Sukses

Pewarna Makanan Bisa Mengatasi Virus Corona di Udara?

Ada studi yang melaporkan, penggunaan pewarna makanan dengan teknik tertentu dapat membunuh virus corona di udara! Lantas, apa kata dokter tentang hal ini?

Bukan untuk membuat kue atau minuman manis lainnya, kali ini pewarna makanan disebut-sebut bisa membunuh virus corona yang berada di udara alias airborne.

Hal tersebut tentu bikin warganet heran. Kok, bisa, ya, pewarna makanan yang gampang sekali ditemukan, murah, dan tidak mengandung alkohol, bisa membunuh virus berbahaya tersebut? 

1 dari 4 halaman

Berkenalan Dulu dengan Pewarna Makanan

Pewarna makanan pada dasarnya digunakan untuk memberi sentuhan warna pada makanan olahan supaya mirip dengan warna makanan atau bahan baku aslinya. 

Misalnya begini, warna daging yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan sosis berwarna kemerahan. Namun, karena sudah diolah sedemikian rupa, daging berubah menjadi warna abu-abu.

Meski rasanya enak-enak saja tanpa diberi warna tambahan, menyantap daging matang berwarna abu-abu di dalam roti hotdog kurang menggugah selera.

Karena itulah, pewarna makanan merah atau oranye/kecokelatan diberikan pada sosis tersebut. Tujuannya, agar menyerupai bahan baku aslinya dan makin menggugah selera orang yang makan. 

Pewarna makanan ada yang dibuat secara alami, tetapi ada juga yang artifisial. Untuk yang alami, biasanya orang-orang menggunakan kunyit, cabai, buah beet, daun suji, wortel, dan lain sebagainya. 

Sedangkan pewarna makanan buatan, biasanya dipakai adalah tartrazin, eritrosin, merah allura, kuning FCF, indigotin, dan lain-lain. 

Berbeda dengan pewarna makanan alami, pewarna makanan buatan harus dipergunakan dengan batasan tertentu karena dapat menyebabkan penyakit jika digunakan dalam jangka panjang dan berlebih. 

Artikel Lainnya: WHO Akhirnya Akui Ada Bukti Penularan Virus Corona Lewat Udara

2 dari 4 halaman

Bagaimana Pewarna Makanan Bisa Bunuh Virus Corona di Udara?

Inovasi penggunaan pewarna makanan untuk membunuh virus corona dilakukan oleh Purdue University, Amerika Serikat. Pewarna tersebut akan dipergunakan sebagai disinfektan untuk mensterilisasi dan menurunkan risiko infeksi. 

Tim Purdue mempresentasikan teknologi tersebut pada Juli lalu secara virtual dan disponsori oleh National Council of Entrepreneurial Tech Transfer. 

“Sebagian besar semprotan antivirus dan antibakteri yang digunakan untuk disinfektan udara, mengandung hidrogen peroksida aerosol, ozon, dan bahan lainnya yang sebenarnya juga bisa membahayakan kesehatan manusia jangka panjang,” kata Young Kim, Profesor Teknik Biomedis di Purdue University. 

"Selain itu, disinfektan yang mengandung titanium dioksida dan nanopartikel logam mulia juga dapat menimbulkan risiko karsinogenik dan sitotoksisitas," dia menambahkan. 

Karena itulah, metode baru diperlukan untuk mengatasi penularan virus corona di udara.  Metode tersebut adalah teknik fototerapi antivirus di udara.

Tim Purdue menggunakan pewarna makanan aerosol kecil yang disetujui FDA untuk mengurangi risiko penularan. Teknik fototerapi Ini disebut Photodynamic Airborne Cleaner (PAC).

“Kami telah mendemonstrasikan bagaimana aktivasi cahaya dari beberapa pewarna makanan menghasilkan oksigen tunggal. Itulah yang nantinya dapat digunakan untuk membunuh patogen di udara,” kata Kim. 

Kim menambahkan, “Dalam dunia kedokteran, oksigen tunggal sangat efektif dalam menonaktifkan virus. Kami sedang mengembangkan sistem penghasil aerosol dari pewarna makanan agar bisa bertahan di udara, tetapi tanpa membuat basah dan noda.” 

Para peneliti dari Purdue University berharap teknologi PAC dapat dipasang di rumah sakit dan ruangan lain yang di dalamnya terisi banyak orang (risiko penularan tinggi). 

Artikel Lainnya: Kerja di Ruangan Ber-AC? Ikuti Anjuran Pencegahan Penularan Virus Corona Ini!

3 dari 4 halaman

Kata Dokter Tentang Temuan di Atas

Menanggapi metode baru dari Purdue University untuk menonaktifkan virus corona di udara dengan pewarna makanan, begini tanggapan dr. Devia Irine Putri

Menurutnya, inovasi alat aktivasi cahaya dari pewarna makanan sehingga menghasilkan oksigen tunggal untuk membunuh virus sangatlah berguna.

“Apalagi pewarna makanan sangat mudah ditemukan dan terjangkau oleh masyarakat,” tutur dr. Devia. 

Kendati demikian, penemuan tersebut masih berupa penelitian. Hal ini membuat efektivitas serta risiko lain-lainnya masih belum diketahui secara pasti. 

Apabila hal itu sudah benar-benar dipastikan efektivitasnya dan tanpa efek samping yang merugikan, tentunya ini sangat berguna. Masyarakat pun dapat mencegah penularan virus corona di udara lewat teknologi tersebut.  

Bila Anda masih ada pertanyaan terkait COVID-19 ataupun topik kesehatan lainnya, langsung saja konsultasikan kepada dokter lewat fitur LiveChat 24 Jam di aplikasi Klikdokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar