Sukses

Virus Corona Menyimpan Kekuatan Tersembunyi

Virus corona yang bermutasi memang memiliki daya tular yang lebih besar dari sebelumnya, apakah berpengaruh pada efektivitas vaksin? Simak di sini.

Menghadapi pandemi virus corona, proteksi diri terhadap virus penyebab COVID-19 ini menjadi prioritas semua orang dari segala lapisan masyarakat. Berbagai upaya pencegahan terus dilakukan demi menghentikan siklus penularan.

Tak bisa dimungkiri, virus corona memang bisa menular dengan sangat cepat. Untuk lebih memahaminya, KlikDokter berbincang dengan ahli virologi dari Universitas Udayana, Prof. Gusti Ngurah Mahardika, mengenai sifat virus corona, daya tularnya, dan efektivitas vaksin terhadapnya.

Strain virus corona yang sekarang memiliki daya tular yang jauh lebih kuat dari virus SARS & MERS. Bahkan, Gusti mengatakan bahwa virus corona penyebab COVID-19 kali ini “memiliki kekuatan tersembunyi” sehingga memakan korban lebih banyak.

Berikut perbincangan lengkapnya:

1 dari 9 halaman

Apa yang Membedakan Virus Corona Saat Ini dengan virus SARS dan MERS?

Daya tular (transmissibility) virus COVID-19 bersifat community setting, berbeda dengan SARS dan MERS. Saya sudah bandingkan virus COVID-19, SARS, dan MERS terkait molekul spike protein-nya.

Uniknya, virus corona punya ciri yang mirip SARS dan MERS. Namun, ada juga ciri lain yang tidak mirip SARS dan MERS. Spike protein ini yang berperan dalam patogenisitas.

Jadi, pola epidemiologi dan patologi COVID-19 bisa menyerupai SARS dan MERS. Atau, bisa tidak menyerupai keduanya. Untuk lebih akuratnya, memang harus menunggu setelah pandemi berlalu.

Selain itu, intermediate host dari virus SARS, MERS, dan COVID-19 berbeda. MERS dari unta, SARS dari civet (sejenis musang), dan COVID-19 dari kelelawar menurut studi yang saya miliki.

MERS memiliki fatality rate cukup tinggi yaitu sekitar 35 persen, dan SARS 9 persen. Kalau COVID-19, masih harus ditunggu sampai pandemi selesai, baru bisa ditentukan fatality rate-nya.

Mengapa Virus Corona Berbahaya?

Menurut saya, ada satu hal yaitu daya tularnya yang sangat besar. Karenanya, jumlah orang yang terkena juga lebih banyak dibanding SARS dan MERS.

Bayangkan, SARS dalam 2-3 tahun hanya menginfeksi sekitar 8.000 orang, sedangkan COVID-19 baru 6 bulan sudah jutaan orang.

Artikel Lainnya: Apa Orang Indonesia Bisa Adaptasi dengan New Normal COVID-19?

2 dari 9 halaman

Apa yang Harus Dipahami Masyarakat Awam Mengenai Sifat Virus Corona?

Kalau saya gambarkan, virus corona memang menyimpan kekuatan tersembunyi dan cepat menyebar di tengah kerumunan orang. Kekuatan tersembunyi inilah yang bikin banyak orang sering lalai.

Selain di kerumunan, virus corona juga cepat menyebar kalau ventilasi buruk atau tertutup, area yang kelembapannya rendah, dan suhu dingin. Ruangan ber-AC biasanya udaranya lebih kering, virus suka tempat-tempat seperti itu.

Karena ini virus yang menyerang pernapasan, penularan lewat aerosol tidak boleh diabaikan.

Saat kita batuk, bersin, dan bersuara keras, pasti ada partikel-partikel kecil (nanopartikel) yang tidak langsung jatuh ke tanah. Droplet yang mengenai benda-benda juga bisa jadi media penularan.

Namun, manifestasi klinis dari COVID-19 tidak selalu berkaitan dengan pernapasan. Karena gejala yang muncul tidak selalu dominan dari pernapasan, mungkin membuat protokol atau pengobatan jadi tidak ketat.

Lalu, viral load yang tinggi juga memudahkan penularan. Misalnya, dokter atau perawat yang sering terpapar virus corona.

Virus corona ini sendiri mudah rusak dan dimatikan. Misalnya, dengan proses pemanasan, sinar ultraviolet C (untuk virus di luar tubuh), sabun, dan disinfektan.

Artikel Lainnya: Ternyata Membunuh Virus Corona Bisa Pakai Obat Kumur, Apa Ampuh?

3 dari 9 halaman

Bagaimana Cara Mendeteksi Virus Ini?

Cara deteksinya dari gejala. Tanda yang paling unik menurut saya adalah kehilangan kepekaan pada indra penciuman (anosmia).

Selebihnya, mirip dengan gejala penyakit pernapasan yang umum. Namun, gejala yang muncul memang bisa beda-beda (subjektif).

Selain itu, cek nilai darah, rontgen, dan CT scan juga sangat membantu deteksi dan diagnosis terkait virus corona di tubuh. Hal ini sebagai presumptive diagnosis.

Untuk definitive diagnosis, tetap dengan PCR. Kalau rapid test, hanya untuk screening dan tidak ada nilai diagnostic sama sekali.

Artikel Lainnya: Heboh Kalung Anti Corona, Efektifkah Eucalyptus Cegah COVID-19?

4 dari 9 halaman

Apakah Orang yang Kuat Terhadap Virus Corona Selalu karena Antibodi yang Kuat?

Tidak juga, bisa ada faktor lainnya yaitu ketahanan genetik. Jadi, orang tersebut secara genetik memang tidak responsif terhadap virus corona. Lalu, ada juga pengaruh kekebalan seluler (cellular immunity).

Pasien sembuh yang punya antibodi hanya 11-12 persen. Yang lain, kok, juga bisa sembuh? Nah, itu karena peran kekebalan seluler.

Dari studi yang saya ketahui, OTG (orang tanpa gejala) bisa diasosiasikan dengan kekebalan seluler terhadap coronavirus yang lain.

Ada orang yang jadi OTG karena kekebalan seluler, bukan antibodi. Jadi, antibodi belum bisa dijadikan dasar.

5 dari 9 halaman

Bagaimana, Sih, Mekanisme Virus Corona yang Bermutasi?

Virus corona termasuk jenis virus RNA yang memang mudah bermutasi. Kenapa mudah mutasi? Karena, dia butuh enzim untuk memperbanyak RNA-nya sendiri.

Itu tidak pernah ada dalam sel, baik hewan maupun manusia, sehingga dia harus bawa enzimnya sendiri.

Enzim RNA polimerase tidak punya kemampuan proofreading atau editing bila terdapat kesalahan. Kalau enzim DNA polimerase punya kemampuan itu.

Ketika ada perubahan, maka akan diperbaiki atau diedit lagi sehingga DNA cenderung tidak mudah bermutasi, karena dia menggunakan enzim DNA polimerase sel.

Artikel Lainnya: Mungkinkah Ada Orang yang Kebal Virus Corona? Ini Faktanya!

6 dari 9 halaman

Adakah Pengaruh Mutasi Virus Corona Terhadap Pengembangan Vaksin?

Syukurnya, dibanding virus RNA yang lain, virus penyakit COVID-19 ini tidak punya variasi genetik setinggi yang lainnya.

Pola mutasi virus ini belum mengkhawatirkan dari segi pemberian vaksin. Vaksin dari negara mana pun bisa-bisa saja.

Daya patogenitas virus tidak berubah, tapi memang daya tularnya meningkat. Sebanyak 60 persen pola mutasi virus corona di dunia adalah D614G.

Artikel Lainnya: Ini Syarat Jadi Relawan Uji Coba Vaksin Virus Corona

7 dari 9 halaman

Bagaimana Pandangan Anda Tentang Pengembangan Vaksin COVID-19 yang Sedang Berjalan di Indonesia?

Menurut saya, kita telat memulainya. Bahkan, kita juga telat mengakui bahwa virus corona sudah masuk ke Indonesia.

Kita sekarang sedang uji coba vaksin Sinovac. Vaksinnya berbasis pada virus yang dinonaktifkan. Saya dapat info, ini akan hanya dilakukan di Bandung, Jawa Barat.

Bila benar, ini tentu tidak merepresentasikan Indonesia. Sebab, masing-masing daerah di negara kita punya faktor-faktor yang berbeda-beda.

Meski vaksin sudah trial fase 3, mungkin masih banyak sekali faktor yang dapat menyebabkan kegagalan.

Belum tentu lulus uji tahap berikutnya atau bisa langsung dipakai. Pengujian yang terakhir itu yang paling berat.

Seperti Apa Persiapan Pengembangan Vaksin yang Tepat?

Yang perlu dipersiapkan dalam mengembangkan vaksin adalah tentu teknologi yang modern dan mengetahui platform atau jenis vaksin yang ingin ditemukan. Dana yang besar juga diperlukan apalagi bila mau teknologi modern.

Sumber daya manusia juga penting. Kita punya SDM, tapi mungkin tersebar di banyak daerah dan tidak terintegrasi di satu pusat. Mungkin memang perlu ada satu unit research center khusus untuk pengembangan vaksin.

8 dari 9 halaman

Terakhir, Apa Pesan Anda untuk Masyarakat Indonesia dalam Melawan dan Menghadapi Pandemi Corona?

Pesan saya, protokol kesehatan harus ketat dijalankan, harus protokol “plus-plus”. Selain protokol yang sudah umum disosialisasikan, plus-nya yaitu kalau ke mall atau pusat perbelanjaan, bikin catatan belanja, jangan lama-lama dan “berwisata” di mall.

Kalau mall atau restoran lagi ramai, mending cari yang lain yang lebih sepi. Restoran juga sebisa mungkin cari yang open space. Ventilasi alami jauh lebih aman.

Sekali lagi, ini adalah masalah kesehatan bersama dan harus ditanggulangi bersama juga.

Bila ada yang menentang atau tidak taat protokol, ia akan membahayakan dirinya sendiri dan orang lain, ini yang susah. Pandemi ini konsepnya kebersamaan, nggak bisa sebagian!

***

Download aplikasi KlikDokter untuk update informasi tentang virus corona dari para ahli.

(AYU/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar