Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Pilih Sekolah Umum atau Homeschooling untuk Anak Disleksia?

Pilih Sekolah Umum atau Homeschooling untuk Anak Disleksia?

Ketika anak mengalami gangguan baca tulis (disleksia), orang tua kerap bingung harus pilih jenis sekolah apa untuknya. Lalu, apa pendapat psikolog pendidikan dan dokter anak?

Bagi orang tua awam, memilih sekolah untuk anak disleksia bukan perkara mudah. Pasalnya, gangguan membaca akan terus dirasakan meski kondisi anak bisa membaik melalui terapi rutin. 

Niatan untuk memasukkannya ke sekolah formal umum pun memang ada. Namun di satu sisi, Anda khawatir si kecil akan diejek teman-teman yang tak mengerti kondisinya atau sulit mengejar pelajaran. Karena itulah, pilihan homeschooling terlintas di benak Anda. 

1 dari 4 halaman

Buang Dulu Stigma tentang Anak Disleksia!

Ayah dan bunda perlu tahu, kondisi disleksia bukan berarti anak itu bodoh dan tak bisa belajar sama sekali. Mereka memang memiliki gejala seperti:

  • Sulit dan lamban membaca.
  • Sering salah dalam melafalkan bacaan.
  • Sering terbalik saat mengucapkan huruf dan kata-kata.
  • Butuh waktu lama untuk menulis.
  • Sulit mengucapkan kata yang tidak umum.
  • Sulit menemukan kata yang tepat untuk menjawab.
  • Sulit mengingat warna, angka, dan huruf.

Artikel Lainnya: Kenali Ciri-ciri Anak Disleksia Berdasarkan Usia

Mereka tetap memiliki kecerdasan serta motivasi yang kuat untuk belajar. Anak disleksia memang agak kesulitan ketika disuruh membaca, tapi mereka memahami maksud dari kalimat-kalimat yang diutarakan lawan bicaranya. 

Tak cuma itu, tingkat IQ anak disleksia umumnya cukup tinggi dan pikiran-pikiran yang dimilikinya pun kerap out of the box.

Walaupun ketika melafalkan kata anak disleksia sering kesusahan karena adanya bagian otak yang terganggu (biologis), intinya mereka memiliki hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan yang layak. 

Mereka bisa berkembang seperti anak-anak lain dan justru karena stigmalah yang membuat mereka kehilangan kepercayaan diri. 

Karena itu, memilih sekolah yang tepat untuk anak disleksia merupakan kewajiban orang tua yang tak boleh diremehkan. 

Artikel Lainnya: Strategi Belajar yang Sesuai untuk Anak Disleksia

2 dari 4 halaman

Pilih Sekolah Umum atau Homeschooling?

Sementara itu, menurut seorang Psikolog Pendidikan, Founder Kelas Koki Cilik (Kekoci) dan bagian dari Safe Kids Indonesia (SKI), Natasya Dotulong, M.Psi.,Psikolog, disleksia sendiri sebenarnya tidak ada hubungannya dengan kemampuan intelektual seorang anak.

“Di berbagai aspek lain, di kemampuan kognitif anak itu, tidak terganggu. Jadi, anak disleksia nggak punya masalah kognitif yang besar,” jelasnya. 

Psikolog Natasya menambahkan, “Yang perlu diperhatikan orang tua adalah Anda bisa melakukan intervensi dini dengan mengajarkan menulis, mengajarkan mengeja, lalu sering-sering melakukan pengulangan. Orang tua tidak boleh mudah menyerah.”

Anak disleksia butuh dibantu orang terdekatnya agar kemampuan literasinya semakin baik. 

Hal tersebut sebenarnya bisa dilakukan bersamaan saat dia mengikuti pendidikan formal di sekolah. Dengan demikian, sah-sah saja jika Anda ingin memasukkan anak ke sekolah umum. 

“Yang penting, orang tua memberikan informasi kepada pihak sekolah terkait kesulitan belajar anaknya supaya sekolah dapat memfasilitasi kegiatan belajar dengan lebih baik,” ujar Psikolog Natasya

Ia juga menambahkan, kemampuan guru di sekolah umum dalam memahami kondisi anak disleksia juga wajib diperhatikan. 

“Jadi, pemilihan sekolah ini sangat bergantung pada sekolah umum yang dipilih. Apakah sekolah umum yang dipilih itu mampu atau tidak memahami siswa disleksia? Lalu, ada atau tidak hasil komunikasi yang baik antara orang tua dan guru? Ini bisa jadi pertimbangan saat kita mau memasukkan anak ke sekolah tertentu,” kata Psikolog Natasya. 

Apabila hingga saat ini orang tua tidak menemukan sekolah formal umum yang pas dan bisa memahami serta memfasilitasi kondisi buah hati, dr. Reza Fahlevi, Sp.A. memperbolehkan orang tua memilih homeschooling untuk anak disleksia. 

“Karena bagaimana pun juga, mereka butuh perhatian ekstra dan pengajaran khusus,” kata dr. Reza. 

Artikel Lainnya: Latihan Membaca dan Menulis untuk Anak Disleksia

3 dari 4 halaman

Terapi yang Bisa Dilakukan bersamaan dengan Sekolah Anak Disleksia

Seperti yang sempat disinggung di atas oleh Psikolog Natasya, bantuan atau terapi profesional untuk anak disleksia bisa dilakukan bersamaan saat si kecil menempuh pendidikan formal. 

Hal itu pun disetujui oleh dr. Reza. Ada pun sejumlah terapi yang dapat meningkatkan kemampuan baca tulis anak disleksia, antara lain:

  • Orton-Gillingham

Dalam metode ini, anak disleksia akan mencocokkan huruf dengan suara dan mengenali pelafalan huruf tersebut secara bertahap. Biasanya, ini fokus pada tingkatan kata terlebih dulu, baru ke kalimat. 

Contoh, kita pakai kata ”kuku”. Anak harus mengenali seperti apa pelafalan huruf “k” dan “u”, lalu memilih kata-kata yang membentuk pelafalan dua huruf itu. Setelah anak sudah bisa mengenali dan memahami, tekniknya pun dibalik. Anak disleksia harus bisa mengenali kata-kata yang memakai pelafalan dua huruf tadi.

  • Instruksi Multisensori

Metode yang satu ini memanfaatkan seluruh indera mereka untuk belajar. Ini memungkinkan mereka untuk belajar dengan caranya sendiri. 

Alhasil, mereka jadi mengenali dan memanfaatkan indera terkuatnya untuk beraktivitas, tetapi sekaligus meningkatkan kemampuan inderanya yang lemah. 

  • Terapi dengan Metode Fonik

Metode ini mengasah kemampuan visual dan auditori dengan menamakan huruf sesuai dengan bunyi bacaannya. Misalnya, huruf F dibunyikan "ef", huruf Z dibunyikan "zet", dan seterusnya. 

Mengeja, membaca, menulis, serta memahami susunan huruf pada kata-kata tertentu, lalu menyusun kalimat juga harus diajarkan.

Itu dia pertimbangan bagi orang tua ketika harus memilih sekolah anak disleksia. Dukung selalu apa pun kondisi anak supaya tumbuh kepercayaan di dalam dirinya dan dia bisa berkembang dengan optimal. 

Apabila masih ada pertanyaan seputar pendidikan dan kesehatan anak, langsung saja konsultasikan hal tersebut pada dokter atau psikolog kami lewat fitur LiveChat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar