Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Klaim Jadi Vaksin COVID-19 Pertama, Ini Cara Kerja Vaksin Asal Rusia

Klaim Jadi Vaksin COVID-19 Pertama, Ini Cara Kerja Vaksin Asal Rusia

Meski dianggap terlalu cepat, Rusia mengabarkan bahwa vaksin buatannya sudah lulus uji terhadap manusia. Ini dia info selengkapnya soal vaksin COVID-19 asal Rusia.

Perkembangan soal vaksin COVID-19 memang selalu menarik perhatian. Pasalnya, dengan vaksin tersebut, masyarakat bisa lebih aman untuk beraktivitas sehari-hari. 

Dari beberapa negara yang tengah berupaya memproduksi vaksin COVID-19, ada satu negara yang memberikan kabar baik, yaitu Rusia. Vaksin virus corona asal Rusia disebut-sebut sudah sampai tahap lulus uji coba manusia. 

Setidaknya itulah yang dikatakan oleh Wakil Menteri Kesehatan Rusia, Oleg Gridnev. Gridnev mengungkapkan, Rusia akan mendaftarkan vaksin COVID-19-nya sebagai yang pertama di dunia pada 12 Agustus 2020. 

1 dari 4 halaman

Klaim Aman Vaksin Virus Corona asal Rusia

Sementara itu, Alexander Gintsburg, Direktur Gamaleya Research Institute mengatakan partikel virus corona yang ada di vaksin ini tidak membahayakan tubuh. 

Menurutnya, bahan yang digunakan berupa partikel mati dari adenovirus dan tidak perlu khawatir vaksin COVID-19 tersebut berisiko membahayakan kesehatan manusia. 

Memang, sempat ada kecemasan soal partikel apa yang dipakai dalam vaksin tersebut.

Namun, Gintsburg tetap menekankan bahan yang ada di dalam vaksin aman. “Partikel yang bisa mereproduksi jenisnya sendiri adalah partikel hidup. Sedangkan di dalam vaksin, ini adalah partikel mati yang tidak dapat berkembang biak dan justru bisa melindungi,” katanya. 

Vaksin virus corona asal Rusia dikembangkan oleh Gamaleya Research Institute dan Kementerian Pertahanan Rusia. Vaksin tersebut sudah berada di fase terakhir pengujian terhadap manusia (uji klinis) sejak 18 juni lalu. 

Mereka berharap vaksin COVID-19 buatan negaranya mampu memberikan kekebalan. 

Gintsburg menambahkan, “Umumnya, di sejumlah orang timbul demam alami saat sistem kekebalan tubuh mereka terbentuk oleh pemberian vaksinasi. Ini merupakan efek samping ringan yang dapat segera diatasi dengan pemberian parasetamol.” 

Tak cuma vaksin virus corona, pemberian jenis vaksin penyakit lain terkadang memang menimbulkan demam di awal. 

Artikel Lainnya: Kalbe Gandeng Perusahaan Korea untuk Ciptakan Vaksin Virus Corona

2 dari 4 halaman

Diragukan oleh Banyak Pihak, Mengapa?

Menurut Badan Kesehatan Dunia (WHO), hingga saat ini hanya ada enam calon vaksin yang berada di tahap akhir atau tahap uji klinis ke manusia. 

Empat di antaranya adalah vaksin dari Moderna, AstraZeneca, SinoVac, dan Pfizer. Mereka selalu memberitahukan perkembangan pembuatan vaksin kepada publik dan WHO. 

Ketika Rusia tiba-tiba mengatakan bahwa mereka sudah menyiapkan vaksin yang akan didaftarkan besok dan segera diproduksi massal di bulan September. 

Bahkan, rencananya akan berikan persediaan sampai ke Filipina. Tentu ini membuat sebagian pihak ragu. 

Badan Kesehatan Dunia memang mengakui ada dua calon vaksin Rusia yang tengah diuji coba, tetapi baru di tahap dua dan bukan di tahap uji ke manusia. 

Tak hanya itu, ahli medis dan ahli virus di negara Rusia juga tidak mendapatkan informasi jelas terkait vaksin virus corona yang dibuat. Mereka menganggap informasi dari pengembang vaksin tidak transparan.

Sebuah laporan dari The Moscow Times mengatakan Alexander Chepurnov, Mantan Kepala Penyakit Menular di Vektor, Rusia, mengaku pemerintahnya kurang memberikan informasi dan data tentang uji klinis vaksin tersebut. 

Ia khawatir, pemberian vaksin yang salah atau asal justru bisa memperparah kondisi wabah yang sudah ada. 

Direktur Institut Alergi dan Penyakit Menular Nasional AS, Dr. Anthony Fauci, berharap Rusia benar-benar menguji vaksin mereka sebelum memberikannya kepada masyarakat luas. 

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

3 dari 4 halaman

Apa yang Terjadi Jika Vaksin Salah atau Asal Digunakan?

Menanggapi pro dan kontra vaksin virus corona asal Rusia, begini penjelasan dr. Arina Heidyana.

Menurutnya, sebelum diproduksi massal dan diperjualbelikan, sebuah vaksin memang harus melewati semua tahap pengujian agar efek samping serta berapa lama antibodi terbentuk dan bertahan di tubuh diketahui secara akurat. 

Dokter Arina menambahkan, “Ini masih belum jelas. Walau sudah diklaim aman, tetapi respons tubuh tiap orang berbeda-beda terhadap sesuatu. Mungkin pada beberapa orang, efek sampingnya masih tergolong ringan atau tidak ada efek samping sama sekali. Namun, sebagian lagi bisa saja merasakan efek samping cukup berat.”

Karena itulah, dr. Arina berpendapat, semua vaksin harus benar-benar melewati tahap pengujian dan hasil penelitiannya harus nyata, tidak ada yang ditutup-tutupi. 

Tidak diketahui juga kepada siapa mereka melakukan uji klinis kilat. Menurut informasi yang beredar, pengembang vaksin di Rusia ini menyuntikkan calon vaksin ke diri mereka sendiri (peneliti) untuk menghemat waktu, namun belum diketahui juga kebenarannya. 

Kita tunggu saja bagaimana perkembangan vaksin COVID-19, baik dari luar negeri maupun negara sendiri. 

Meski kabar cepat itu terasa membahagiakan, tetapi akan percuma jika ternyata vaksin yang diproduksi tidak efektif atau justru berbahaya. Semoga semua vaksin virus corona yang berada di tahap akhir uji klinis ke manusia membuahkan hasil yang baik. 

Selain itu, Anda juga bisa mencoba sejumlah layanan, seperti tes coronavirus online, rapid test, dan juga LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar