Sukses

Anak Temperamental Lebih Berisiko Bunuh Diri

Anak bertemperamen tinggi umumnya sulit mengendalikan emosi. Alhasil, anak jadi lebih mudah stres, depresi, lalu memiliki kecenderungan bunuh diri. Benarkah?

Tidak pernah ada orang tua yang mau kehilangan anaknya, termasuk karena bunuh diri. Setiap kali mendengar kasus anak bunuh diri, hati para orang tua pun langsung sedih. 

Umumnya bunuh diri sering disebabkan oleh kondisi depresi. Tetapi tahukah Anda, bahwa anak  temperamental juga lebih berisiko bunuh diri? 

Ya, temperamen anak yang tidak dikelola dengan baik berisiko menyebabkan ia punya pikiran bunuh diri nantinya. 

Untuk tahu bagaimana cara mengatasi dan mencegah anak punya temperamen yang buruk, simak pembahasan berikut ini. 

1 dari 4 halaman

Benarkah Anak dengan Temperamen Tinggi Lebih Berisiko Bunuh Diri?

Sebelum mengetahui seberapa besar risiko keinginan anak bunuh diri, sebaiknya orang tua mengetahui dulu arti dari temperamental itu sendiri. 

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan temperamental bukan berarti sikap pemarah, melainkan sebuah perbedaan perilaku dan emosional masing-masing orang dalam merespon suatu hal. 

Misalnya, ketika masuk sekolah, anak dengan temperamen easy child merespons hari pertama sekolah dengan langsung bercanda dengan anak-anak lain. 

Lalu, ada juga anak dengan temperamen difficult child yang perilakunya lebih sulit diatur dan slow to warm up. Anak dengan temperamen ini butuh waktu untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan.

“Kalau dalam konteks temperamen difficult child, anak itu memang punya risiko bunuh diri lebih besar ketimbang anak dengan temperamen easy child. Mengapa? Ini karena mereka lebih sulit untuk mengontrol emosinya dan mudah mengekspresikan rasa tidak senangnya terhadap sesuatu,” ujar Ikhsan. 

Artikel Lainnya: Anak yang Bisa Kendalikan Emosi Punya Nilai Lebih Baik di Sekolah?

2 dari 4 halaman

Apa yang Melatarbelakangi Sikap Temperamental Anak?

Jika tidak diatasi atau dikelola dengan baik, temperamen anak yang buruk memang bisa merugikan banyak orang termasuk dirinya sendiri. Lantas, apa yang menjadi penyebab anak memiliki temperamen yang tinggi alias sudah diatur? 

Ikhsan menjelaskan, ada tiga faktor yang menyebabkan seorang anak memiliki sikap temperamen buruk, yaitu:

  1. Faktor Biologis 

Faktor biologis atau keturunan menjadi salah satu penyebab anak temperamental. Jika Anda atau pasangan sulit mengatur emosi dengan benar, ini bisa menurun pada anak. 

  1. Faktor Pola Asuh

Menurut Ikhsan, pola asuh jadi salah satu faktor penyumbang terbesar anak memiliki sikap temperamental yang tinggi. 

“Anak akan melihat sikap orang tuanya untuk dijadikan panutan. Ketika melihat orang tuanya tidak bisa mengendalikan emosi dengan benar, secara tidak sadar, anak ikut melakukan hal yang sama. Anak jadi gegabah dalam mengambil keputusan atau bersikap seenaknya ketika hal yang diinginkan tidak sesuai ekspektasinya,” ujar Ikhsan.

  1. Faktor Lingkungan

Punya lingkungan yang buruk juga jadi faktor lainnya anak punya temperamen yang tinggi. Meski orang tua sudah mengajarkan hal yang benar di dalam rumah, bukan berarti anak bisa langsung mengerti. 

Karena itu, penting bagi orang tua untuk sabar, menjaga, dan memilah pertemanan yang baik dan buruk bagi anak. 

Orang tua juga perlu mendidik dan memberitahu hal mana yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan. Jangan lupa juga untuk memberitahu konsekuensinya. 

Artikel Lainnya: Benarkah Anak Pemarah Diturunkan dari Ayah yang Galak?

3 dari 4 halaman

Bagaimana Mengatasi Sikap Temperamen Anak?

Agar risiko bunuh diri bisa dicegah dan sikap anak tidak berdampak buruk di masa depan, orang tua harus cermat dalam mengatasi sikap temperamen si kecil.

Dijelaskan oleh Ikhsan, mengenali gaya temperamen anak merupakan cara pertama yang bisa dilakukan oleh orang tua. 

“Kenali gaya temperamen anak, dengan memahami jenis temperamen anak bisa bantu kita untuk tidak membandingkannya dengan anak lainnya. Tunjukkan emosi atau respons yang sewajarnya, jangan sampai tunjukin emosi marah-marah di depan anak,” kata Ikhsan. 

Selain itu, mengubah gaya parenting atau pola asuh juga jadi kunci penting untuk mengatasi temperamen anak. 

“Ubahlah gaya pola asuh yang tadinya mungkin terlalu ketat dan galak, usahakan jadi lebih demokratis. Konsisten dalam membuat suatu aturan, jangan sampai aturan yang dibuat tidak tegas,” kata Ikhsan.

Apabila temperamen anak sudah kelewat batas (suka mengamuk, menangis secara berlebihan jika menghadapi suatu hal), jangan ragu untuk meminta bantuan tenaga yang lebih profesional. 

Semakin cepat bantuan yang anak dapatkan, semakin rendah juga risiko bunuh diri atau hal bahaya lainnya yang dialami oleh anak. 

Apabila ada pertanyaan lain mengenai anak temperamental, jangan ragu konsultasi online dengan dokter atau psikolog lewat fitur Live Chat di aplikasi Klikdokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar