Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Jakarta PSBB Lagi karena RS Penuh, Tepatkah Langkah Ini?

Jakarta PSBB Lagi karena RS Penuh, Tepatkah Langkah Ini?

Kebijakan PSBB total diambil lagi oleh Gubernur Anies Baswedan, karena kapasitas RS dan area pemakaman khusus virus corona hampir tak cukup. Apa kata medis tentang ini?

Buat warga Jakarta yang  sudah mulai melonggarkan bahkan mengabaikan protokol kesehatan virus corona dan punya segudang janji untuk kumpul-kumpul, sepertinya hal tersebut harus ditunda dulu. 

Gubernur Anies Baswedan menarik “rem tangan” alias memberlakukan kembali PSBB Jakarta, Senin 14 September 2020. Dilakukannya hal tersebut bukan tanpa sebab. Kasus positif virus corona di Indonesia terus melonjak.

1 dari 4 halaman

RS Jakarta Penuh, Pemakaman Khusus COVID-19 Hampir Habis

Bagaimana situasi Indonesia dalam pandemi virus corona? Sekarang ini, sudah 200 ribuan lebih orang yang terinfeksi COVID-19. 

Bahkan, kasus harian positif virus corona di tanah air sering kali di atas 3.000 orang per hari. Apabila PSBB total tidak dilakukan, maka pada tanggal 17 September seluruh tempat tidur isolasi akan full terisi.

“Hingga hari ini, sudah terisi 77 persen dari total kapasitas tempat tidur isolasi,” kata Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, saat konferensi pers, Rabu (09/09). 

“Ketersediaan ICU saat ini berjumlah 528 tempat tidur. Itu hanya cukup untuk sampai 15 September mendatang,” sambungnya.

Begitu pula dengan area pemakaman khusus pasien COVID-19. Kapasitas untuk jenazah dengan protokol COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur, juga sudah hampir semuanya terisi. Diperkirakan, area pemakaman tersebut full pada Oktober mendatang.

Padahal, sekitar 1.100 lubang pemakaman sudah disiapkan sejak akhir Agustus 2020. Mengingat masih akan ada terus korban meninggal akibat infeksi virus corona, dikhawatirkan jumlah tersebut akan kurang. 

Untuk mencegah hal itu, TPU Pondok Ranggon rencananya akan diperluas.Segala kemelut yang terjadi di DKI Jakarta akibat COVID-19 pada akhirnya membuat Gubernur Anies memberlakukan PSBB total. 

Semua tempat ibadah, tempat hiburan, restoran, kegiatan publik, dan transportasi umum ditutup dan dibatasi layanan serta kapasitasnya. 

Para karyawan di perkantoran diharapkan tidak bekerja langsung di kantor. Semuanya kembali bekerja di rumah (WFH) sampai waktu yang ditentukan nanti.

Artikel Lainnya: Jarak 1 Meter Tak Mempan Lagi Cegah Penularan Virus Corona

2 dari 4 halaman

Apa Pendapat Dokter Soal Pemberlakukan PSBB Total (Lagi)?

Menanggapi kebijakan rem darurat yang diambil Pemprov DKI Jakarta, begini penjelasan dr. Bobtriyan Tanamas

Dokter yang kerap disapa dr. Bobby itu merupakan salah satu tenaga medis yang sempat terpapar COVID-19 saat bertugas di rumah sakit dan berhasil sembuh.

“Saya sangat setuju dengan kebijakan yang telah diambil pemprov. Tapi sebenarnya, langkah PSBB total atau rem darurat ini terbilang agak terlambat,” kata dr. Bobby. 

“Seharusnya, ketika kasus terus bertambah di atas 1.000 per hari, PSBB total diberlakukan kembali. Kalau ini, mesti tunggu sampai di atas 3.000 kasus per harinya dan menunggu semua-semuanya penuh, baru pakai rem darurat,” sambungnya.

“Kalau boleh saya jujur, sebenarnya kita terlalu lama berada di PSBB transisi. Antara terlalu lama atau sebenarnya belum saatnya untuk berada di fase transisi atau new normal,” ujar dr. Bobby, menyambung pernyataan sebelumnya.

Sebagai tenaga medis yang berhadapan langsung dengan para pasien, dr. Bobby merasakan langsung dampak dari kasus positif COVID-19 yang semakin banyak. 

“Hal yang lebih menyedihkan lagi buat saya adalah mereka-mereka yang tidak percaya bahwa virus corona nyata. Prankdemic katanya, bukan pandemic,” tutur dr. Bobby, miris. 

Intinya, sebagai tenaga medis yang tahu bagaimana kondisi rumah sakit saat ini, dr. Bobby sangat setuju dengan pemberlakuan PSBB total di Jakarta mulai Senin, 14 September 2020. 

Hal senada juga dilontarkan oleh dr. Sepriani Timurtini Limbong. Menurutnya, diberlakukannya lagi PSBB total di Jakarta oleh Pemprov DKI Jakarta sudah tepat. 

“Ini sudah tepat, memang harus begini. Ini sama seperti komitmen Pemprov DKI Jakarta yang sebelumnya. Mereka sempat berjanji, jika kasus di PSBB transisi melonjak tajam, maka akan dilakukan PSBB ulang. Untuk saat ini, mitigasinya sudah pas. Rem darurat memang disarankan oleh ahli epidemiologi,” tuturnya. 

Artikel Lainnya: Rekor, Tambahan Pasien Virus Corona di Indonesia dan Jakarta Terbanyak!

3 dari 4 halaman

Ingat Protokol Kesehatan, Masyarakat Wajib Lakukan Ini

Sementara itu, tenaga medis lainnya, dr. Dyah Novita Anggraini mengingatkan kepada kita semua jangan sampai kita berada di posisi orang-orang yang sedang kesulitan mencari fasilitas kesehatan untuk menolong diri. 

“Fasilitas ICU yang tersedia semakin sedikit, jangan sampai kita atau keluarga kita berada di posisi sebagai pasien yang mencari-cari fasilitas ICU, tetapi tidak tersedia. Jalan-jalan, liburan, kumpul dengan teman masih bisa Anda lakukan nanti jika pandemi sudah berakhir. Nyawa tidak bisa kembali!” tegasnya. 

Tidak hanya pemerintah dan para tenaga medis, masyarakat juga perlu berperan aktif dalam membantu memutus rantai penyebaran virus corona di Indonesia. 

Tanggung jawab dengan kesehatan diri sendiri dan orang sekitar Anda. Jangan egois, kita tidak hidup sendiri. 

Tetap gunakan masker saat berada di luar rumah, jaga jarak, dan rajin cuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer. Terapkan juga gaya hidup dan pola makan yang sehat, agar sistem kekebalan tubuh tetap optimal.

Jangan lupa hindari berada di ruangan yang berventilasi buruk. Usahakan untuk membuat ventilasi yang baik agar sirkulasi udara lancar dan virus tak terperangkap di dalam ruangan.

Pahami setiap aturan PSBB yang mulai kembali diberlakukan di Jakarta, Senin, 14 September 2020. Dapatkan informasi terkait gejala COVID-19 atau masalah kesehatan lainnya dengan berkonsultasi pada dokter melalui LiveChat 24 jam di aplikasi Klikdokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar