Sukses

PTSD pada Anak Bisa Ganggu Tumbuh Kembang, Benarkah?

Bagaimana kaitan PTSD dengan tumbuh kembang anak? Simak penjelasannya.

Meski lebih banyak dialami orang dewasa, PTSD (post-traumatic stress disorder) juga bisa juga terjadi pada anak-anak. Kejadian traumatis, seperti kecelakaan parah, kekerasan dari orang dewasa, bencana alam, hingga pelecehan seksual, dapat memicunya.

Lantas, apakah PTSD pada anak dapat mengganggu tumbuh kembang anak? Simak di sini.

Mengenal PTSD Lebih Dalam

PTSD dapat terjadi pada semua orang, tanpa memandang etnis, usia, atau kategorisasi  apa pun. Wanita diketahui dua kali lebih rentan mengalami gangguan kesehatan mental ini dibandingkan pria.

Peristiwa traumatis biasanya membekas dalam pikiran dan perasaan penderita PTSD. Mereka dapat menghidupkan kembali peristiwa itu melalui kilas balik atau mimpi buruk.

Penderita gangguan ini juga dapat sedih, takut atau marah. Merasa bahkan kerap terasing dari orang lain atau lingkungan.

Orang dengan PTSD mungkin menghindari situasi atau orang yang mengingatkan mereka pada peristiwa traumatis. Mereka kadang bereaksi negatif pada sesuatu yang sebenarnya biasa, seperti suara keras atau sentuhan yang tidak disengaja.

Pada akhirnya, gangguan stres pascatrauma dapat memicu gejala psikosis. Yaitu, kelainan jiwa yang disertai dengan disintegrasi kepribadian dan gangguan kontak dengan kenyataan.

Jika tidak ditangani cepat dan tepat, PTSD dapat menimbulkan komplikasi, yakni gangguan jiwa berat. Bentuknya dapat berupa skizofrenia dan upaya percobaan bunuh diri.

Artikel lainnya: Kenali 5 Gejala Trauma pada Anak

1 dari 3 halaman

Menilik Tumbuh Kembang Anak Pengidap PTSD

Seperti diungkap di awal, PTSD juga dapat terjadi pada anak. Namun, gejalanya pada si kecil agak berbeda dengan orang dewasa. Mereka akan cenderung berteriak, bersembunyi, dan atau berkelahi. 

Kondisi-kondisi tersebut, tak dapat dimungkiri, dapat menyebabkan gangguan tumbuh kembang anak. Apalagi jika penyebab PTSD pada anak adalah kekerasan fisik, pelecehan seksual, ataupun kehilangan orang terdekat. Dampak trauma pada anak pun bisa lebih buruk. 

Ikhsan Bella Persada, M.Psi. menjelaskan, anak yang mengalami PTSD, terutama karena kekerasan, akan terpengaruh area sosial dan emosi mereka.

“Anak bisa jadi takut untuk berhubungan dengan orang lain. Mereka juga cenderung jadi enggan untuk mengungkapkan emosi. Dari sini tentu bisa berdampak secara jangka panjang hingga dia tumbuh dewasa,” Ikhsan menjelaskan. 

Proses trauma memberikan luka psikis tersendiri bagi anak. Hal tersebut tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Bahkan dalam beberapa kasus, PTSD dapat terus mengganggu kehidupan seseorang selama bertahun-tahun.

Artikel lainnya: Awas, Anak Korban Bullying Rentan Alami Trauma

2 dari 3 halaman

Tips Agar Tumbuh Kembang Anak dengan PTSD Tetap Optimal

Keluarga inti, yakni orang tua dan saudara, berperan besar dalam penyembuhan PTSD dan dampak trauma pada anak. Mereka wajib memberikan dukungan dan kebutuhan afeksi yang tepat. Jangan sampai anak dengan PTSD dibiarkan sendirian. 

“Perhatikan di area mana perkembangan anak terhambat. Misalnya di area sosial, maka sebagai orang tua akan fokus memberikan support di area tersebut,” sebut Ikhsan. 

Keluarga inti bisa memberikan dukungan dengan menemani anak untuk kembali berinteraksi dengan lingkungan sekitar.

Selain itu, sebaiknya Anda tidak memaksa anak untuk membicarakan hal-hal yang mengingatkannya pada trauma. Hal tersebut justru akan memperpanjang rasa trauma pada anak.

“Pahami perasaan anak dan buatlah dia merasa nyaman dengan lingkungan sekitarnya. Selain dukungan keluarga, akan lebih baik lagi ke tenaga ahli seperti psikolog untuk penanganan lebih lanjut,” saran Ikhsan. 

Masalah mental memang menjadi kompleks. Terlebih jika yang mengalami masih dalam usia anak-anak.

Oleh karena itu, guna mengoptimalkan tumbuh kembang anak yang menderita PTSD, keluarga perlu mengambil peran ekstra. Jika perkembangan anak justru memburuk, sudah saatnya anak dibawa kepada ahli atau profesional.

Masih ada pertanyaan seputar PTSD pada anak? Konsultasikan pada psikolog dan dokter di aplikasi KlikDokter.

[HNS/JKT]

0 Komentar

Belum ada komentar