Sukses

Pola Asuh Tepat untuk Anak dengan Kepribadian Koleris

Punya anak dengan kepribadian koleris? Sebagai orang tua harus tahu pola asuh yang tepat supaya tidak menimbulkan konflik.

Anak yang punya sikap keras umumnya punya temperamen atau kepribadian koleris. Beberapa orang tua kadang mengeluh karena si anak dengan kepribadian koleris ini cukup susah diatur.

Tak jarang, ortu bingung bagaimana cara mengasuh yang tepat. Untuk itu, simak penjelasan psikolog tentang apa itu kepribadian koleris dan pola asuh apa yang tepat untuk buah hati.

1 dari 3 halaman

Mengenal Kepribadian Koleris Lebih Dekat

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, koleris adalah kepribadian atau temperamen yang cenderung keras, tidak mengenal basa-basi, dan cukup dominan dalam beberapa hal.

"Biasanya anak yang punya sifat koleris itu memiliki sifat yang cenderung muncul adalah to the point, punya sifat yang dominan, dan cukup tegas. Mereka tidak suka bertele-tele dan punya kemauan yang harus diperjuangkan," jelas psikolog Ikhsan.

Namun, orang dengan kepribadian koleris tidak selamanya buruk. Anak dengan kepribadian koleris bisa dikatakan bagus dalam hal kepemimpinan karena ia bertanggung jawab dan tegas.

"Plusnya, anak dengan kepribadian ini biasanya punya keberanian yang tinggi dan tidak takut dalam menyampaikan pendapat. Punya tekad dalam mencapai yang dia inginkan, berani bertanggung jawab, serta tegas," ungkap psikolog Ikhsan Bella.

Namun, di balik semua kelebihan pasti ada kekurangannya juga. Anak dengan temperamen koleris biasanya mudah terbawa emosi dan memiliki sifat yang cenderung keras. Dalam berbagai kesempatan, ia ingin pendapatnya selalu didengarkan.

Artikel Lainnya: Bisa Dicoba, Ini Pola Asuh Anak dengan Kepribadian Plegmatis

Tentunya ini menjadi masalah tersendiri bagi orang tua. Penerapan pola asuh yang keras, dikhawatirkan malah memantik pertengkaran antara orang tua dan anak.

Kalau sudah begini, jangan langsung menyalahkan anak. Sebab, menurut Ikhsan, temperamen anak koleris bisa saja disebabkan karena perilaku orang tuanya.

"Faktornya anak bisa seperti ini paling utama karena pola asuh orang tua yang bisa juga keras dan ingin orang tuanya didengarkan, sehingga membentuk anak untuk meniru atau modelling dari orangtuanya yang seperti itu," jelas Ikhsan Bella.

Artikel Lainnya: Pola Asuh yang Cocok untuk Anak Melankolis

2 dari 3 halaman

Pola Asuh yang Tepat untuk Anak Kepribadian Koleris

Agar kepribadian serta sisi emosional anak koleris berkembang baik, orang tua perlu menerapkan pola asuh yang tepat.  Menurut psikolog Ikhsan, model pola asuh autoritatif patut dicoba. Salah satu caranya, coba lebih sering mengajak anak mendiskusikan suatu hal yang perlu dibahas.

"Pola asuh yang tepat adalah menekankan diskusi ke si anak. Jika si anak mulai emosi, orang tua harus menahan diri, jangan paksakan pendapat kita untuk masuk ke anak. Karena kalau sama-sama berdebat dan ingin didengarkan, justru malah yang timbul masalah atau konflik," kata Ikhsan memperingatkan.

Dilansir dari VeryWell, psikolog Diana Baumrind memberikan contoh pola asuh autoritatif sebagai berikut:

  • Ortu harus punya aturan yang disiplin, apabila dilanggar harus konsisten.
  • Membiarkan anak-anak mengutarakan pendapat mereka.
  • Mendorong anak-anak untuk berdiskusi mengenai pilihannya.
  • Orang tua bersikap hangat kepada anak.
  • Orang tua mengajarkan anak untuk mandiri.
  • Berusaha mendengarkan anak.
  • Memberikan batasan, konsekuensi, dan harapan yang berhubungan perilaku anak-anak.

Ikhsan menganjurkan agar orang tua fleksibel dalam mengasuh anak. Ortu juga bisa mengajarkan anak untuk memahami orang sekitarnya. Tujuannya, agar ia tidak fokus kepada dirinya sendiri.

Apabila ia fokus kepada dirinya sendiri, tentu anak akan tumbuh sebagai sosok yang egois. Tekankan pada anak bahwa kita hidup di dunia tidak sendiri dan perlu memerhatikan serta mempertimbangkan orang lain.

Apabila masih ada yang ingin ditanyakan tentang pola asuh anak, konsultasikan langsung dengan psikolog atau psikiater. Sedangkan untuk tahu informasi tentang tips parenting atau perkembangan anak, baca terus artikelnya di aplikasi Klikdokter.

(OVI/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar