Sukses

Pentingnya Cuti Melahirkan Bagi Ibu Hamil yang Bekerja

Jangan dianggap remeh. Ibu yang hamil dan bekerja wajib untuk ambil cuti melahirkan. Ini alasan pentingnya menurut dokter dan psikolog!

Memasuki kehamilan trimester tiga, ibu harus benar-benar menjaga kandungannya dengan baik. Tak hanya itu, ibu juga harus menyiapkan fisik dan mental semaksimal mungkin agar persalinan berjalan lancar. 

Bagi ibu hamil yang bekerja, trimester ketiga akhir merupakan waktu tepat untuk mengajukan permohonan cuti melahirkan. Cuti melahirkan ini sifatnya penting, lho.

Lantas, bagaimana kalau ibu tidak ambil cuti hamil dan melahirkan? Adakah risiko kesehatan dan mental yang dapat terjadi?

1 dari 4 halaman

Pentingnya Cuti Hamil dan Melahirkan Untuk Ibu yang Bekerja

Dokter Arina Heidyana menegaskan, cuti ini sifatnya penting untuk menjaga kesehatan fisik dan mental ibu saat proses persalinan tinggal menghitung minggu. 

“Idealnya, ibu mulai cuti sejak kehamilan mencapai usia 35 atau 36 minggu. Ini sekitar 1,5 bulan sebelum hari H persalinan. Namun, tergantung masing-masing kondisi ibu. Dokter bisa saja menyarankan agar ibu hamil mengajukan cuti lebih cepat guna menjaga kesehatan bayi dalam kandungan,” ujar dr. Arina

Adapun beberapa alasan kenapa ibu harus cuti melahirkan, berikut pemaparannya menurut dr. Arina: 

  • Untuk Menjaga Kesehatan Tubuh Ibu Hamil

Ibu hamil yang bekerja dituntut untuk tetap aktif dan menjaga kesehatan tubuhnya dengan baik.

Tetapi, di trimester ketiga, ibu juga harus mulai mengurangi kegiatan fisik yang berat, seperti naik tangga, jalan ke kantor, menyetir mobil, atau naik kendaraan umum. 

Aktivitas tersebut perlu dibatasi guna mencegah ibu kelelahan dan komplikasi janin bisa dihindari. 

  • Memberikan Waktu untuk Istirahat

Cuti melahirkan juga bermanfaat untuk memberikan waktu istirahat ibu hamil. 

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan, dengan waktu istirahat yang cukup, kesehatan mental ibu hamil bisa meningkat dan terjaga. 

“Bukan hanya fisik, kesiapan mental ibu hamil juga perlu dimaksimalkan. Karena menjelang persalinan ibu akan dilanda kecemasan, rasa panik, atau takut yang luar biasa. Jika tidak dikelola dengan baik, kecemasan ini bisa berdampak kepada kesehatan fisiknya juga,” ujar Ikhsan. 

Artikel Lainnya: 3 Tips Siap Kembali Bekerja Setelah Melahirkan

  • Menghindari Stres Berlebihan

“Pekerjaan yang menumpuk bisa buat ibu hamil jadi semakin stres. Jadi, tidak hanya stres karena masa kehamilan dan perubahan hormonnya. Tapi, stres bisa bertambah akibat pekerjaan yang semakin menumpuk. Dan pada akhirnya, stres yang dialami ibu bisa buat bayi jadi tidak sehat, begitu juga dengan sang ibu,” kata Ikhsan.

  • Proses Penyembuhan Pasca Melahirkan 

Setelah melahirkan, ibu butuh banyak tenaga untuk bisa kembali beraktivitas seperti biasa. Selain itu, ibu juga harus menyisihkan tenaga untuk menyusui buah hati. 

Menurut dr. Arina, kurangnya waktu istirahat dapat menyebabkan produksi ASI  ibu jadi berkurang. Akibatnya, bayi bisa kekurangan nutrisi dan ini berbahaya bagi kesehatannya.

  • Beradaptasi dengan Lingkungan Baru 

Ikhsan menjelaskan alasan lain mengapa cuti melahirkan itu penting. Menurutnya, ibu perlu beradaptasi dengan kondisi saat sudah memiliki bayi. 

Sebab, tidak mudah bagi ibu untuk beradaptasi meskipun sudah pernah beberapa kali hamil dan melahirkan.

“Adaptasi ini tentu bisa jadi salah satu stresor sendiri bagi ibu. Kalau ditambah lagi dengan sambil bekerja, tentu menambah stresor, dan akhirnya pola asuh yang diberikan jadi berkurang,” jelas Ikhsan.

Artikel Lainnya: Kiat Memberikan ASI untuk Ibu Bekerja

2 dari 4 halaman

Apa Bahayanya Jika Ibu Tidak Ambil Cuti Melahirkan?

Menanggapi ini, dr. Arina menjelaskan, “Padatnya aktivitas di kantor dan banyaknya mobilitas yang dilakukan di luar rumah, bisa menyebabkan ibu jadi kelelahan, kurang istirahat, stamina jadi menurun, dan buat ibu jadi mudah sakit.”

“Jika hal ini terus dibiarkan dan ibu tidak mendapatkan hak cutinya, bukan tidak mungkin ia akan mengalami komplikasi kehamilan seperti perdarahan, preeklampsia, anemia, hilang kesadaran karena kelelahan, dan sebagainya,” kata dr. Arina.

Hal yang sama diungkapkan oleh Ikhsan. Menurutnya, waktu istirahat yang kurang akan memengaruhi kesehatan fisik maupun mental ibu hamil. 

“Dampaknya tidak hanya terjadi kepada ibu, tapi juga ke bayi. Karena ketika si ibu belum mendapatkan pemulihan fisik maupun psikologis yang maksimal, tentu ibu jadi rentan terhadap stres. Stres ini bisa berpengaruh terhadap pengasuhan anak. Entah Ibu jadi tidak stabil emosinya atau jadi tidak fokus dalam mengasuh bayinya,” lanjut Ikhsan. 

Artikel Lainnya: Alasan Mengapa ASI Perah Tak Boleh Langsung Disimpan di Freezer

3 dari 4 halaman

Tips Punya Cuti Hamil yang Pendek

Jika ibu hanya memiliki waktu cuti melahirkan yang pendek, dr. Arina menyarankan untuk memanfaatkan kesempatan itu dengan baik. 

Ibu diminta cermat dalam mengelola stres, menjaga kebugaran fisik,  serta menghindari pekerjaan atau pergerakan yang terlalu berat. 

Usai melahirkan, ibu juga diminta untuk istirahat dengan baik agar sesi menyusui dapat berjalan lancar dan proses penyembuhan pasca melahirkan berlangsung baik.

“Pastikan ibu tidur cukup, berbagi tugas dengan suami, makan makanan yang sehat, menghindari stres, olahraga kecil, dan habiskan waktu bersama anak. Menghabiskan waktu bersama anak dipercaya bisa meningkatkan mood dan rasa bahagia ibu pasca melahirkan,” tutup dr. Arina.

Itu dia pentingnya cuti melahirkan bagi ibu. Apabila masih ada yang ingin ditanyakan, konsultasikan langsung dengan dokter. Untuk lebih mudahnya, gunakan fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar