Sukses

APD Tak Jamin Tenaga Medis Bebas COVID-19

Salah satu kelengkapan tenaga medis dalam penanganan pasien COVID-19 adalah alat pelindung diri (APD). Tapi, nyatanya APD tak jamin nakes bebas virus corona.

COVID-19 memang tidak pandang bulu. Salah satu target utama virus mematikan tersebut adalah para tenaga medis karena mereka berurusan langsung dengan pasien positif.

Karena itulah, alat pelindung diri (APD) menjadi pakaian "perang" yang wajib dikenakan tenaga medis.

Namun, APD tak selalu dapat menjamin 100 persen tenaga medis terhindar dari paparan virus corona. Seperti yang Anda tahu, banyak juga nakes yang terkena virus ini dan akhirnya meninggal dunia.

Alasan APD Tak Sepenuhnya Lindungi Tenaga Medis dari COVID-19

Meski berharap penuh pada APD yang dipakai, nyatanya ada beberapa alasan mengapa APD tidak sepenuhnya melindungi para tenaga medis dari ancaman virus corona.

Mereka yang sehari-hari bertempur dengan COVID-19 sangat rentan. Hal ini karena setiap hari pula mereka bersentuhan dengan pasien yang infeksius.

Belum lagi karena kelelahan atau stres yang akhirnya membuat daya tahan tubuh menurun.

"APD memang jadi salah satu pencegahan infeksi corona, tetapi nakes tetap rentan juga. Mereka setiap hari terpapar pasien yang infeksius," ujar dr. Devia Irine Putri.

"Belum lagi, stres yang melanda atau kelelahan menangani pasien-pasien, pasti bisa membuat daya tahan tubuh menurun. Kalau daya tahan tubuh menurun, infeksi coronavirus bisa terjadi," lanjutnya.

Faktor lainnya, kebutuhan akan APD tidak selamanya bisa terpenuhi. Akhirnya, banyak rumah sakit di daerah terpencil yang harus memakai APD secara berulang. Meskipun sudah dicuci, tetap saja berbahaya.

"Di daerah-daerah tertentu, APD masih terbatas dan digunakan berulang kali. Meski sudah dicuci dan disterilkan, mungkin saja masih membawa droplet virus sehingga nakes tertular," jelas dr. Devia.

Artikel Lainnya: Petugas Medis Rentan Trauma Psikologis Pasca Penanganan Virus Corona!

1 dari 3 halaman

Mengenal Jenis APD yang Sering Digunakan Tenaga Medis

Alat pelindung tersebut sebenarnya terdiri dari beberapa jenis. Paling umum yang sering ditemui adalah masker, pelindung mata (goggles), gaun medis, sarung tangan medis, penutup kepala, dan sepatu.

Untuk masker, tenaga medis yang bertugas akan memakai jenis N95. Dinamakan N95 karena bisa menyaring partikel kecil sampai 95 persen. Jenis ini dinilai efektif untuk menutupi mulut dan hidung.

Untuk gaun medis yang dipakai dan menutupi hampir seluruh badan, harus melewati uji klinis untuk dinyatakan layak atau tidak menjadi pakaian nakes.

Gaun ini biasanya sekali pakai dan terbuat dari serat sintetis, seperti polypropylene, poliester, dan polyethylene.

Satu hal yang pasti, semua peralatan APD yang digunakan oleh nakes harus melewati uji klinis, jadi bukan sembarang pakaian.

Penggunaan APD sudah dirumuskan oleh Kementerian Kesehatan (Kemenkes). Dalam hal ini, tenaga kesehatan akan memakai APD dalam tiga tingkatan, yaitu

Tingkat 1:

  • Masker bedah 3 lapisan.
  • Sarung tangan karet sekali pakai.
  • Baju kerja.

Kelompok: Tenaga medis dan paramedis; dokter, perawat, dan supir ambulans.

Lokasi:

  • Tempat praktik umum dan kegiatan yang tidak menimbulkan aerosol.
  • Triase pra-pemeriksaan.
  • Bagian rawat jalan umum.
  • Supir ambulans yang mengantarkan pasien, tidak kontak langsung dan kabin terpisah.

Tingkat 2:

  • Pelindung mata.
  • Penutup kepala.
  • Masker bedah 3 lapisan.
  • Sarung tangan karet sekali pakai.
  • Gaun medis.

Kelompok: Tenaga medis dan paramedis; dokter, perawat, radiografer, farmasi, laboran, dan supir ambulans.

Lokasi:

  • Pemeriksaan pasien dengan gejala infeksi pernapasan.
  • Pengambilan sampel non-pernapasan yang tidak menimbulkan aerosol, ruang perawatan COVID-19, pemeriksaan pencitraan ODP, PDP, atau konfirmasi COVID-19 (gaun diganti jas lab farmasi).
  • Tenaga medis yang mengantar pasien ODP dan PDP.
  • Supir ambulans yang membantu menaikkan dan menurunkan pasien ODP dan PDP.
  • Petugas farmasi pada bagian rawat jalan (gaun diganti jas lab farmasi).

Tingkat 3:

  • Pelindung mata dan face shield.
  • Penutup kepala.
  • Masker N95.
  • Sarung tangan bedah karet steril sekali pakai.
  • Gaun yang menutupi seluruh badan dan apron.
  • Sepatu bot karet dengan pelindung sepatu

Kelompok: Tenaga medis dan paramedis; dokter, perawat, dokter gigi, perawat gigi, dan laboran.

Lokasi:

  • Ruang prosedur dan tindakan operasi pada pasien ODP, PDP, atau terkonfirmasi COVID-19.
  • Kegiatan yang menimbulkan aerosol (intubasi, ekstubasi, trakeostomi, resusitasi jantung paru, bronkoskopi, pemasangan NGT, endoskopi gastrointestinal) pada pasien ODP, PDP, dan konfirmasi COVID-19.
  • Pemeriksaan gigi, mulut, dan THT.
  • Ruang prosedur dan tindakan autopsi pasien ODP dan PDP atau terkonfirmasi COVID-19.
  • Pengambilan sampel pernapasan (swab nasofaring dan orofaring).

Artikel Lainnya: Mau Kulit Wajah Tetap Sehat Meski Pakai Masker Seharian? Ini Caranya!

2 dari 3 halaman

Tips Tenaga Medis Terlindung dari Risiko Tertular COVID-19

Walau APD tidak 100 persen melindungi para tenaga medis dari virus corona, tetapi ada beberapa tips supaya mereka terlindung dari risiko tertular COVID-19.

"Cara yang bisa dilakukan adalah penjadwalan shift yang diatur agar tidak bertumpuk, karena harus istirahat cukup agar daya tahan tubuh tidak turun," kata dr. Devia.

"Lalu, jangan sampai terlambat makan, konsumsi makanan bergizi, dan minum yang cukup. Disarankan minum vitamin misalnya C atau D, untuk membantu menjaga daya tahan tubuh," sambungnya.

Tugas berat menanti tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan penanganan COVID-19. Untuk itu, usahakan untuk selalu waspada dan jaga kesehatan.

KlikDokter bersama Kemenkes RI dan BNPB menyediakan tes coronavirus online, rapid test, dan PCR untuk menentukan gejala. Bila ingin konsultasi dengan dokter lebih mudah, gunakan fitur Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar