Sukses

Mitos-Mitos soal Kudis yang Tak Perlu Anda Percayai

Banyak mitos soal penularan dan pengobatan kudis yang beredar di masyarakat. Jika info yang Anda dengar masuk ke list ini, tak usah percaya, ya!

Kudis adalah salah satu penyakit kulit yang sering dialami orang Indonesia. Ya, karena malu atau ribet berobat ke dokter, orang kerap mencoba mengobati penyakit kudisnya sendiri. 

Alhasil, mitos soal penyebab dan pengobatan kudis pun terus berkembang salah. Kondisi tersebut sebenarnya bisa dicegah dan diatasi apabila masyarakat tidak mudah percaya dengan mitos-mitos kudis yang telanjur beredar.

1 dari 3 halaman

Mitos Seputar Kudis yang Harus Diluruskan

Kudis merupakan penyakit yang disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei. Tungau dapat hidup, bertelur, dan berkembang biak di permukaan kulit. 

Maka itu, gejala kudis di kulit sering menyebabkan timbulnya ruam merah yang terasa gatal.

Ada beberapa mitos penyakit kudis yang menyebar di masyarakat. Sayangnya, semua mitos itu kebanyakan keliru. 

Agar tak menjadi informasi salah, berikut mitos penyakit kudis yang sudah diluruskan oleh dr. Atika:

  1. Kudis Sangat Menular meski Tanpa Sentuhan?

Tidak benar. Kudis hanya menular akibat kontak dari kulit ke kulit dalam waktu lama. Maka itu, seseorang tidak bisa langsung terkena tungau hanya dengan sekali berjabat tangan atau menyentuh benda mati. 

Kudis dapat ditularkan lewat kontak kulit seperti tidur bersama atau berdekatan dalam waktu lama, bukan dari pertemuan singkat. 

  1. Penularan Kudis antara Manusia dan Hewan Terjadi Sangat Mudah?

Tidak benar. Tungau dari hewan memang bisa berpindah ke manusia dan menimbulkan rasa gatal. Namun, biasanya mereka segera mati dan tidak bisa berkembang biak di kulit manusia.

Tungau dari manusia juga bisa berpindah ke hewan, tapi tungau tersebut juga tidak dapat bertahan hidup lama. 

Kendati demikian, sebaiknya penderita kudis segera diobati dan dipisahkan dulu dari orang lain sampai sembuh. Tujuannya supaya penyakit tersebut tidak menyebar dan ikut menginfeksi yang lain. 

Artikel Lainnya: Kudis Bisa Diobati dengan Air Garam, Mitos atau Fakta?

  1. Kudis Mudah Dikenali?

Tidak benar. Dermatitis atopik, xerosis (terutama pada orang tua), dermatitis kontak, atau reaksi kulit akibat efek pengobatan, sering didiagnosis sebagai kudis.

Padahal, tidak semua rasa gatal dan ruam di kulit itu adalah kudis. Sayangnya, masih banyak orang yang enggan ke dokter dan malah mendiagnosis kondisi kulitnya sendiri.

Lalu, ketika mengobati diri sendiri dengan obat anti kudis, masalah kulit sebenarnya bisa semakin bertambah parah. 

  1. Gatal Kudis Hanya Timbul saat Tidur Malam?

Tidak benar. Kenyataannya, reaksi gatal akan terus ada. Hanya saja, di siang hari, penderitanya dialihkan dengan beragam aktivitas, sehingga rasa gatal tidak begitu terasa. 

Beda halnya jika dia sedang berbaring dan mencoba tidur. Dalam kondisi diam, Anda menjadi lebih peka dengan rasa gatal akibat kudis. 

  1. Kudis Sering Resisten terhadap Pengobatan?

Tidak benar. Kudis yang gagal diobati biasanya disebabkan karena misdiagnosis mandiri dan salah obat. 

Ya, bagaimana penyakit kulit bisa cepat sembuh kalau obatnya salah? Dengan mengoleskan salep atau krim dari dokter secara rutin, skabies pasti sembuh. 

  1. Kudis Hanya Terjadi Sekali Seumur Hidup?

Tidak benar. Anda sejatinya dapat tertular kudis kembali. Untuk menghindarinya, pastikan Anda dan keluarga melakukan pengobatan sampai tuntas, menjaga kebersihan, dan tidak berkontak dalam waktu lama dengan penderita kudis lain. 

  1. Kudis Hanya Bisa Menginfeksi Orang yang Jorok?

Tidak benar. Hidup dalam lingkungan yang kotor memang bisa jadi salah satu penyebab kudis. Akan tetapi, orang yang hidup dalam lingkungan bersih pun bisa tertular jika tak sengaja berkontak lama dengan penderita kudis.

Artikel Lainnya: Sering Gatal di Kemaluan? Mungkin Ini Sebabnya

2 dari 3 halaman

Cegah Kudis dengan Cara Ini!

Semua orang, baik anak-anak maupun orang dewasa, baik orang yang jorok maupun bersih, sebenarnya berisiko untuk tertular kudis. Karena itu, penting bagi Anda untuk melakukan pencegahan, seperti:

  • Menghindari kontak kulit langsung dengan penderita kudis dalam waktu lama.
  • Tungau penyebab kudis dapat hidup selama 3-4 hari. Cuci pakaian, bedcover, handuk, serta bantal dan guling dengan air panas. Lalu jemur di terik matahari. 
  • Jika ada vacuum cleaner, itu lebih baik. Bersihkan tempat tidur, sofa, dan karpet secara rutin. Setelah selesai menyedot kotoran, keluarkan kantong vakum dan bersihkan secara menyeluruh dengan pemutih serta air panas. 

Itu dia tujuh mitos soal skabies yang tidak perlu dipercaya dan sudah diluruskan oleh dr. Atika. 

Apabila masih ada pertanyaan seputar cara mengobati kudis, langsung saja konsultasikan hal tersebut pada dokter kami lewat fitur LiveChat di aplikasi  Klikdokter

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar