Sukses

Pernah Kena Hepatitis A, Bolehkah Donor Darah?

Penderita hepatitis B dan C dilarang donor darah. Tapi, bagaimana dengan hepatitis A? Ini faktanya!

Donor darah adalah kegiatan mulia yang dapat menyelamatkan banyak nyawa. Kegiatan ini memiliki beberapa persyaratan yang benar-benar harus dipatuhi sehingga tak bisa dilakukan oleh sembarang orang.

Dari sekian banyak syarat, salah satunya adalah soal hepatitis donor darah. Disebutkan, penderita hepatitis B dan C tidak boleh menyumbangkan darahnya.

Lalu, bagaimana dengan orang yang sudah sembuh dari hepatitis A? Bolehkah mantan penderita hepatitis A donor darah?

1 dari 4 halaman

Hepatitis dan Larangan Donor Darah

Adanya larangan bagi penderita hepatitis untuk menyumbangkan darah tentu bukan tanpa sebab.

Menurut dr. Dyah Novita Anggraini, hepatitis B maupun C sama-sama dapat berkembang di dalam darah dan menimbulkan komplikasi gagal hati, sirosis, serta kanker.

Virus hepatitis B dan C dapat berpindah ke orang lainnya melalui transfusi atau donor darah. Bahkan, petugas yang berkontak dengan darah dan jarum suntik yang digunakan oleh penderita hepatitis B atau C juga memiliki risiko untuk tertular.

Selain itu, penularan hepatitis B dan C juga dapat terjadi lewat hubungan seks tanpa kondom dan berbagi pisau cukur atau sikat gigi yang digunakan bersamaan.

Atas dasar itulah, penderita hepatitis B dan C tak boleh donor darah, sekali pun gejalanya sudah membaik.

Perlu diketahui, hepatitis C itu ada seumur hidup di dalam tubuh seseorang. Walaupun Anda sudah dinyatakan sembuh, virus tersebut masih ada. Tentunya, ini dikhawatirkan dapat menular ketika melakukan donor darah.

Artikel Lainnya: 5 Hal yang Perlu Dihindari Jika Ingin Donor Darah

2 dari 4 halaman

Hepatitis A Boleh Donor Darah, Benar atau Tidak?

Di sisi lain, ternyata orang yang sudah sembuh dari hepatitis A tetap boleh menyumbangkan darahnya kepada orang lain. Lho, kok bisa? Bukannya sama-sama hepatitis?

“Beda dengan hepatitis yang lain, orang yang sudah sembuh dari hepatitis A boleh melakukan donor darah,” ujar dr. Devia Irine Putri.

“Mengapa? Karena kalau hepatitis A itu ditularkannya lewat makanan atau minuman yang terkontaminasi, bukan lewat darah. Lagi pula, penyakit ini sifatnya sementara saja, bukan yang menetap,” tegasnya.

Jadi, buat mantan penderita penyakit hepatitis A yang kini ingin menyumbangkan darah, hal tersebut bisa-bisa saja dilakukan. Soal larangan hepatitis donor darah, mantan pasien hepatitis A adalah pengecualian.

Faktanya, penyakit hepatitis A tidak sampai menyebabkan kerusakan organ hati secara permanen. Pengobatannya pun terbilang tidak memiliki metode khusus. karena sangat bergantung pada daya tahan tubuh pasien dalam melawan virus.

Hal terpenting, orang yang terkena penyakit hepatitis A harus banyak istirahat, diberi obat antimual dan muntah, serta tidak mengonsumsi makanan atau minuman yang merusak organ hati seperti alkohol dan makanan berlemak.

Artikel Lainnya: Sejuta Manfaat Sehat Rutin Donor Darah

3 dari 4 halaman

Sembuh dari Hepatitis A, Lakukan Persiapan Ini sebelum Donor Darah!

Meski diperbolehkan, dr. Devia mengingatkan mantan penderita hepatitis A untuk tetap melakukan persiapan khusus sebelum menyumbangkan darah. Adapun beberapa persiapan perlu diterapkan, yaitu:

  • Pastikan sudah pulih total alias benar-benar terbebas dari hepatitis A.
  • Istirahat yang cukup sebelum donor darah.
  • Makan dan minum yang cukup. Usai sembuh, rasa kelelahan pada penderita hepatitis masih kerap terasa.

Karena itulah, dua hal tersebut tidak boleh dilupakan mengingat setelah pengambilan darah, volume darah akan berkurang, dan bisa menyebabkan pusing dan lemas.

  • Syarat-syarat donor darah lainnya wajib terpenuhi, seperti usia, tekanan darah, berat badan minimal 45 kilogram, dan kadar hemoglobin cukup.
  • Jarak dengan kegiatan donor darah sebelumnya minimal 3 bulan.

Mantan penderita hepatitis A boleh donor darah. Larangan hepatitis donor darah hanya berlaku untuk kasus hepatitis B dan C.

Bila masih ada pertanyaan seputar donor darah untuk hepatitis atau keluhan medis lainnya, konsultasikan hal tersebut pada dokter lewat fitur LiveChat 24 jam atau dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar