Sukses

Tinggal di Bekas TKP, Bisakah Pengaruhi Mental?

Ada pandangan, tinggal di tempat kejadian perkara (TKP) bisa memengaruhi kondisi mental si penghuni baru. Benar tidaknya hal tersebut, ini pandangan psikolog.

Banyak yang bisa memengaruhi kesehatan mental, termasuk lingkungan sekitar. Semakin ideal lingkungan tersebut, makin oke pula kondisi jiwa. Bagaimana jika Anda tinggal di sebuah lingkungan yang sebelumnya menjadi tempat kejadian perkara alias TKP?

Kepada Klikdokter, Michael (34), bukan nama sebenarnya, menceritakan pengalamannya tinggal di bekas TKP. 

“Setiap pulang dan istirahat di kamar, bawaannya berat banget, penat! Padahal, jujur, masalah saya yang nggak berat-berat sekali. Tapi setiap ada di ruangan, malah seperti depresi,” jelasnya. 

Setelah mengetahui bahwa rumahnya dulu pernah jadi lokasi bunuh diri, dia pun memutuskan pindah demi mendapatkan ketenangan. Lantas, apa tanggapan psikolog mengenai pengaruh tempat tinggal terhadap kesehatan mental seseorang?

1 dari 4 halaman

TKP dan Pengaruhnya ke Mental

Menanggapi persoalan di atas, begini penjelasan Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog. Menurutnya, yang pada akhirnya membuat lingkungan itu terasa semakin negatif adalah pikiran kita sendiri sebagai penghuni. 

“Misalnya, Anda sudah punya informasi terkait lingkungan sekitar. Contohnya, Anda tinggal di salah satu rumah atau apartemen yang sebelumnya menjadi TKP, baik itu pembunuhan, transaksi narkoba, prostitusi, atau kejadian buruk lainnya.” 

“Ketika tinggal di daerah sana, Anda akan berkata dalam hati ‘Eh, ini, kan, tempat biasa orang melakukan tindakan kejahatan atau tempat orang meninggal’ dan lain-lain,” jelas Ikhsan.

Alhasil, dia menegaskan, pola pikir itulah yang memengaruhi perasaan serta persepsi tentang tempat tinggal tersebut, meski sebenarnya biasa-biasa saja.

Artikel Lainnya: Ingin Tetap Sehat Tinggal di Perkotaan? Perhatikan Ini!

2 dari 4 halaman

Dari Sugesti ke Psikosomatis!

Pola pikir memang sangat berdampak pada kondisi tubuh dan kondisi mental seseorang. Makin diulang-ulang background dari tempat tinggal yang Anda pilih, makin intens pula perasaan dan persepsi negatifnya. Dengan demikian, sugesti yang sangat berperan di sini.

Kehidupan sehari-hari pun bisa terganggu, bahkan kesehatan fisik ikut memburuk alias kena psikosomatis! 

Kondisi ini adalah penyakit atau gejala fisik yang dirasakan seseorang akibat kondisi mental yang terganggu. 

Contohnya, saat stres dan cemas, asam lambung naik, perut melilit, dan keringat dingin. Lalu, saat sedih, badan pun terasa lemas, sakit kepala, tetapi sulit untuk ditidurkan. Semua ini bisa terjadi ketika pola pikir Anda dipenuhi oleh hal-hal negatif. 

Artikel Lainnya: Inilah Alasan Pasangan Ingin Hidup Mandiri Setelah Menikah

3 dari 4 halaman

Mesti Pindah atau Bertahan?

Sementara itu, soal keputusan untuk pindah atau tetap bertahan di lingkungan tempat tinggal yang sudah dilabeli negatif oleh banyak orang, dikembalikan lagi ke masing-masing individu.

Psikolog Ikhsan berpendapat, “Ya, kalau dirasa memang sudah sangat tidak nyaman, membuat Anda jadi cemas setiap saat, dan terganggu aktivitasnya, baiknya pindah ke tempat yang lebih aman dan nyaman.”

“Lagi pula, harapannya kalau kita pulang ke rumah itu mencari ketenangan kan? Kalau sampai di rumah malah tegang dan tak nyaman, ya, buat apa? Lebih baik cari tempat lain,” ia berkata.

Terkadang, biaya pun jadi penghambat Anda untuk pindah. Mau tak mau, Anda mesti bertahan di tempat tinggal yang sekarang. 

Agar latar belakang dari tempat tinggal tidak sampai mengganggu kehidupan, Ikhsan juga menyarankan Anda untuk mengubah pola pikir. 

“Ini kunci utamanya, yaitu mengubah pola pikir. Sama seperti orang, tempat punya masa lalu, jadi coba move on dan anggap bahwa rumah atau apartemen tersebut adalah tempat yang nyaman,” sarannya.

Artikel Lainnya: Tinggal Sendirian Tingkatkan Risiko Gangguan Mental?

Mengubah interior dengan nuansa yang lebih cerah dan hangat, pencahayaan yang terang, selalu dibersihkan, dan meletakkan beberapa tanaman mini di dalamnya mampu memberikan efek positif pada ruangan tersebut. Beribadah di dalam rumah pun turut menambah nilai positif. 

Intinya, tempat tinggal harus sering diurus agar penghuninya tidak melulu dipenuhi oleh pikiran-pikiran negatif. Kenal dengan beberapa tetangga juga bisa membuat hidup lebih tenang, lho.

Jadi, ketika ada momen di mana Anda membutuhkan pertolongan, mereka bisa membantu dan begitu pula sebaliknya. 

Itu dia penjelasan tentang pengaruh tempat tinggal terhadap kesehatan mental. Untuk informasi dengan tema psikologi lainnya, Anda bisa dapatkan di aplikasi Klikdokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar