Sukses

Anak Sering Berlari, Tanda Gangguan Psikologis?

Anak suka lari-lari ke sana ke mari seperti tanpa rem? Jangan-jangan mengalami masalah gangguan psikologis. Yuk, kita cek di sini.

Seiring dengan perkembangan si kecil, ada saja hal baru yang Anda temui dari mereka. Salah satu yang bikin Anda pusing bukan kepalang mungkin adalah melihat anak berlarian seolah tak bisa diam.

Baru main sebentar, sudah lari; baru makan sendokan pertama, sudah berlari lagi. Kekhawatiran gangguan psikologi pada anak, seperti hiperaktivitas, pun muncul.

Rasa cemas turut disampaikan Yani (bukan nama sebenarnya). Dia mengaku, anaknya suka berlari-lari dan tidak bisa anteng. Kalau ada apa-apa selalu lari, seperti tidak kehabisan energi dalam sehari itu.

"Saya heran sih, anak saya apa-apa selalu berlari. Seperti tidak bisa diam. Takutnya mengalami hiperaktif atau ada masalah gangguan psikologis lainnya yang saya tidak tahu," ungkap Yani.

Mungkin kekhawatiran Yani tersebut juga dialami banyak orang tua lainnya. Lantas, bagaimana tanggapan psikolog soal anak yang gemar berlarian tak bisa diam ini?

1 dari 5 halaman

Benarkah Gangguan Psikologis Sebabkan Anak Berlarian Terus? 

Menurut psikolog anak Gracia Ivonika, M.Psi., selalu berlari belum tentu mengindikasikan masalah psikologis tertentu pada anak.

"Tidak selalu. Perlu dicek terlebih dahulu, apakah itu sering berlarian itu merupakan suatu gejala dari gangguan perkembangan, atau tergolong normal pada anak seusianya," jelas Gracia. 

Ia mencontohkan, anak berusia 3-5 tahun sedang dalam masa perkembangan. Mereka akan sangat aktif untuk mengeksplorasi berbagai hal di sekitar.

Di usia tersebut, balita juga sedang giat-giatnya mengembangkan kemampuan motorik sehingga lebih sering berlarian.

"Sebaliknya, bila anak suka berlarian atau bergerak terus-menerus dirasa berlebihan, terutama dibanding anak lain seusianya, ini bisa jadi perhatian orang tua. Diperlukan pemeriksaan psikologis oleh profesional untuk memastikan hal tersebut," tegas Gracia.

Artikel lainnya: Menangani Anak yang Terlalu Aktif dan Tidak Bisa Diam

2 dari 5 halaman

Tanda Anak Alami Gangguan Psikologis

Di lain sisi, ciri-ciri gangguan psikologis pada anak sangat beragam. Oleh karena itu, penting bagi Anda untuk memahami perkembangan anak yang normal, untuk mengenali tanda-tanda masalah pada anak. 

Beberapa tanda yang dapat menjadi perhatian Anda menurut psikolog Gracia adalah:

1. Aspek Emosi

  • Mood swings.
  • Kesulitan mengekspresikan dan mengendalikan emosi secara tepat.
  • Cenderung mengalami emosi yang ekstrem, misalnya menangis terus-menerus, atau marah yang tidak terkendali.

2. Aspek Kognitif

  • Masalah kesulitan belajar.
  • Performa akademis menurun atau di bawah anak-anak lain seusianya.
  • Masalah konsentrasi, sulit fokus atau mempertahankan atensi sesuai usianya.

3. Aspek Fisik dan Perkembangan

  • Terjadi keterlambatan perkembangan, misalnya terlambat berjalan atau berbicara.
  • Masalah tidur.
  • Masalah makan.

4. Aspek sosial

  • Memiliki hambatan dalam relasi sosial, misalnya cenderung diam saat di sekolah, atau bertengkar dengan teman.
  • Menampilkan masalah perilaku, seperti agresi, mudah berontak, menyakiti diri sendiri, sulit mengontrol diri untuk diam.
  • Kepercayaan diri rendah.
  • Kurang terbuka dengan keluarga.
  • Relasi dengan orang tua yang buruk.

Artikel lainnya: Si Kakak Cemburu pada Adik? Ini Cara Menghadapinya

3 dari 5 halaman

Bagaimana Cara Mengatasinya?

Jika aspek-aspek di atas ada di dalam diri si kecil, Anda mungkin bisa lebih waspada. Beberapa hal ini dapat menjadi panduan Anda untuk mengatasinya:

1. Peka pada Kondisi Anak

Menurut psikolog Gracia, sangat penting untuk peka dan terus memantau perkembangan anak secara berkala.

“Dengan demikian, orang tua dapat dengan cepat mengenali tanda-tanda masalah yang ditampilkan anak," kata Gracia.

2. Perkaya Pengetahuan soal Anak     

Perkayalah pengetahuan tentang perkembangan anak dan pengasuhan, misalnya dengan banyak membaca, menonton, mendengar informasi edukatif tentang perkembangan dan pengasuhan anak. Anda juga dapat berdiskusi dengan teman, sesama ibu lain, atau psikolog.

3. Sambangi Psikolog   

"Jika orang tua merasa butuh bantuan profesional dalam membantu anak berkembang secara optimal, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan profesional. Misalnya, psikolog maupun dokter anak," kata Gracia.

4. Jadi Teman bagi Anak

Menjaga kedekatan emosional dengan anak adalah hal penting. Gracia mengatakan, jadilah teman bagi anak agar membantu mereka terbuka akan hambatan-hambatan yang dihadapi. Orang tua pun dapat semakin memahami kondisi anak dari sudut pandangnya.

Artikel lainnya: Jadi Ayah Sporty, Lakukan 4 Olahraga Ini bersama Anak Anda!

4 dari 5 halaman

Lakukan Ini Kalau Anak Mengalami Masalah Psikologis

Kalaupun gejala anak berlarian didiagnosis mengalami gangguan psikologis oleh profesional, Anda tak perlu panik. Tetaplah tenang dan lakukan langkah-langkah berikut:

  • Berkonsultasi dengan profesional terkait hal-hal yang perlu dipahami orang tua untuk membantu anak. Misalnya, tentang gangguan yang dialami, apa saja yang perlu dilakukan, dan apa yang harus dihindari.
  • Memfasilitasi anak dengan intervensi psikologis yang diperlukan sesuai kebutuhan anak. Hal ini harus berdasarkan saran atau masukan dokter maupun psikolog.
  • Menjaga kesejahteraan psikologis keluarga, termasuk orang tua sendiri. Saat orang tua merasa kewalahan atau stres dengan perannya, penting untuk saling bekerja sama memahami kondisi satu sama lain. Berkomunikasilah bersama dan memberi waktu masing-masing untuk beristirahat yang cukup. Bila orang tua memerlukan dukungan sosial yang lebih besar, Anda dapat bergabung dengan komunitas atau kelompok tertentu yang suportif.
  • Orang tua juga perlu memastikan kesehatan fisik untuk tetap dapat berperan maksimal dalam pengasuhan, dengan menjalani pola hidup sehat.
  • Bekerja sama dengan guru, terapis, psikolog, dokter, pengasuh, dan pihak lain yang berperan dalam menangani masalah psikologis anak.

Tidak selamanya anak yang sering berlarian tak bisa diam mengalami gangguan psikologis. Akan tetapi, kalau Anda ragu, tak ada salahnya untuk berkonsultasi dengan dokter dan psikolog untuk memastikan.

Jangan ketinggalan informasi seputar psikologi anak dengan mengunduh aplikasi KlikDokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar