Sukses

Kesalahan Pola Asuh Anak yang Bikin si Kecil Jadi Bossy

Heran dan kesal karena kini anak jadi suka memerintah alias bossy? Tunggu, bisa saja itu karena kesalahan pola asuh Anda. Coba cek di bawah ini!

Si kecil berubah sikapnya menjadi lebih sering memerintah (bossy)! Bahkan, dia juga melakukannya ke anak-anak dan orang dewasa lain. Jika lawannya menolak, anak malah semakin galak.

Duh, kalau sudah begini, apa ada yang salah dengan pola asuh anak yang telah dilakukan, ya?

1 dari 3 halaman

Tindakan yang Begini Bikin Anak Suka Memerintah

Jawabannya, ada. Menurut Gracia Ivonika, M.Psi.,Psikolog, ada beberapa kesalahan orang tua dalam mendidik anak sehingga buah hati mereka jadi bossy. Misalnya saja:

  • Orang Tua juga Sering Memerintah

Anak belajar dari lingkungan sekitar. Mereka mengamati, memproses, dan pada akhirnya mengikuti apa yang diamati. Ketika anak suka memerintah, jangan-jangan selama ini dia mengamati perilaku tersebut dari orang di sekitarnya, termasuk Anda. 

“Tidak selalu sikap langsung orang tua terhadap anak, bisa juga sikap orang tua terhadap asisten rumah tangga atau orang lain. Hal ini secara tidak langsung membuat anak belajar bahwa sikap itu adalah benar untuk dilakukan,” jelasnya. 

  • Terlalu Membiarkan atau Justru Terlalu Mengontrol

Studi menemukan, pengasuhan permisif (terlalu terbuka) berhubungan dengan perilaku bossy pada anak. 

“Di sisi lain, pengasuhan orang tua yang terlalu mengontrol anak dapat membuat mereka merasa kurang memiliki kontrol atas diri sendiri. Perilaku bossy pun ditunjukkan di luar rumah, misalnya kepada teman sekolahnya,” ucap psikolog yang kerap disapa Ivon itu. 

  • Sikap Dominan Dianggap Hal Positif

Hampir setiap orang tua senang dengan sikap percaya diri tinggi pada anak, apalagi jika buah hatinya masih kecil.

Sayangnya, terus-menerus membanggakan kepercayaan diri anak secara berlebihan dan tidak diarahkan dengan tepat, lama-kelamaan mendorong perilaku ke arah dominan dan suka memerintah. 

  • Menekan Anak untuk Jadi Sangat Cerdas

 

Anak dengan kapasitas kecerdasan yang tergolong sangat cerdas atau lebih, cenderung punya dorongan untuk mengambil alih kendali atas orang lain/situasi. Namun, bila anak diarahkan untuk memahami situasi, mengontrol diri, memikirkan orang lain, dan menempatkan diri dengan tepat, dorongan tersebut dapat disalurkan secara positif

  • Terlalu Kaku

Anak yang merasa terkekang, frustasi, dan insecure biasanya bisa berperilaku ngebos sebagai coping strategy atas hambatan dalam kebutuhan mereka.

Makin kaku dan dominan orang tua, makin besar juga risiko anak untuk bersikap sama seperti Anda. Dia cenderung tidak fleksibel, kurang empati, dan berusaha keras agar situasi sesuai dengan kemauannya.

Artikel lainnya: Melindungi Anak dengan Pola Asuh yang Tepat

2 dari 3 halaman

Bagaimana Caranya Mengontrol Perilaku Bossy pada Anak?

Kebiasaan sering memerintah ini bukanlah hal baik. Jika kesalahan orang tua dalam mendidik anak tidak segera disadari dan tidak diintervensi, kebiasaan tersebut bisa terbawa sampai dewasa. 

Beberapa langkah yang disarankan Ivon agar bisa memperbaiki pola asuh anak yang sebelumnya, yaitu:

  • Evaluasi Diri Dulu

Orang tua perlu mengevaluasi pengasuhan yang diterapkan selama ini. Tanya lagi dalam diri Anda, bagaimana kondisi anak sekarang? Dan apa sebenarnya kebutuhannya?

Pada anak yang lebih besar, orang tua dapat meluangkan waktu secara rutin untuk quality talk dan menjadi pendengar yang baik. 

  • Tidak Perlu Terpancing, Koreksi dengan Tegas dan Tenang

Saat anak bersikap ngebos, orang tua tidak perlu marah atau terpancing untuk bersikap bossy juga pada anak. Secara tegas tetapi tetap tenang, berikan pengarahan atas perilaku yang tepat untuk dilakukan anak. 

“Anda dapat menghampiri dan memintanya mengulangi perkataan dengan lebih sopan. Misalnya, pakai kata ‘tolong’, turunkan intonasi, dan tangan tidak perlu terangkat (bertolak pinggang, menunjuk, dll) karena itu bisa membuat orang lain tersinggung,” sarannya.

  • Ajarkan untuk Lebih Fleksibel dan Bisa Kompromi

Anak perlu belajar untuk bisa fleksibel serta berkompromi terhadap orang dan situasi yang bertentangan dengan harapannya. Ajarkan untuk mencari alternatif yang terbaik untuk semuanya (win win solution). 

Artikel lainnya: Mengenal Pola Asuh Co-Parenting untuk Pasangan Bercerai

  • Jangan Lupa Apresiasi anak

“Berikan penguatan terhadap sikap positif yang sudah ditunjukkan oleh anak Anda. Misalnya, ketika dia meminta maaf, mau berbagi, bersikap sopan, dan lain sebagainya,” Ivon mengingatkan. 

  • Lebih Banyak Berinteraksi dengan Orang Lain

Arahkan anak untuk lebih banyak berinteraksi dalam kelompok, dengan teman-temannya sebanyanya, atau libatkan dia dalam kegiatan sosial.

  • Bersikap Sewajarnya, Jangan Terlalu Gengsi 

Berikan contoh yang baik dalam kehidupan sehari-hari. Saat Anda melakukan kesalahan, bersikaplah rendah hati tetapi tetap berwibawa untuk meminta maaf kepada anak. Dari situ, anak bisa belajar bagaimana cara bersikap yang baik. 

  • Meminta Bantuan Profesional

Jika Anda membutuhkan bantuan profesional untuk mengarahkan anak, jangan ragu untuk menghubungi psikolog atau konselor.

Bila masih ada pertanyaan seputar pola asuh anak, langsung konsultasikan kepada dokter dan psikolog lewat fitur Live Chat di aplikasi KlikDokter

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar