Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Swinger, Apakah Tanda Tak Puas dengan Pasangan atau Gangguan Mental?

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Swinger, Apakah Tanda Tak Puas dengan Pasangan atau Gangguan Mental?

Beberapa orang berpendapat munculnya keinginan melakukan seks swinger dipicu ketidakpuasan terhadap pasangan. Benarkah begitu, atau karena ada alasan lain?

Perilaku seks berisiko bukan cuma dilakukan oleh orang yang masih single. Sekalipun mereka sudah menikah, perilaku tersebut dapat terjadi, salah satunya dengan aktivitas seks swinger.

Seks swinger adalah aktivitas seksual bertukar-tukar pasangan yang biasanya dilakukan oleh mereka yang telah menikah. Pelakunya beralasan tindakan ini demi memenuhi hasrat seksual mereka.

Namun muncul juga pendapat bahwa seks swinger adalah bentuk ketidakpuasan kepada pasangan, atau bahkan merupakan ciri dari gangguan mental.

Apakah Seks Swinger Dilakukan Karena Tidak Puas dengan Pasangan?

Menurut Psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, ada kemungkinan munculnya keinginan swinger disebabkan  rasa jenuh dengan kehidupan seksual rumah tangganya atau karena ingin memiliki gaya seks alternatif alias mau coba sesuatu yang baru.

“Namun, penyebab swinger yang paling umum adalah adanya ketidakpuasan dalam berhubungan seks dengan pasangan,” jelas Ikhsan.

Dilansir dari NBC News, berdasarkan data North American Swing Club, Amerika Serikat, lebih dari satu juta pasangan menikah di AS sudah melakukan seks swinger. Sedangkan di Indonesia sendiri, seks tukar pasangan tergolong sebagai hal yang tabu.

Ada kemungkinan, jika salah satu pihak mengajak untuk melakukan swinger, dia tak ingin menutup-nutupi hasratnya kepada pasangan. Mereka berpikir, “daripada selingkuh diam-diam, lebih baik saya menawarkan hal ini”.

Sayangnya, tak sedikit juga pasangan yang belum paham dari risiko swinger. Pertama, mereka rentan terkena penyakit menular seksual. Kedua, hubungan bisa semakin renggang bahkan bercerai.

Meski awalnya berkedok untuk menghilangkan kejenuhan, tak menutup kemungkinan bahwa seks swinger akan memunculkan ketertarikan seseorang dengan partner seksual yang bukan pasangannya.

Artikel Lainnya: Mengenal Swinger dan Bahayanya buat Kesehatan Anda!

1 dari 3 halaman

Apakah Seks Swinger Termasuk Gangguan Mental?

Ikhsan mengatakan, perilaku seks swinger tak bisa disebut gangguan mental apabila suami dan istri sama-sama sepakat untuk melakukannya.

“Kalau keduanya setuju dan tidak masalah dengan pertukaran pasangan, swinger tidak bisa digolongkan sebagai gangguan mental,” ujarnya

Kendati demikian, seks swinger dapat berubah menjadi sebuah penyimpangan jika ada yang sampai melakukan penipuan agar orang lain mau menjadi pasangannya. “Kalau sudah sampai menipu, itu baru masalah,” tegas Ikhsan.

Selain itu, tak ada yang bisa memastikan betul apakah seks swinger ini bermanfaat buat kesehatan mental atau kesehatan hubungan. Karena sekali lagi, ini merupakan permasalahan budaya dan pandangan.

Ada yang setuju soal pasangan swinger, dan ada pula yang tidak. Ada yang merasa bermanfaat, ada juga yang merasa lebih banyak dampak buruknya.

Artikel Lainnya: 8 Jenis Kelainan Seksual yang Ada di Sekitar Kita

2 dari 3 halaman

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Jika Tak Puas dengan Pasangan?

Ketimbang memilih seks swinger, cobalah cari solusi lain yang lebih sehat jika Anda merasa tidak puas dengan pasangan.

Hal pertama yang perlu dilakukan adalah dengan mengomunikasikan keluhan tersebut kepada pasangan secara baik-baik.

Lalu, diskusikan dengan kepala dingin agar bisa mencari jalan keluar yang tidak merugikan kedua pihak.

Jika penyebabnya adalah karena gangguan fungsi organ intim, hal tersebut harus diobati oleh dokter. Setelah diobati dan menjalani terapi, pasti masalahnya tidak akan lagi dirasakan.

Bila penyebabnya adalah bosan dengan gaya yang monoton, pasutri bisa berkonsultasi kepada pakar seksologi ataupun ahli lainnya yang bersertifikat.

Intinya, masih banyak cara yang sehat dan aman untuk menyelesaikan masalah ketidakpuasan seksual.

Pada dasarnya, pernikahan bukan hanya sekadar untuk menikmati seks. Kalaupun dalam menjalani pernikahan terdapat masalah yang dipicu kekurangan pasangan, coba cari solusinya bersama agar tidak merugikan pihak manapun.

Jika Anda terkendala atau masih ada pertanyaan seputar masalah seksualitas, kesehatan organ intim, dan lain sebagainya, konsultasikan langsung pada dokter lewat fitur LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar