Sukses

Resah Gelisah Para Penyintas, Corona Itu Nyata

Buka mata dan pikiran akan pandemi COVID-19, simak pengakuan para penyintas COVID-19 di sini mengenai perjuangan nyata melawan bahaya virus corona.

Fitri Purbandini tidak mengira demam dan batuk yang dialami suaminya ternyata akibat virus corona. Pun tak pernah dia menyangka, dua minggu setelah gejala itu muncul, kisahnya dengan Rudolf Valentino Santana berakhir akibat pandemi.

"Minggu terakhir bulan Maret, tepatnya tanggal 22 sudah mulai mengeluh. Bilangnya flu, batuk, pilek, dan demam tinggi. Saya minta tolong dia stay di Jakarta, karena pada Maret sudah mulai ada kabar corona masuk ke Indonesia," kata Fitri, mengisahkan kepada KlikDokter.

Fitri adalah apoteker yang tinggal dan bekerja di Jonggol, Jawa Barat. Sementara Rudolf bekerja dan kost di Jakarta.

Pasutri ini hanya bersua pada akhir pekan ketika Rudolf pulang ke rumah. Sakit yang dialami Rudolf membuat keduanya terpaksa tak bisa melepas rindu di malam Minggu.

Dari Jonggol, Fitri harap-harap cemas, terus memantau kondisi suaminya melalui komunikasi jarak jauh. Parasetamol hanya mampu bekerja sementara, demam Rudolf terus datang.

Dalam pemeriksaan di Rumah Sakit Hermina, Jakarta ditemukan bercak putih di paru pria 46 tahun itu. Indikasi dari pemeriksaan mengarah ke COVID-19.

Rudolf sempat diperiksa di Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta pada 28 Maret, hasilnya negatif setelah tiga kali rapid test. Namun pada pemeriksaan di Rumah Sakit Carolus pada 31 Maret, Rudolf dinyatakan suspek positif corona.

Pihak Carolus menyatakan prognosisnya sudah buruk, pria pencinta fotografi itu lantas dilarikan ke ruang isolasi dan mulai dipasangi ventilator.

Hasil PCR menunjukkan Rudolf positif terjangkit virus corona. Hancur hati Fitri melihat orang terkasihnya menderita.

"Saya minta diizinkan untuk bertemu, pakai hazmat. Sempat bertemu, tapi Bapak sudah tidak bisa bicara, untuk bernapas saja susah, dan tidak ingin makan. Tapi dari wajahnya, saya tahu dia senang bertemu dengan kami. Kami bertemu hanya 20 menit," kata wanita 43 tahun itu, berusaha menahan air matanya.

Takdir siapa yang tahu, 3 April itu adalah pertemuan terakhir bagi Fitri. Rudolf meninggal dunia pada 4 April setelah paru-parunya tak bisa lagi memompa udara.

Dalam pemeriksaan diketahui dia memiliki CAD (coronary artery disease) atau jantung koroner, diperparah dengan masuknya corona.

"Yang membuat saya sedih adalah sampai terakhir Bapak tidak tahu kena COVID-19. Karena dokter menjaga supaya Bapak tidak down," kata Fitri.

Corona merenggut kebahagiaan Fitri dalam waktu singkat. Peristiwa yang sama dialami oleh Sandi Nugraha, yang kehilangan ayahnya, Wahyu Hidayat karena COVID-19. Perburukan kesehatan yang dialami Wahyu sangat cepat, hingga dia meninggal dunia awal April lalu.

Sandi mengisahkan, ayahnya tak punya penyakit berat, hanya hipertensi yang terkontrol dengan obat. Gejala pertama yang dialami dokter spesialis THT di Cikarang, Bekasi, itu adalah demam pada 21 Maret.

Dalam pemeriksaan radiologi dan rontgen dada, hasilnya tidak mengarah ke pneumonia. Hasil CT scan juga baik-baik saja.

"Biasanya, kan, COVID-19 hasil pemeriksaannya mengarah ke pneumonia," kata Sandi yang merupakan dokter spesialis anak di Solo, Jawa Tengah kepada Klikdokter.

Tak ada yang aneh pada pemeriksaan, tapi kondisi Wahyu justru memburuk, ditambah dengan diare.

Akhirnya, dilakukan pemeriksaan yang sama pada 29 Maret. Hasilnya mengejutkan, ditemukan pneumonia. Wahyu langsung jadi suspek corona.

"Bayangkan, dirontgen tanggal 23, CT scan tanggal 25, nggak ada apa-apa, tapi di tanggal 29 hasilnya pneumonia," ujar Sandi.

Wahyu masuk ruang isolasi RS Pelni pada 30 Maret. Pada 1 April, kondisinya semakin parah. Empat hari kemudian kabar duka itu muncul, dr. Wahyu meninggal dunia di usia 67 tahun.

"Beliau mengembuskan napas terakhir pada 5 April. Jadi, sangat cepat menunjukkan kondisi perburukan. Setelah hasil pemeriksaan keluar, ternyata beliau terkonfirmasi COVID-19," tutur pria 33 tahun ini.

Setelah pemakaman, Sandi pulang ke Solo dan mendapati dirinya tertular virus corona namun tanpa gejala (OTG).

Putrinya yang berusia 5 tahun juga positif COVID-19, sementara istrinya negatif. Mereka harus menjalani isolasi selama dua minggu di bulan Ramadan sebelum akhirnya dinyatakan sembuh sepenuhnya.

"Tidak pernah terbayangkan saya menjalani puasa di rumah sakit sambil diisolasi. Bagi kami umat Muslim, bulan puasa itu waktu yang sangat sakral dan sangat diimpikan, sahur dan buka puasa bersama di rumah sama keluarga. Tapi ternyata rencana Yang Maha Kuasa itu lain," kata Sandi.

Wahyu dan Rudolf bukan satu-satunya korban COVID-19. Di Indonesia, hingga artikel ini ditulis, sudah 6.944 orang meninggal dunia karena corona. Di seluruh dunia, 824.162 lebih orang menemui ajal akibat penyakit yang pertama terdeteksi di Wuhan, China, pada Desember 2019 ini.

Beberapa negara, termasuk Indonesia, telah melakukan protokol kesehatan ketat. Mulai dari lockdown hingga kewajiban memakai masker ketika keluar rumah.

Kendati demikian, tak sedikit masyarakat yang acuh tak acuh dengan imbauan pemerintah. Bagi korban COVID-19 seperti Fitri, sikap masyarakat yang abai membuatnya kian nelangsa.

“Kalau mereka acuh dan abai, yang kena orang sekitar mereka. Kita tidak tahu imun kita seberapa kuat. Yang kita tahu, kita yang harus mencegah,” ujar Fitri.

Ignatius Wahyu, pasien COVID-19 di Wisma Atlet, Kemayoran, juga turut merasakan betul pandemi ini. Heran bukan kepalang dia bila ada yang menganggap virus corona hanyalah bualan atau konspirasi belaka. Dirinya adalah bukti nyata.

"COVID-19 ini bukan virus yang main-main, ini serius. Harapan saya masyarakat ikut serta menaati peraturan pemerintah, jangan egois," kata Ignatius.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 dari 5 halaman

Rindu Tebal

Ignatius adalah staf salah satu puskesmas di Jakarta. Dia awalnya mengalami gejala demam dan sakit tenggorokan sebelum dinyatakan positif virus corona pada 28 Juli lalu. Istrinya yang tengah hamil tujuh bulan dan mertuanya juga dinyatakan positif corona.

Istrinya sempat dirawat selama seminggu di RSUD Bekasi. Namun, diperbolehkan isolasi di rumah walau masih positif karena kondisinya terus membaik.

Saat lima belas hari dirawat di Wisma Atlet, kerinduannya sudah tebal terhadap istrinya yang hamil anak pertama mereka. Satu-satunya cara melepas rindu adalah melalui video call.

"Setiap malam saya video call istri, saya kasih semangat terus, kasih support, jangan putus asa. Pokoknya selalu menghibur supaya dia nggak stres dan nggak banyak pikiran," kata Ignatius.

Rindu tak tertahankan juga dialami oleh Sophia Elizabeth Sadoek, dokter penderita virus corona. Total 85 hari dia harus berpisah dengan suami dan ketiga anaknya sampai betul-betul dinyatakan sembuh.

Sophia termasuk pasien yang paling lama mendekam di Wisma Atlet karena virus di tubuhnya tak kunjung hilang.

"Anak-anak saya dijaga oleh suami dan adik saya. Anak-anak menanyakan kenapa lama sekali, padahal pasien lain sudah sembuh. Tapi dari rumah sakit, menyuruh saya video call anak saya. Akhirnya, setiap hari video call sejak di Wisma Atlet," kata Sophia kepada Klikdokter.

Sophia sepuluh kali dites COVID-19 sebelum akhirnya dinyatakan negatif. Dia sempat putus asa ketika tak juga dinyatakan negatif virus. Apalagi obat Avigan yang konon mampu menyembuhkan corona juga tak mempan pada dirinya.

"Saya beberapa kali berpikir saya akan mati. Tapi kemudian saya berdoa, saya masih punya tiga anak yang harus dibesarkan, ada pekerjaan, saya bilang 'Kalau boleh, saya masih ingin hidup'," ujar Sophia.

Artikel Lainnya: Petugas Medis Rentan Trauma Psikologis Pasca Penanganan Virus Corona!

2 dari 5 halaman

Dari China ke Seluruh Dunia

Para pasien di atas adalah sebagian kecil dari 24 jutaan penderita virus corona di berbagai negara. Indonesia menempati posisi ke-23 negara dengan pasien positif 160.165 orang hingga artikel ini dipublikasikan. Amerika Serikat di posisi nomor satu hampir 6 juta penderita dan 182 ribuan angka kematian.

Virus corona pertama kali terdeteksi di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, pada Desember 2019. Sejak saat itu, virus yang menyerang saluran pernapasan ini menyebar ke seluruh dunia. Kasus pertama di Indonesia sendiri tercatat pada 2 Maret 2020.

Dokter spesialis penyakit dalam, dr. Alvin Nursalim, Sp.PD, mengatakan dunia sebelumnya pernah juga mengalami pandemi oleh virus corona, yakni MERS atau SARS. Namun, virus SARS-Cov-2 yang ada saat ini penularannya sangat mudah, yaitu melalui droplet dari seseorang.

Penularan juga sangat bergantung pada kondisi kesehatan seseorang, terutama sistem kekebalan tubuh dan penyakit penyerta atau komorbid.

"Ketika kita batuk atau bersin, ada droplet mini di udara, butiran-butiran kecil yang keluar dari mulut atau hidung kita dan di dalamnya bisa mengandung virus. Inilah yang menyebabkan tingginya penularan virus corona di seluruh dunia," kata dr. Alvin.

Masa inkubasi virus bisa mencapai hingga empat belas hari dengan gejala yang beragam. Dokter Alvin mengatakan, di antara gejalanya adalah hidung berair, batuk kering, demam meriang, nyeri otot, diare, atau kehilangan penciuman.

"Namun umumnya, gejala yang khas adalah gejala yang melibatkan organ pernapasan dan organ paru," ungkapnya lagi.

Walau penularannya sangat mudah, tapi bukan tidak mungkin bisa dihindari. Juru Bicara Satgas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito mengatakan protokol kesehatan yang telah ditetapkan saat ini bisa mengurangi risiko penularan.

"Kalau kasusnya masih banyak, maka artinya masyarakatnya belum disiplin menerapkan protokol kesehatan. Simple, kan?" kata Wiku dalam wawancara khusus dengan KlikDokter.

"Jadi kalau pemerintahnya melakukan sosialisasi, harapannya semua masyarakat mendengarkan, memahami, mempraktikkan, solidaritas, mengingatkan orang lain, mungkin membagi masker, dan saling mengingatkan sehingga semuanya bisa disiplin menerapkan protokol kesehatan. Simple-nya begitu. Baik di Indonesia maupun dunia, semuanya sama," lanjut Wiku.

Artikel Lainnya: Apa Orang Indonesia Bisa Adaptasi dengan New Normal COVID-19?

3 dari 5 halaman

Hanya Konspirasi?

Pasiennya sudah jutaan di seluruh dunia, mereka yang meninggal juga sudah ratusan ribu dan masih terus bertambah entah sampai kapan. Tapi, ada saja yang tidak memercayainya atau setidaknya memilih untuk skeptis.

"Soal pilihan percaya atau nggak, kali ini saya memilih nggak percaya," kata pria 46 tahun berinisial TGS kepada Klikdokter.

"Kenapa saya memilih nggak percaya? Karena, berita yang sampai di kita itu menurut saya sudah dikemas sedemikian rupa. Pada akhirnya, ujungnya ada yang jualan vaksin, obat, masker, dan sebagainya," lanjutnya.

Beredar juga berbagai teori konspirasi seputar virus corona. Salah satu yang populer adalah virus ini diciptakan di laboratorium di China, lalu sengaja disebarkan ke dunia.

Teori ini telah dibantah baik oleh China maupun WHO. Tapi mirisnya, tak sedikit yang tetap percaya.

Survei Klikdokter di Facebook menunjukkan 47 persen dari 440 responden peserta polling percaya virus corona adalah konspirasi. Survei lainnya di Instagram menunjukkan 65 persen atau 108 orang responden kalem saja menghadapi corona.

Tidak hanya di Indonesia, di negara maju macam Amerika Serikat, teori konspirasi juga beredar dan diamini! Survei Pew Research akhir Juli lalu menunjukkan 25 persen masyarakat AS percaya virus corona adalah konspirasi.

Lima persen mengaku yakin betul hal itu, 20 persen lainnya menyebut bahwa konspirasi mungkin benar.

"Kalau dari pengamatan gue, kita ini sekarang berada di tengah chemical warfare antara dua pihak, dan negara kita bukan target, tapi kena dampaknya," kata TGS.

"Gue bisa memaparkan beberapa story atau beberapa artikel dari Indonesia maupun dari luar yang hingga akhirnya sampai pada kesimpulan: this is bullshit!

Wiku menampik segala macam teori konspirasi yang muncul terkait corona. Dia menegaskan virus ini telah menjangkiti 215 negara dan tidak mungkin mereka diam saja bila ada satu negara yang menyebarkannya.

"Teori konspirasi itu harus dibuktikan juga, jadi jangan hanya bicara. Kalau ada masyarakat yang berpikir seperti itu, mana buktinya?" kata Wiku.

Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog mengatakan, seseorang bisa percaya corona adalah konspirasi karena tidak mengalaminya sendiri. Terlebih lagi, informasi yang beredar di masyarakat saling bertentangan, ada yang bilang berbahaya, ada yang biasa-biasa saja.

Jadi, ketika seseorang pada dasarnya berpikiran bahwa corona tak benar keabsahannya dan mendapatkan informasi seperti itu dari orang lain, apalagi seorang tokoh, maka pemikirannya akan semakin kuat.

"Karena manusia adalah makhluk sosial. Ketika ada orang yang mendukung pernyataan kita, kita akan percaya dengan apa yang ia pikirkan," kata Ikhsan.

Artikel Lainnya: Virus Corona Bisa Dibunuh Dengan Herbal, Mitos atau Fakta?

4 dari 5 halaman

Corona Itu Nyata, Bung!

Bagi penganut teori konspirasi, boleh jadi corona itu semu. Tapi, bagi dr. Sandi dan Fitri, corona itu nyata adanya. Corona telah merenggut orang terkasih mereka dalam waktu singkat, meninggalkan kenangan yang tak terlupakan.

"Bagi saya, bagi keluarga saya sendiri, COVID-19 ini ada. Di balik masyarakat menanggapinya sebagai konspirasi atau mengada-ada, diadakan suatu pihak atau oknum tertentu, tetapi yang harus kita sadari sekarang bahwa virus ini ada. Kita nggak boleh tinggal diam," kata Sandi.

"Orang di sekitar kita kurang paham atau tidak tahu perjuangan pasien COVID dan keluarganya yang ditinggal. Mungkin memang memandang remeh. Semoga saja mereka semua tetap sehat," tutur Fitri.

Vaksin yang disebut satu-satunya harapan mengentaskan tuntas pandemi ini masih dalam pengembangan. Berbagai negara berlomba-lomba menemukan penawarnya. Tapi, prosesnya panjang dan harus benar-benar lolos setiap tahap pengujiannya.

Selama masyarakat masih belum bisa disiplin menerapkan protokol kesehatan, maka berakhirnya pandemi masih akan jadi tanda tanya besar.

"Yang ditanya bukan kapan pandemi berakhir, tapi kapan kita semua bisa pakai masker, jaga jarak, dan cuci tangan. Kalau kita sudah bisa lakukan itu, kita juga yang bisa jawab kapan pandemi berakhir," kata Wiku.

"Kita sudah mengenal musuhnya, sudah tahu itu menular, kita sudah tahu kelemahan kita suka salaman, suka tidak pakai masker, dan kadang tidak cuci tangan, kucek-kucek mata, mulut, hidung, ya, itulah caranya menular. Jadi kalau mau selesai pandeminya, jawab itu dulu, laksanakan itu dulu."

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar