Sukses

Ini Alasan Selebriti Sering Menutupi Penyakitnya

Segar bugar di layar kaca, tapi ternyata memiliki penyakit parah. Lantas, kenapa selebriti cenderung menutupi penyakitnya? Bukankah lebih mudah terbuka saja?

Kematian aktor Chadwick Boseman sungguh mengejutkan dan membuka mata kita semua. Chadwick berhasil menutupi penyakit kanker kolon yang dideritanya selama bertahun-tahun.

Kala menjadi Black Panther, tak terlihat sama sekali bahwa ada penyakit mematikan di dalam tubuhnya. Begitu pun dengan David Beckham dan istrinya, Victoria.

Awal Maret lalu, keduanya terinfeksi COVID-19. Mereka merasakan sakit tenggorokan dan bahkan beberapa stafnya juga mengalami sakit parah! Untung saja, pasutri tersebut berhasil sembuh dan sudah kembali beraktivitas. Kondisi ini baru diketahui publik setelah mereka sembuh.

Berkaca dari kedua kasus di atas, kenapa, ya, sedari awal para selebriti tidak langsung terbuka kepada publik mengenai kondisi kesehatan yang dialaminya? Apakah itu sangat memengaruhi kariernya atau sebenarnya ada faktor lain?

1 dari 3 halaman

Kata Psikolog soal Publik Figur yang Merahasiakan Penyakit

Menanggapi pertanyaan soal publik figur yang menutupi penyakit, begini penjelasan Ikhsan Bella Persada, M.Psi., psikolog.

Menurutnya, setiap orang tentu punya alasan tersendiri mengapa mereka menutupi penyakit yang dideritanya. Kurang lebih, seperti inilah beberapa alasannya:

1. Harga Diri Menurun

“Bagi sebagian artis, ketika orang lain mengetahui bahwa dia sakit, bisa jadi membuat harga dirinya menurun. Apalagi kalau si artis memang masih menyangkal atau belum berdamai dengan kondisinya sendiri,” jelasnya.

2. Aktivitas Terbatas, Karir Amblas!

Ikhsan menambahkan, “Selain itu, ketika sakitnya diketahui banyak orang, tentu aktivitasnya menjadi banyak yang dibatasi. Hal itu pasti sangat bisa memengaruhi kariernya. Karena itulah, mereka merasa lebih baik menutupi saja, selama masih bisa.”

3. Diperlakukan Spesial, Jadi Berasa Lemah

Bekerja di dunia hiburan tentu membutuhkan kualitas fisik dan mental yang sekuat baja.

Biasanya, jika sudah banyak orang yang tahu soal kondisi kesehatan si artis, si artis akan diperlakukan spesial dan sering dikasihani.

Dengan diperlakukan seperti itu, mereka justru merasa lemah dan tidak mampu melakukan apa-apa. Semangat untuk hidup pun menjadi berkurang. Sebagian dari mereka malah ingin diperlakukan normal saja layaknya orang sehat.

Artikel Lainnya: Daftar Artis atau Seleb yang Memilih Menjadi Vegan

4. Media Hanya Fokus Urusan Pribadi, Bukan Prestasinya

Sebagai publik figur yang masih aktif, tentu ingin orang lain lebih menyorot prestasi dan karya-karya kita ketimbang urusan pribadi, termasuk penyakit.

Dikhawatirkan, jika kondisi medisnya sudah tersebar luas, media malah lebih menyorot hal tersebut. Segala tindakan yang dilakukan si artis juga bisa saja selalu dikaitkan dengan penyakitnya. Tentu itu sangat tak nyaman buat mereka.

5. Takut Dianggap Cari Perhatian atau Simpati

Sebagai artis, mereka dituntut untuk profesional dan “sempurna” di segala kondisi, tanpa terkecuali.

Mungkin, beberapa dari mereka khawatir saat mengaku sakit ke hadapan publik malah dianggap sebagai alasan untuk tidak bekerja secara profesional.

6. Memang Ingin Menyimpannya Sendiri

Tak semua orang bisa terbuka dengan kondisi pribadinya. Depresi, penyakit, kondisi ekonomi, kondisi keluarga, kondisi percintaan, kerap menjadi hal yang disimpan sendiri.

Sebagian orang memang sangat membedakan kehidupan pribadi dan pekerjaan, sehingga mereka tak mau bagian yang pribadi tersebut diusik.

7. Tuntutan Manajemen atau Pihak-pihak Terkait

Terkadang, apa yang dilakukan oleh artis bukan sepenuhnya kehendak dirinya, melainkan ada turut campur manajemen dan pihak-pihak terkait, salah satunya brand.

Menunjukkan suatu hal seperti kondisi penyakit, padahal si artis menjadi brand ambassador dari produk kesehatan, tentu terasa janggal di mata masyarakat.

Artikel Lainnya: Mengapa Banyak Idola Korea Mengalami Kecemasan?

2 dari 3 halaman

Sebaiknya Terbuka Saja atau Tidak, Sih?

Terbuka atau merahasiakan penyakit memang menjadi pilihan pribadi. Namun, Psikolog Ikhsan menyarankan, apabila Anda sudah berada di tahap menerima alias berdamai dengan keadaan dan keadaannya juga memungkinkan, akan lebih baik terbuka saja dengan kondisi tubuh.

“Ya, tentunya lebih baik terbuka, ya. Ini umumnya bisa dilakukan ketika mereka sudah berada di tahap acceptance atau penerimaan. Namun, balik lagi tergantung kesiapan individu tersebut dan kesepakatan dengan pihak-pihak terkait. Kalau belum siap, tetapi memaksakan untuk terbuka, itu justru membuat dirinya tidak nyaman dan stres!” jelasnya.

Itu dia beberapa alasan mengapa seorang publik figur menutupi penyakit yang diderita. Karena ini bersifat subjektif, mungkin masih ada beberapa alasan lagi mengapa seseorang merahasiakan penyakitnya. Bisa karena hal lain dan hanya orang tersebut yang tahu.

Sebagai masyarakat sekaligus fans, sebaiknya kita hanya bisa mendukung dan mendoakan kesembuhannya  saja. Untuk informasi kesehatan mental lainnya, bisa Anda dapatkan dengan mengunduh aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar