Sukses

Peringatan Konten!!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

21 Tahun

LanjutkanStop Disini

Fetish dan Fantasi Seksual, Apakah Bedanya?

Viral kasus fetish kain jarik picu rasa ingin tahu orang terkait istilah fetisisme. Banyak yang menyamakannya dengan fantasi seksual. Apa beda keduanya?

Beberapa waktu lalu, dunia maya sempat geger oleh thread terkait fetish kain jarik yang diunggah akun @m_fikris. Banyak orang lantas ingin mencari tahu lebih lanjut mengenai fetisisme atau fetish. Sebagian menyamakan fetish dengan fantasi seksual. 

Apakah keduanya sama? Atau dua istilah yang berbeda? Yuk, simak ulasannya di artikel ini.

1 dari 4 halaman

Fetish, Perilaku Apa Itu?

Istilah fetishism atau fetisisme berasal dari bahasa Portugis, feitico, yang berarti pesona obsesif.

Orang yang punya kecenderungan fetish menganggap benda-benda atau fitur tubuh non-genital tertentu menarik secara seksual. Misalnya, bulu, karet, sepatu boot, bau urine, bahkan jempol kaki dan ujung kuku.

Perilaku fetish ini tak berarti selalu dianggap sebagai kelainan seksual. Ada juga fetish yang sangat umum dan dalam bentuk yang ringan sehingga sering dianggap tidak masalah.

Akan tetapi, fetish dapat bersifat “ganas”, baik secara fisik maupun psikologis. Kelompok yang kedua inilah yang dapat membahayakan orang lain.

Fetisisme dikatakan sudah melenceng ketika Anda tetap terangsang secara seksual, meskipun tidak memiliki atau melihat benda “jimat” tersebut.

Fetish sebenarnya sah-sah saja. Hal yang tidak normal itu kalau sudah sampai mengganggu aktivitas atau fungsi seksualnya. Misalnya, pelaku sampai mencuri pakaian dalam orang lain atau pelaku melakukan segala cara agar orang lain mau memenuhi keinginannya,” kata psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi.

Salah satunya, Ikhsan mencontohkan, kasus yang fetish kain jarik di Surabaya yang viral beberapa waktu lalu. 

Pelaku sampai memanipulasi bahkan memaksa korban untuk membungkus dirinya dengan kain jarik dengan alasan penelitian.

“Fetisisme juga bisa mengarah ke perilaku berbahaya atau menyimpang. Berbahayanya bisa ke diri mereka sendiri atau orang lain. BDSM (Bondage, Dominance, Submission/Sadomasochism) juga bisa aja masuk fetish. Bisa jadi ketika menyakiti atau mendapatkan rasa sakti, dia menjadi terangsang,” jelasnya.

Kondisi ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki, daripada perempuan. Biasanya, fetisisme dimulai pada akhir masa kanak-kanak atau remaja dan cenderung bertahan seumur hidup. Kecuali penderita mendapatkan terapi dan pengobatan.

Artikel Lainnya: Heboh Kasus Fetish Kain Jarik, Apa Ini Gangguan Mental yang Berbahaya?

2 dari 4 halaman

Mengenal Fantasi Seksual

Dengan kata lain, seseorang yang punya perilaku fetish membutuhkan benda tertentu untuk imajinasi sehingga dapat menaikkan libidonya. Lantas, apa bedanya dengan fantasi seksual?

Fantasi seksual adalah aktivitas yang dapat disengaja ataupun tidak yang dilakukan untuk menghadirkan suatu imajinasi (khayalan) yang terkait erat dengan kegiatan seksual. 

Semua orang yang sudah mencapai kematangan fisiologis, pada dasarnya bisa melakukan fantasi seksual.

Fantasi seks dapat mendorong seseorang untuk mewujudkannya secara nyata. Misalnya saja, dengan memeluk, berciuman, menyentuh dan meraba, serta berhubungan seksual. 

Sama seperti fetish dalam kadar yang tepat, fantasi seksual sebenarnya terserah individu masing-masing dan sah-sah saja dilakukan. 

Dengan catatan, menurut Ikhsan, jangan sampai fantasi seksual Anda mengganggu fungsi seksual Anda, plus membahayakan orang lain. 

“Sebagai contoh, Anda menjadi tidak terangsang kalau tidak bayangin pasangan lagi diperkosa. Bisa juga Anda sampai mencoba segala macam cara agar seperti fantasi Anda terwujud,” dia menjelaskan.

Artikel Lainnya: Wanita Senang Jadi Objek Fantasi Seksual Pria, Normalkah?

3 dari 4 halaman

Jadi, Bedanya Apa?

Menurut Ikhsan, fetish itu masih termasuk ke dalam fantasi seksual. Mengapa demikian? 

Itu karena fetish itu pada dasarnya adalah suatu fantasi seksual. Hanya saja, yang membedakan adalah objeknya.

“Mudahnya, kalau fetish itu ke benda mati (non-living object), sedangkan kalau fantasi seksual bisa ke semua hal, termasuk ke makhluk hidup,” ujar Ikhsan.

“Nah, oleh karena fetisisme masih termasuk ke dalam fantasi seksual, kembali lagi ke si pelakunya. Apakah ketika dia sedang fetish terhadap sesuatu, dia memfantasikan seksualnya? Itu karena kalau fantasi seks, si pelaku membayangkan kalau dia punya pengalaman seperti yang diimajinasikan,” Ikhsan menambahkan.

Dalam kondisi tertentu, fetish juga dapat muncul karena trauma di masa lalu, sementara fantasi seksual tidak. 

Ingat, seperti yang disampaikan sebelumnya, pada dasarnya semua orang dapat memiliki fantasi seksual. Sementara itu, tidak semua orang punya fetish pada suatu benda. 

Fetish yang sudah dalam kondisi khusus biasanya karena ada trauma. Kalau fantasi memang khayalan atau imajinasi seksual. Semua orang bisa punya fantasi semacam itu. Hanya saja, tidak sampai ke bentuk perilaku atau ketertarikan khusus seperti fetish,” dia menjelaskan.

Masih punya pertanyaan seputar topik fetish dan fantasi seksual, tanyakan langsung pada psikolog kami di fitur LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(AYU/ARM)

0 Komentar

Belum ada komentar