Sukses

Waspada, Ini Bahaya Anak Berenang di Air Banjir

Air banjir sering dianggap sebagai kolam renang alami oleh anak-anak di Indonesia. Padahal, berenang di air banjir berisiko tinggi menyebabkan penyakit berbahaya ini.

Indonesia diprediksi akan mengalami cuaca ekstrem beberapa hari ke depan. Alhasil, banjir menjadi salah satu konsekuensi yang tidak terelakkan. 

Ada satu fenomena yang selalu muncul setiap musim banjir. Tak lain adalah kebiasaan anak-anak untuk bermain dan berenang di air banjir. 

Berenang di banjir terlihat seperti hal yang menyenangkan bagi anak-anak. Meski begitu, tetap saja banjir adalah bencana. Berenang di air banjir pun dapat meningkatkan risiko penyakit berbahaya. 

1 dari 3 halaman

Penyakit Akibat Berenang di Air Banjir

Menurut dr. Muhammad Iqbal Ramadhan, anak yang berenang di air banjir lebih berisiko terjangkit penyakit-penyakit berikut ini: 

1. Diare 

Diare adalah penyakit saluran pencernaan yang paling sering terjadi saat banjir. Penyakit ini harus diatasi dengan tepat, agar tidak memicu dehidrasi parah yang bisa menyebabkan penurunan kesadaran hingga kematian.

2. Tifus (Demam Tifoid)

Salmonella typhi adalah bakteri penyebab tifus atau demam tifoid, yang dapat dengan mudah menyebar dalam genangan air. 

Oleh karena itu, seorang anak bisa terjangkit tifus akibat berenang di banjir. Risiko makin tinggi jika anak tidak sengaja menelan air banjir.

Artikel Lainnya: Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Berenang?

3. Leptospirosis

Leptospirosis bisa menjangkit anak saat banjir tiba, karena genangan air menjadi sarana penyebaran bakteri Leptospira. Bakteri tersebut berasal dari darah atau urine hewan yang terinfeksi, seperti tikus. 

4. Demam Berdarah atau Malaria

Genangan air banjir menjadi tempat yang nyaman bagi segala jenis nyamuk untuk berkembang biak. Oleh karena itu, anak yang berenang di air banjir bisa dengan mudahnya digigit nyamuk penyebab demam berdarah dan/atau malaria,

5. Hipotermia

Hipotermia ditandai dengan menurunnya suhu tubuh secara drastis, biasanya hingga di bawah 35 derajat Celcius. Padahal suhu tubuh normal adalah sekitar 37 derajat Celcius.

Nah, ketika anak berenang terlalu lama di air banjir, dia berpotensi mengalami hipotermia. Jika tidak segera diatasi, dampak terburuknya adalah kematian.

6. Penyakit Kulit

Berbagai macam penyakit kulit yang bisa menyerang anak akibat berenang di banjir, misalnya infeksi jamur, eksem, dermatitis kontak iritan, folikulitis, dan dermatitis venenata akibat gigitan serangga. 

Tak terbatas pada penyakit-penyakit di atas, air banjir juga berpotensi mengandung bahan kimia beracun, oli, gas, dan sebagainya. Jika air yang terkontaminasi sampai tertelan oleh anak, salah satu risikonya adalah keracunan.

Kemungkinan lain yang bisa terjadi akibat berenang di air banjir adalah tertusuk benda tajam, seperti pecahan kaca, kawat berduri, pecahan logam, dan ranting pohon. Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai akibat tusukan benda tajam adalah tetanus. 

Artikel Lainnya: 6 Kiat Bebas Diare saat Musim Hujan

2 dari 3 halaman

Lakukan Ini Jika Anak Telanjur Berenang di Banjir

Berikut ini tindakan yang orang tua perlu lakukan supaya anak bisa terhindar dari ancaman penyakit akibat berenang di air banjir:

  • Berikan informasi kepada anak terkait bahaya penyakit yang terdapat di air banjir. 
  • Ajak anak lakukan sanitasi diri, seperti mencuci tangan dan mandi dengan sabun. 
  • Bersihkan area sekitar rumah untuk mengurangi risiko paparan bakteri atau virus. 
  • Jaga daya tahan tubuh anak dengan memberikan makanan sehat dan bergizi seimbang, istirahat cukup, dan suplementasi pendamping makanan jika dibutuhkan. 

Mencegah lebih baik daripada mengobati. Jika anak berniat berenang di banjir, sebaiknya orang tua mencegah secepat mungkin. Dengan demikian, risiko penyakit dapat diminimalkan.

Jika anak terlanjur berenang di air banjir dan terindikasi mengalami gangguan kesehatan, pertolongan pertama yang bisa dilakukan adalah berkonsultasi kepada dokter melalui layanan LiveChat 24 jam. Unduh juga aplikasi KlikDokter agar tidak ketinggalan fakta medis lainnya.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar