Sukses

Vandalisme di kalangan Remaja, Apa Penyebabnya?

Belakangan ini seorang remaja pria tersangkut kasus vandalisme. Apa yang membuatnya melakukan perilaku menyimpang tersebut? Ini kata psikolog.

Aksi vandalisme seorang remaja pria baru-baru ini menghebohkan publik. Remaja itu mencoret-coret dinding rumah ibadah dengan simbol dan kata bernada kebencian.

Polisi menyebut, remaja yang melakukan vandalisme tersebut tertekan karena sering dilarang keluar rumah oleh orang tuanya. Tersangka mengaku, perbuatannya sebagai pelampiasan kekesalan terhadap orang-orang di sekitarnya.

Lantas, apa kata psikolog soal vandalisme pada remaja? Apakah benar tindakan tersebut hanya dipengaruhi oleh kondisi lingkungan?

1 dari 4 halaman

Vandalisme dari Sudut Pandang Psikolog

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi, Psikolog, vandalisme merujuk kepada setiap gangguan perilaku manusia yang bersifat merusak. Perilaku tersebut memiliki tujuan yang berbeda-beda, tergantung siapa pelakunya.

Vandalisme sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu:

1. Acquisitive Vandalism

Merupakan vandalisme yang bertujuan mengambil untung, misalnya merusak mesin ATM untuk mendapatkan uang.

2. Tactical Vandalism

Melakukan perusakan dengan terencana demi mencapai sebuah tujuan.

3. Ideological Vandalism

Perilaku merusak yang didasarkan pada ideologi tertentu. Contoh, menghancurkan rumah ibadah, dan mengubah atau memberi tanda pemahaman yang dianut pelaku.

3. Play Vandalism

Melakukan vandalisme untuk kesenangan semata.

Secara umum, orang-orang yang melakukan vandalisme memiliki ciri-ciri sebagai berikut ini:

  • Agresif

Sebagai contoh: membolos sekolah, mengerjai orang lain, dan aktif secara seksual di usia yang sangat dini.

  • Berperilaku Destruktif

Contohnya: sering merusak beberapa benda dan sebagainya.

  • Tidak Jujur

Berbohong terus-menerus, mencuri, dan lain-lain.

  • Melanggar Norma

Berperilaku tidak sesuai norma di masyarakat, atau tidak sesuai usianya.

Artikel Lainnya: Dampak Cyberbullying pada Kesehatan Mental Remaja

2 dari 4 halaman

Penyebab Remaja Melakukan Vandalisme

Vandalisme sering dialamatkan pada remaja. Di usia mereka sedang terjadi masa peralihan dari anak-anak ke dewasa. Masa tersebut paling rawan dalam menentukan pribadi seseorang.

Ikhsan menganalisis, perilaku vandalisme remaja terjadi karena pengaruh emosi yang tidak terkontrol

“Ketika remaja tidak mampu mengendalikan emosi dan cenderung mengikuti dorongan dalam diri (impulsif), dia tidak mempertimbangkan mana yang baik dan tidak. Makanya, ketika ingin merusak, dia bisa saja melakukannya tanpa pikir panjang,” tutur Ikhsan.

“Memang, faktor paling besar yang memengaruhi vandalisme remaja adalah lingkungan teman sebaya,” ujar Ikhsan.

Di luar itu, faktor pola asuh yang keras juga dapat memicu aksi vandalisme remaja. Pola asuh tersebut membuat anak merasa tidak nyaman, sehingga memberontak dan menyalurkan emosinya melalui hal-hal negatif.

Artikel Lainnya: Main Gawai sebelum Tidur Ganggu Kesehatan Mental Remaja

3 dari 4 halaman

Tips Menghentikan Perilaku Vandalisme

Bagaimana jika anak atau keluarga terlibat vandalisme? Larangan dengan kata-kata, menurut Ikhsan, akan sulit mencegahnya. Orang tua atau keluarga harus mengetahui terlebih dahulu alasan seorang remaja melakukan vandalisme.

“Dimulai dulu dari keluarganya. Buat anak merasa nyaman, supaya ketika dia merasa emosi bisa dengan bercerita ke keluarga, bukan lari ke perilaku vandalisme,” kata Ikhsan.

Selain itu, orang tua juga bisa melakukan terapi modifikasi perilaku atau Cognitive Behaviour Therapy (CBT). Terapi ini bertujuan mengubah dan memperbaiki pola pikir yang keliru.

“Kalau sudah seperti ini (melakukan vandalisme), baiknya ke tenaga ahli agar penanganan yang paling sesuai dapat diberikan,” sebut Ikhsan.

Punya pertanyaan mengenai vandalisme remaja? Ingin tahu fakta kesehatan lainnya? Tanyakan secara langsung pada dokter melalui LiveChat 24 jam atau dengan menuduh aplikasi KlikDokter.

(NB/JKT)

0 Komentar

Belum ada komentar