tidak berjoget (tidak bisa mengontrol tubuh). Kondisi tersebut dirangkum dalam satu video dan diviralkan oleh akun bernama Bundanya Ayu di Facebook. 

Ada yang menganggap hal itu sebagai candaan saja. Tapi, tak sedikit juga yang menganggap serius, khususnya kalangan orang tua yang khawatir terhadap anak remajanya yang menggunakan TikTok.

Artikel lainnya: Depresi Akibat Media Sosial, Apakah Mungkin?

2 dari 4 halaman

Apa Kata Dokter, Fakta atau Mitos?

Menanggapi soal “penyakit” TikTok syndrome yang sedang viral, begini tanggapan dan penjelasan dr. Devia Irine Putri. Menurutnya, penyakit dan penyebab sindrom TikTok tidak ada dalam dunia medis. 

Lagipula, kalau kita melihat video Facebook tersebut, sudah ada label false information, sehingga Anda tak perlu memercayainya. Bisa saja ketiga remaja tersebut hanya membuat konten bercandaan, tetapi akhirnya dianggap serius oleh segelintir orang. 

Kendati demikian, kondisi tubuh bergerak sendiri di luar kendali memang ada dalam dunia kedokteran, tetapi namanya bukan TikTok Syndrome. Kondisinya pun berbeda dengan apa yang ditampilkan dalam video (bukan menampilkan potongan-potongan gerakan joget).

“Kalau memang tubuhnya bergerak sendiri, itu mengarah ke masalah kesehatan yang lebih serius. Misalnya, kondisi tardive dyskinesia, yaitu kondisi munculnya gerakan involunter seperti meringis, menghentak-hentakkan kaki, atau menggoyangkan bahu,” jelasnya. 

Dokter Devia menambahkan, “Kondisi ini merupakan akibat efek samping obat-obatan neuroleptik yang mencangkup obat antipsikotik untuk yang punya masalah kejiwaan. Lalu, ada juga yang namanya Tourette syndrome.”

Tourette syndrome merupakan kondisi neuropsikiatri yang membuat penderitanya bisa mengeluarkan kata-kata atau gerakan spontan. Kata atau gerakan yang dikeluarkan sifatnya berulang dan tidak disadari. 

“Kondisi ini kalau tidak langsung diterapi biasanya akan membuat penderitanya malu, depresi, dan mengasingkan diri. Karena, bisa saja kata atau gerakan spontan yang muncul tak mengenal waktu dan kurang sopan,” dr. Devia melengkapi. 

Artikel lainnya: Berapa Lama Waktu Ideal Menggunakan Media Sosial dalam Sehari?

3 dari 4 halaman

Fenomena Kecanduan Media Sosial Baru menurut Psikolog

Senada dengan dr. Devia, Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, menegaskan penyakit TikTok syndrome adalah hoax belaka. 

“Sebenarnya fenomena booming-nya TikTok hanya sebagai sarana hiburan. Banyak orang yang menjadikan TikTok sebagai sarana mereka mengekspresikan diri, lalu untuk mendapat perhatian dari jumlah views, like, dan share. Jadi, kembali lagi kepada setiap individu, tujuannya untuk apa,” jelasnya. 

Jika ada orang yang sampai mengaku kecanduan TikTok, maka hal itu masuk ke kategori kecanduan media sosial pada umumnya. 

Psikolog Ikhsan bilang, “Ciri-ciri utama kecanduannya adalah kalau mereka tidak membuka TikTok sebentar saja, mereka bakal cemas.”

“Tak cuma itu, kondisi tersebut juga bisa memicu gangguan kepribadian Histrionik.

Kenapa? Karena mereka benar-benar mencari perhatian di media sosial dan sangat berharap dapat pujian atas penampilannya dari orang lain.”

Dapat disimpulkan, tidak ada yang namanya penyakit TikTok syndrome. Apalagi dengan ciri menunjukkan beberapa potongan gerakan khas platform tersebut. 

Kendati cuma mitos, segala sesuatu yang dilakukan secara berlebihan itu tidak baik, termasuk main TikTok seharian penuh hingga aktivitas lain terhambat. 

Kondisi seperti itu malah akhirnya bikin Anda mengalami gejala kecanduan media sosial yang merugikan dan masalah psikis lainnya. 

Butuh fakta medis dan penjelasan soal masalah kesehatan lainnya? Download aplikasi KlikDokter dan gunakan layanan Live Chat 24 Jam bersama dokter kami. 

(FR/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar