Sukses

Ternyata, Cacar Api pada Anak Bisa Terjadi Berulang

Karena disebabkan oleh infeksi bakteri, cacar api pada anak dapat terjadi lebih dari satu kali. Waspadai, kenali penyebab dan cara mencegahnya berikut ini!

Berbagai macam penyakit kulit dapat menyerang anak. Salah satu yang paling sering adalah cacar. Infeksi kulit ini identik dengan kemunculan lenting pada kulit yang terasa sangat gatal.

Salah satu jenis cacar yang wajib diwaspadai adalah cacar api. Penyakit ini dapat terjadi lebih dari satu kali, dan bisa mengganggu hingga menurunkan kualitas hidup si kecil!

1 dari 4 halaman

Apa itu Cacar Api?

Penyakit cacar api disebabkan oleh infeksi bakteri Staphylococcus aureus atau Staphylococcus pyogenes.

Bakteri tersebut bisa menular melalui sentuhan kulit, sehingga menyebabkan lenting berisi air atau dalam medis disebut bullous impetigo.

Lenting yang terjadi akibat cacar api memiliki ukuran yang lebih besar ketimbang cacar air. Lenting pada cacar api juga terlihat kendur dan tidak tegang.

Lenting akibat cacar air pada anak biasanya muncul di area sekitar mulut dan hidung. Namun tidak menutup kemungkinan lenting tersebut juga timbul di tangan, kaki, lipatan paha, dan ketiak.

Lenting tersebut biasanya akan pecah selang beberapa hari, dan meninggalkan bekas keropeng atau kerak. Seringnya bekas itu berwarna kekuningan dan akan menghilang dalam beberapa hari.

Artikel Lainnya: Bisakah Cacar Air Terjadi Lebih dari Sekali?

2 dari 4 halaman

Cacar Api bisa Menginfeksi Dua Kali

Berdasarkan dr. Astrid Wulan Kusumoastuti, cacar yang disebabkan oleh infeksi virus biasanya tidak muncul lebih dari satu kali karena adanya sistem kekebalan tubuh yang sudah terbangun. Sebagai contoh adalah cacar air, yang disebabkan oleh virus Varicella zoster.

“Jika pun muncul, biasanya manifestasi (timbul gejala) yang sedikit berbeda. Contohnya cacar air akibat Varicella zoster saat kambuh kembali menjadi cacar ular atau Herpes zoster,” kata dr. Astrid.

“Namun, cacar disebabkan oleh infeksi bakteri, kemungkinan reinfeksi dan bermanifestasi (timbul gejala) lebih besar. Contoh sederhana reinfeksi bakteri, misalnya bisul atau infeksi saluran kemih (ISK),” tambah dr. Astrid.

Dengan memerhatikan penyebabnya, cacar api disimpulkan dapat menginfeksi kembali meskipun sudah pernah terjangkit sebelumnya. 

“Seringnya infeksi bakteri itu infeksi sekunder setelah virus. Baru di sini ‘cacar’ akibat bakteri kerap menjadi infeksi sekunder dari cacar air,” tegas dr. Astrid.

Adapun yang dimaksud infeksi sekunder di sini adalah penyakit yang muncul bersamaan dengan infeksi kulit sebelumnya.

Artikel Lainnya: Penyakit Cacar Ular Bisa Sebabkan Kematian, Mitos atau Fakta?

3 dari 4 halaman

Cara Mencegah Cacar Api Berulang

Berbagai cara dapat dilakukan supaya anak terhindar dari infeksi sekunder cacar api. Berikut tips pencegahannya menurut dr. Astrid:

  • Menjaga Daya Tahan Tubuh Anak

Daya tahan tubuh yang baik membuat anak lebih kebal dari ancaman infeksi bakteri atau virus.

Oleh karena itu, anak perlu meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang.

Selain itu, anak juga bisa mengonsumsi suplemen untuk semakin melengkapi kebutuhan gizi sehari-hari.

Adapun pemberian suplemen pada anak dicocokkan dengan usianya. Anak di atas satu tahun dapat  diberikan suplemen madu.

“Kalau anak di bawah 1 tahun jangan lupa dikasih suplemen besi. Kalau suplemen seperti vitamin dan lain sebagainya diusahakan dulu dipenuhi dari makanan dan ASI atau susu,” sebut dr. Astrid.

Anak juga memerlukan pasokan air putih dan istirahat yang cukup agar daya tahan tubuhnya optimal, sehingga risiko penyakit dapat lebih minimal.

  • Menjaga Luka Tetap Bersih

Penting untuk menjaga kebersihan luka pada anak supaya tidak kotor. Bila tidak dijaga, hal tersebut berpotensi menyebabkan infeksi sekunder.

Dengan menerapkan upaya pencegahan di atas, risiko cacar api pada anak dapat diminimalkan.

Apabila menemukan kendala atau punya pertanyaan mengenai cacar pada anak, Anda dapat melakukan konsultasi pada dokter melalui LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar