Sukses

Dampak Buruk Co-Parenting Pada Kondisi Mental Anak

Jadi salah satu pilihan pola asuh anak setelah proses perceraian, apa dampaknya bagi anak

Perceraian bukanlah suatu peristiwa mudah untuk dihadapi setiap pasangan, apalagi bagi anak-anak. Meski ada berbagai macam alasan mengapa orang tua memutuskan bercerai, tapi tidak setiap anak bisa menerima perpisahan orang tuanya dengan baik. 

Alhasil, banyak orang tua yang harus menerapkan pola asuh co-parenting sebagai gantinya. Apa yang dimaksud dengan co-parenting dan apa dampaknya bagi anak?  

1 dari 3 halaman

Perceraian dan Pola Asuh Co-Parenting

Co-parenting adalah pola asuh anak yang dilakukan secara bersama-sama meskipun ayah dan ibunya sudah bercerai atau berpisah. 

Ikhsan Bella Persada, M. Psi.,Psikolog mengatakan, co-parenting banyak dilakukan oleh pasangan yang telah bercerai dan mereka saling berkomitmen untuk mengasuh anak bersama-sama. 

“Dalam pola asuh co-parenting, kedua orang tua diharapkan tetap berkomitmen dan aktif dalam mengasuh anak. Misalnya saja, dengan memenuhi semua kebutuhan anak dan menjaga relasi baik antara orang tua dan anak,” ujar Ikhsan. 

Co-parenting sendiri memiliki dampak positif dan negatif untuk anak. Dari segi positifnya, anak akan tetap merasa aman dan dicintai oleh kedua orang tuanya meski sudah bercerai. 

Lalu, menurut Ikhsan, anak tetap memiliki kehidupan yang konsisten dan bisa memiliki penyelesaian yang bijak ketika menghadapi suatu masalah. 

Sedangkan dampak negatifnya, “Jika co-parenting ini tidak berjalan dengan baik akibat keegoisan dari orang tua, maka anak bisa semakin terpuruk,” jelas Ikhsan. 

“Risikonya, akan timbul rasa benci, kesal, dendam, dan sakit hati yang mendalam pada diri anak. Bahkan, tidak sedikit anak yang justru berubah perilaku menjadi buruk ketika menghadapi perceraian dan pola asuh yang tidak baik,” tambah Ikhsan melengkapi.

Artikel Lainnya: Mengenal Pola Asuh Co-Parenting untuk Pasangan Bercerai

2 dari 3 halaman

Sering Berpindah Tempat Tinggal, Ini Efeknya Bagi Anak

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, tidak selamanya co-parenting berjalan mulus dan membawa dampak positif. Anda juga tidak boleh menutup mata bahwa perceraian memang bisa membawa dampak buruk bagi psikis seorang anak.

Belum lagi jika mereka diharuskan untuk berpindah-pindah tempat dari rumah Ibu dan Ayah agar pembagian pola asuh sama rata. 

Dijelaskan oleh Ikhsan, berikut dampak negatif pada anak akibat sering pindah tempat tinggal karena orang tuanya bercerai: 

  • Anak Merasa Lelah 

“Seminggu di rumah ayah, seminggu di rumah ibu, atau sebulan di rumah ayah, sebulan di rumah ibu. Sejujurnya, ini pasti sangat melelahkan untuk anak. Di mana mereka harus beradaptasi setiap bulan atau minggunya di rumah baru dengan pola asuh yang pastinya berbeda. Tidak hanya lelah fisik, tapi batin anak juga bisa lelah,” ujar Ikhsan. 

  • Anak Jadi Bingung 

Hampir semua anak pasti akan merasa berat ketika kedua orang tuanya bercerai, terutama yang usianya masih kecil.

Mereka mungkin bertanya, mengapa harus berpindah-pindah tempat tinggal setiap bulannya, mengapa kadang tinggal sama ibu dan kadang sama ayah? Pertanyaan seperti itu mungkin akan terbesit di pikiran buah hati. 

Kebingungan ini bisa berdampak buruk pada kemampuannya untuk bersosialisasi dengan lingkungan karena terus berpindah-pindah tempat. 

Artikel Lainnya: Kiat Sukses Menjalankan Pola Asuh Co-Parenting

  • Anak Merasa Kesepian

Salah satu dampak yang terjadi ketika anak menghadapi perceraian adalah mereka merasa kesepian. Terutama jika mereka terus berpindah-pindah tempat tinggal. 

Mereka mungkin mempertanyakan pada diri sendiri, apakah mereka keberadaan mereka diinginkan atau tidak. Jika dibiarkan, ini akan berpengaruh besar pada mental anak besar nanti. 

Supaya dapat mengurangi dampak tersebut, Ikhsan menyarankan agar orang tua tetap berkomitmen untuk membahagiakan dan memprioritaskan setiap kebutuhan anak.

Jangan membawa permasalahan rumah tangga atau permasalahan pribadi kepada anak karena bisa berdampak pada kondisi psikisnya.

“Saling terbuka dengan anak dan mantan istri atau suami. Diskusi dan terapkan mengenai aturan bersama dan harus tertulis. Biar pada proses pengasuhan, aturan aturan yang sudah dibuat itu jelas dan tidak saling salah paham,” tutup Ikhsan.

Apabila ingin tahu lebih lanjut tentang pola asuh co-parenting, baca terus artikel kesehatan keluarga di aplikasi Klikdokter. Sedangkan untuk konsultasi online, gunakan fitur LiveChat 24 jam. 

(OVI/AYU)  

0 Komentar

Belum ada komentar