Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mengupas Fakta Seputar Virus Corona Bersama Ahli Biologi Molekuler

Mengupas Fakta Seputar Virus Corona Bersama Ahli Biologi Molekuler

Klikdokter berbincang dengan ahli biologi molekuler Ahmad Rusdan Utomo soal berbagai fakta virus corona. Agar informasi yang didapat tidak simpang siur, biarkan ahlinya yang bicara!

Sejak pertama kali terdeteksi muncul di Wuhan, China, pada awal tahun ini, virus corona telah menyebar ke seluruh dunia. Saat ini lebih dari 20 juta orang terinfeksi corona, 740 ribu lebih meninggal dunia. Di Indonesia sendiri ada 128 ribu lebih dengan 5.800-an kematian.

Belum ada vaksin dan obatnya hingga saat ini, virus corona masih menimbulkan banyak pertanyaan. Berbagai klaim dan kabar bermunculan, yang belum tentu kebenarannya. Namun yang jelas, virus ini jauh lebih kuat dibanding pendahulunya, SARS.

Hal ini disampaikan oleh Ahmad Rusdan Utomo, Ph.D, ahli biologi molekuler lulusan Harvard Medical School, Amerika Serikat. Mantan peneliti utama di Stem Cell and Cancer Institute besutan Kalbe Farma ini menegaskan virus corona 10 kali lebih kuat dibanding SARS.

Dalam perbincangan dengan Klikdokter, Ahmad yang kini berprofesi konsultan biologi molekuler independen, mengulas berbagai fakta soal virus corona. Berikut adalah perbincangan lengkap Klikdokter dengan Ahmad Rusdan Utomo:

1 dari 13 halaman

Seberapa kuat virus corona sehingga banyak berjatuhan korban?

Parameter dampak kuat bagi saya ada dua. Ada dari sisi penularan dan akibat. Kalau dilihat dari sisi penularan virus corona relatif lebih cepat daripada SARS.

Bandingkan saat SARS kemarin, total korban ada 8.000-an dan yang meninggal nggak sampai seribu. Lalu, selesai wabahnya dalam delapan bulan.

Sedangkan COVID-19 atau SARS-CoV-2, total terinfeksi sampai sekarang 20 jutaan dan yang meninggal ratusan ribu.

Dari hasil data analisa genetik, virus corona berbeda sekitar 20 sampai 30 persen dari SARS pertama. Virus corona ini 10 kali lipat lebih kuat dalam mengikat reseptor sel ACE2 manusia.

Benarkah virus corona sulit terdeteksi, baik dari gejala atau cara menemukan virusnya?

Ya, sulit dideteksi 100 persen, karena virus corona jumlah partikelnya sudah mencapai puncak sebelum orang tersebut bergejala.

Jadi saat muncul gejala, dia sebetulnya sudah menularkan ke banyak orang lainnya.  Itu yang membedakan COVID-19 dengan SARS pertama. Maka itu, pentingnya kontak telusur, bahkan kalau gejalanya belum muncul.

2 dari 13 halaman

Lantas, apakah tes COVID-19 yang ada sekarang ini sudah akurat untuk mendeteksi virus?

Kalau 100 persen akurat nggak ada. Namun, tes PCR (Polymerase chain reaction) adalah metode terbaik yang kita punya.

Sebetulnya kembali lagi, corona sulit dideteksi karena kita sudah miss window-nya, sudah terlewat. Kalau nemu 60-70 persen itu sebenarnya sudah lumayan bagus. Maka kalau mau mencari lebih awal agar akurat, harus kita cari yang OTG.

Selain itu, masalah di kita (Indonesia) ini terlambat. Baru menemukan pasien pertama saja 2 Maret lalu. Padahal, menurut perhitungan modelling, bulan Januari atau Februari minimal kita sudah ada dua kasus.

Kenapa ini terjadi, salah satunya karena alat PCR dari Center for Disease Control and Prevention (CDC), Amerika Serikat, sempat keliru. Ada kesalahan produksi, jadi kurang bagus hasilnya saat menguji COVID-19.

Idealnya, pada masa-masa awal pandemi sudah dicek melalui alat PCR. Cuma karena PCR prosesnya agak lambat, penambahan laboratorium juga lama, korban sudah mulai banyak, akhirnya pakai rapid test.

3 dari 13 halaman

Apakah rapid test ini akurat?

Rapid test sebetulnya juga jadi masalah baru. Awalnya mahal, kan, bisa Rp800 ribu harganya. Sekarang, sudah dipukul rata Kementerian Kesehatan jadi cuma Rp150 ribu.

Pas awal-awal harga rapid test mahal, masyarakat siapa yang mau bayar semahal itu, mending langsung PCR atau test swab sekalian, kan?

Belum lagi banyak brand atau merek yang diimpor ke Indonesia. Masalahnya, kalau di Indonesia ini, mereka (produsen rapid test) tidak menampilkan data validasinya, data di bungkusnya itu misleading.

Mereka pakai sampel-sampel pasien yang “sudah sembuh”, artinya sudah melewati dua minggu pasca gejala pertama.

Cara kerja antibodi itu, kan, terbentuk setelah terinfeksi dan butuh 1 sampai 2 minggu agar bisa jadi banyak (antibodinya).

Produsen rapid test ini memilih pasien yang sudah dua minggu lewat untuk dijadikan validasi. Maka nggak aneh kalau mereka mengklaim 90 persen akurat.

Padahal, masalah kita sekarang bukan mencari yang sembuh. Kita itu mencari yang masih bisa menularkan infeksi di fase awal. Karena di fase awal antibodi belum terbentuk.

Bisa dibilang mereka nggak transparan karena tidak menampilkan data di fase awal untuk keakuratan alat test mereka.

Parahnya lagi, tes ini dijadikan untuk screening penerbangan. Justru kalau penerbangan dicari yang aman, sederhananya yang punya antibodi. Kalau rapid test harus yang reaktif, bukan yang non-reaktif.

Dalam keilmuan justru terbalik, kita butuh yang reaktif karena orang ini sudah punya antibodinya. Reaktif juga masih berisiko sebenarnya, karena ketika antibodi terbentuk virus corona belum tentu hilang.

Agar ideal, berarti rapid test-nya reaktif, lalu PCR-nya negatif. Kalau untuk tes PCR, standarnya hampir sama, lah. Primernya itu-itu saja, kontrol dan kendali mutunya juga relatif sederhana. PCR di laboratorium A dan B, more and less sama kualitasnya.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

4 dari 13 halaman

Sempat muncul kabar virus corona baru bisa musnah di suhu ratusan derajat Celcius, apa benar?

Kalau di laboratorium, rekan-rekan tim lab berusaha mendeteksi virus dengan alat PCR. Suhu PCR yang dipakai itu mulai 60 derajat sampai 95 derajat Celsius.

Ketika sudah maksimal 95 derajat Celsius, virus itu sudah hancur, ambyar. Jadi, informasi di luar yang menyatakan COVID-19 harus terkena panas sampai ratusan derajat itu kurang teliti, kecuali kalau virusnya dari planet Mars.

Apakah virus corona di Indonesia sama dengan Wuhan?

Hampir 99,9 persen sama dengan virus corona yang ada di Wuhan, nggak beda.

Benarkah virus corona bermutasi menjadi lebih kuat?

Sejauh ini belum ada data yang menunjukkan virus corona makin ganas atau bahaya, masih sama. Memang varian virusnya jadi ada yang berbeda. Cuma perlu diingat, varian ini jumlahnya tidak banyak.

Variasi tetap ada, seperti manusia ada yang gemuk, kurus, rambut keriting, lurus. Namun, tetap sama-sama manusia, seperti itulah.

Karena dalam fase replikasi memperbanyak diri, virus corona ini materi genetiknya mungkin ada yang salah, jadi ada variasi.

5 dari 13 halaman

Banyak yang berpendapat virus corona tak lebih berbahaya dibanding virus flu biasa, apakah benar?

Menurut saya, sih, tentu virus corona lebih bahaya dari pada influenza. Karena di Indonesia jarang orang meninggal karena flu. Lebih banyak yang meninggal karena demam berdarah (DBD) dan TBC.

Tetapi, di daerah dingin seperti Amerika dan Eropa mungkin bisa lebih berisiko meninggal karena flu akibat cuaca ekstrem.

Kalau mengenai jumlah lebih banyak penyakit mana yang meninggal, DBD dan TBC ini, kan, penyakit yang seasonal, ya, musiman. Jadi saat terkena, pasiennya tidak sampai membebani rumah sakit.

Namun kalau corona ini penularannya cepat dan sulit dideteksi. Dari 100 orang, 80 persennya bisa jadi orang tanpa gejala dan 20 persennya bergejala berat seperti sesak napas. Akhirnya mereka harus ke rumah sakit.

Saat di RS, dia harus dijauhkan dengan banyak orang dan dimasukkan ke ruang isolasi. Rumah sakit punya berapa banyak ruang isolasi, sih? Nggak banyak, kan.

Masalahnya, sekarang ini lagi pandemi, kalau banyak orang yang tertular, kan, ke rumah sakitnya bareng-bareng. Jadi, akhirnya yang meninggal lebih banyak karena nggak dapat tempat ruang isolasi di rumah sakit.

Artikel Lainnya: Mau Mulai Beraktivitas? Ini Level Risiko Terinfeksi Virus Corona!

6 dari 13 halaman

Apakah benar, untuk tertular COVID-19 kita harus berada dekat penderita selama 10 menit?

Untuk risiko tertular yang pasti karena jarak dekat. Karena virus ini sederhana saja, dia perlu menempel ke orang terdekat.

Ada studi di Amerika Serikat, grup paduan suara latihan (tanpa masker) di ruangan tertutup selama dua setengah jam. Ketika satu orang terinfeksi, dia nyebarin ke 80 persen orang lainnya, dua orang bahkan meninggal.

Kita lihat dan bandingkan dengan data salon di Amerika juga. Jadi, ada dua sampai 3 salon yang hairdresser-nya melayani 150-an pelanggan. Bagusnya, salon ini menerapkan protokol kesehatan, baik petugas dan pelanggannya.

Setelah screening rutin, ternyata kapsternya positif COVID-19. Lalu, mereka tracking pelanggannya juga. Hasilnya, semua pelanggannya nggak mengalami gejala corona. Lalu, 60 persen pelanggan yang dites PCR juga negatif.

Nyalon berapa lama, sih, dua jam, ya? Dua jam pakai masker, aman. Artinya apa? Intinya kalau misalnya ngantor atau beraktivitas di ruangan tertutup amannya tetap pakai masker, jangan banyak omong, nanti susah napasnya. Ini juga jadi budaya baru, ngomong seperlunya saja dan jangan berdekatan.

Artikel Lainnya: Update WHO: Kriteria Baru Pasien Virus Corona yang Bisa Sudahi Masa Isolasi

7 dari 13 halaman

Benarkah anak-anak lebih kebal terhadap COVID-19?

Jawaban sejujurnya saya masih belum tahu. Masih diteliti juga sama ilmuwan.

Tetapi, virus corona ini menarik. Kalau berbicara soal flu, anak-anak lebih rentan. Kalau COVID-19 justru terbalik, anak-anak tidak terkena, justru orang tua yang rentan.

Namun, memang paru-parunya anak (yang OTG COVID-19) sudah aneh. Nah, ketika paru-paru anak di China diteliti, parunya sudah seperti orang dewasa yang terkena COVID-19, tapi nggak bergejala.

Kesehatan anak-anak nanti akan dipantau 15 tahun lagi.  Karena kita tahu, untuk orang dewasa ada yang namanya GGO atau ground glass opacities. Jadi waktu diperiksa CT-scan parunya sudah beda.

Studi 10-15 tahun lagi menarik, nanti akan diteliti anak-anak yang OTG dan terinfeksi punya masalah pernapasan atau tidak.

8 dari 13 halaman

Adakah dampak kesehatan yang bisa langsung terasa pada OTG?

Saya punya teman yang positif OTG, sudah di-PCR dan clear, sih, tapi dia sudah beda. Sekarang dia sudah gampang capek, yang dulunya naik turun tangga gampang, sekarang ngos-ngosan. Ini salah satu efeknya.

Jadi, kalau ada orang yang ngeremehin ‘nggak apa-apa nih saya’ atau ‘saya nggak sakit, kok’, siapa tau mereka OTG!

Meskipun 80 persen yang terinfeksi itu nggak bergejala, cuma, ya, itu, mereka nggak sadar bahwa paru-parunya sudah nggak keruan, sudah beda.

Belum nanti kalau yang diserang pankreasnya, jadi kasus tersier. Nanti kena penyakit diabetesnya malah gara-gara komplikasi COVID, bukan karena gula.

Ada perubahan kondisi kesehatan. Ya, kita bersyukur tidak sampai sesak napas, tapi jangka panjangnya waspada juga.

Kita belajar dari SARS yang melakukan uji longitudinal. Peneliti men-tracking sekitar 80 orang yang kena SARS dulu. Itu mulai kelihatan, mereka paling umum kena masalah pernapasan kronis. Jadi, kapasitas paru-paru mereka berkurang.

Tadinya bisa kuat tarik napas, sekarang sudah beda. Ada juga sebagian dari mereka yang kena diabetes. Ini virus, kan, mirip SARS, namun lebih kuat.

Artikel Lainnya: Pemerintah Sarankan Pakai Masker Kain, Efektifkah Hadapi Virus Corona?

9 dari 13 halaman

Dibanding masker N95 dan masker bedah, apakah masker kain bisa melindungi total dari virus corona?

Dibilang mana yang total melindungi, masker N95 pun nggak total. Kenapa demikian, ada studi prevalensi di New York, Amerika Serikat, tentang para nakes (tenaga kesehatan).

Sebanyak 20 persen nakes di New York ternyata antibodi COVID19-nya sudah terbentuk. Padahal yang kita tahu, kan, mereka pakai APD lengkap nggak main-main, pakai kacamata goggle dan lain-lain. Tapi, kok, ada antibodinya?

Mereka tetap ada risiko tertular meski pakai masker bedah, masker N95, bahkan pakai APD.

Namun, kembali lagi, ini ada yang namanya risk mitigation yang mengurangi risiko, bukan menghilangkan risiko. Jadi, kalau mau dibandingkan, ya, bandingkan dengan yang nggak pakai masker.

Kalau perbedaan antar jenis masker, kan, ada kaitannya dengan kebutuhan nakes. Jadi masyarakat tetap harus pakai masker meski pun masker kain.

10 dari 13 halaman

Apakah benar virus corona juga bisa menyerang organ pencernaan?

Ya, makanya salah satu gejala COVID ini kan diare. Namun jarang, sih, sekitar 25 persen (kasusnya), tetapi memang ada dampaknya, lah.

Makanya, salah satu cara deteksinya juga bisa dari feses. Kalo dari hasil swab-nya tidak kelihatan, bisa dilihat dari fesesnya.

Nah, kalau tidak istinja setelah BAB atau tidak cuci tangan, dia bisa menularkan ke orang lain. Misalnya, cuma bersihin pakai tisu terus langsung salaman, kan, bisa jadi fecal oral transmission.

11 dari 13 halaman

Para peneliti di dunia berlomba membuat vaksin anti-corona, sebenarnya bagaimana cara kerja vaksin ini untuk cegah COVID-19?

Ada dua hal yang perlu diketahui, tercetusnya antibodi terhadap virus dan alasan antibodi itu diproduksi sewaktu-sewaktu siap ketika diperlukan. Jadi, kalau virusnya nggak ada ya nggak produksi, kalau ada virusnya barulah produksi antibodi.

Kalau orang diberi vaksin, dia dari nol butuh waktu dua minggu untuk membangun antibodi. Tapi, dua minggu itu virus juga sudah bisa ke mana-mana.

Maka saat sudah divaksinasi dan terinfeksi, virus sudah dihadang antibodi sel B. Artinya apa,  kalau divaksinasi respons tubuh kita akan lebih cepat.

Nah, kalau antibodi sel B yang dihadang virusnya, bagaimana kalau ternyata masih ada virus yang berhasil lolos masuk ke dalam sel? Antibodi sel B nggak mungkin ngejar virus sampai dalam sel, makanya tubuh perlu sel limfosit yang kedua, yaitu sel T.

Sel T ini lebih canggih, dia bisa mengenali mana sel tubuh yang sehat dan mana yang terinfeksi. Sel yang terinfeksi ini tanpa disadari sudah menjadi pabrik dari virus dan akan dihancurkan oleh sel T.

Itulah yang diharapkan dari adanya vaksin virus corona. Ada dua kekebalan yang mau diraih, yaitu sel B untuk membentuk antibodi dan sel T untuk menghancurkan virus di dalam sel.

Artikel Lainnya: Kalbe Gandeng Perusahaan Korea untuk Ciptakan Vaksin Virus Corona

12 dari 13 halaman

Melihat perkembangan saat ini, kira-kira kapan vaksin tersedia?

Kita harus bersabar menunggu vaksin, rencana menurut data akhir tahun ini ada, tapi kita lihat dulu seperti apa. Ini vaksin yang Biofarma, ya.

Kalau saya nggak salah tangkap, untuk uji klinis idealnya satu tahun. Kira-kira, Desember bisa dilihat efektif atau nggak untuk proteksi. Namun, bisa jadi (tersedia) di pertengahan atau akhir 2021.

Dengan kondisi saat ini, menurut Anda apa yang harus dilakukan masyarakat?

Penting sekali untuk masyarakat tahu ini. Kalau untuk tes masih kesulitan (biaya), tetap harus jaga ketat protokol kesehatan. Kalau lagi nggak enak badan atau flu, mending diam di rumah. Kalau buat yang kerja, mendingan cuti.

Ini serius banget. Soalnya kenapa, tes yang kita punya yaitu PCR, belum ada banyak. Rapid test juga membingungkan, vaksin sama obat masih lama dan belum jelas validasinya.

Jangan terlalu diandalkan rapid test, biarkan pemerintah dan ilmuwan yang bekerja.

Intinya, pakai masker, jangan banyak bicara, jangan keseringan berada di ruangan tertutup. Kalau mau keluar rumah, usahakan terkena sinar matahari, lalu pulang, mandi membersihkan diri.

(AYU/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar