Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Mengapa Masih Banyak yang Skeptis dengan COVID-19? Ini Kata Psikolog

Mengapa Masih Banyak yang Skeptis dengan COVID-19? Ini Kata Psikolog

Unggahan Anji beberapa waktu lalu jadi kontroversi. Pro dan kontra pun menghiasi kolom komentarnya. Dia dianggap skeptis dengan COVID-19.

Virus corona bukan penyakit yang bisa dipandang sebelah mata. Namun, masih ada saja orang yang menganggap skeptis virus yang sudah menjangkiti lebih dari 14 juta orang di seluruh dunia ini. Tak sedikit pula yang tidak percaya COVID-19 seseram yang diberitakan.

Salah satunya seperti yang diungkapkan Anji dalam unggahan di media sosialnya beberapa waktu lalu.

Viral Komentar Anji soal Foto Pasien Meninggal COVID-19

Unggahan dalam akun @duniamanji tersebut memasang potret jenazah korban virus corona yang dibalut kencang dengan plastik. Foto ini memang sempat viral beberapa waktu lalu.

Sayangnya, unggahan pria yang juga aktif di Youtube ini banyak menuai kritik dari masyarakat.

Pasalnya, bukannya ikut berbelasungkawa dan prihatin atas banyaknya korban meninggal akibat COVID-19, Anji justru terlihat seperti “meremehkan” pandemi virus corona yang sedang terjadi. 

Di Instagram pribadinya itu, Anji menulis,

Foto ini terlihat powerful ya. Jenazah korban cvd. Tapi ada beberapa kejanggalan. 

  1. Tiba-tiba secara berbarengan foto ini diunggah oleh banyak akun ber-follower besar, dengan caption seragam. Sebagai orang yang familiar dengan dunia digital, buat saya ini sangat tertata. Seperti ada KOL (Key Opinion Leader) lalu banyak akun berpengaruh menyebarkan. Polanya mirip. Anak Agency/influencer/buzzer pasti mengerti,” tulis Anji dalam postingannya tersebut. 
  1. Dalam kasus kematian (yang katanya) korban cvd. Keluarga saja tidak boleh menemui. Ini seorang fotografer malah boleh. Kalau kamu merasa ini tidak aneh, artinya mungkin saya yang aneh.

Saya percaya cvd itu ada. Tapi saya tidak percaya bahwa cvd semengerikan itu. Yang mengerikan adalah hancurnya hajat hidup masyarakat kecil.

EDIT : saya menulis cvd karena malas menulis covid.

Karena komentarnya ini, Anji pun jadi perbincangan publik. Bahkan, ada salah satu netizen yang meminta Anji untuk masuk ke Wisma Atlet tanpa menggunakan APD yang lengkap.

Artikel Lainnya: Jangan Percaya Hoax, Ini Mitos dan Fakta Seputar Coronavirus

1 dari 5 halaman

Apakah Komentar Anji Termasuk Tanda Skeptis?

Dengan pernyataan Anji yang telah disebutkan tadi, tidak sedikit masyarakat yang menganggap Anji masih skeptis dengan penyebaran virus corona.

Skeptis sendiri merupakan perasaan tidak percaya atau meragukan suatu hal. 

Lantas, apakah dengan pernyataan yang dibuatnya, Anji bisa dikatakan sebagai orang yang skeptis dengan virus corona? 

Kepada KlikDokter, psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi., mengatakan apa yang dilakukan oleh Anji, bisa masuk dalam perilaku orang yang skeptis. 

“Sikap Anji ini bisa disebut dengan perilaku yang skeptis. Biasanya, orang akan dapat mempercayai sesuatu jika hal itu terjadi dalam pengalaman hidupnya, atau ketika ada orang di sekitarnya yang mengalami kejadian itu (dalam hal ini terkena coronavirus),” kata Ikhsan.

“Bisa jadi orang di sekitar Anji itu belum ada yang terinfeksi corona atau kena corona dengan gejala ringan saja. Makanya, bisa saja itu membuat dia jadi skeptis virus corona tidak seberbahaya itu, menurut dia,” ujar Ikhsan. 

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 5 halaman

Mengapa Ada Orang yang Skeptis dengan Ancaman Virus Corona?

Tidak hanya Anji, mungkin banyak orang di luar sana yang justru masih meragukan ancaman dari virus corona.

Menurut Ikhsan, ada beberapa faktor yang menyebabkan seseorang masih skeptis/meragukan ancaman virus corona, seperti:

  • Belum Merasakan atau Mengalaminya

Ada beberapa orang yang memang memiliki sikap sangat radikal. Hal ini membuat apapun yang jadi pendapatnya pasti selalu dikatakan benar, sampai orang tersebut benar-benar merasakan dampaknya sendiri.

“Bisa jadi, orang ini belum mengalami dampak dari virus corona (bukan dampak ekonomi). Dia pun masih menganggap ancaman virus corona tidak benar-benar nyata,” tutur Ikhsan.

  • Tidak Ada Informasi yang Pasti 

Banyaknya informasi terkait virus corona yang tidak benar, membuat banyak orang ragu dengan pandemi ini. Padahal, tidak semua berita adalah bohong.

Karena itu, Ikhsan mengimbau agar masyarakat lebih pintar dan cermat lagi dalam memilih berita terkait virus corona. 

  • Berada Dalam Kondisi Tidak Pasti 

Tidak dimungkiri, sekarang kita berada di situasi yang serba-tidak pasti.

Misalnya, PSBB malah dilonggarkan, meski angka penularan masih tinggi; atau new normal sudah dijalankan, padahal kasusnya belum menurun seperti negara lain.

Situasi yang yang tidak sejalan ini dapat membuat orang-orang berpikir skeptis terkait pandemi.

  • Mengurangi Kecemasan

Menurut Ikhsan, ada juga orang yang bersikap skeptis guna mengurangi kecemasan yang dimilikinya.

Jadi, dia berusaha bersikap santai dan cuek, padahal sebenarnya orang itu merasa cemas.

Artikel Lainnya: Tips Kurangi Waktu Berkumpul dengan Teman saat New Normal

3 dari 5 halaman

Apa yang Terjadi Kalau Sikap Skeptis Datang dari Public Figure?

Seorang public figure memang punya “pengaruh” tersendiri untuk menggiring opini masyarakat. Saat nada skeptis datang dari seorang public figure, masyarakat dapat dengan mudah terpengaruh. 

“Kalau dari public figure, perilaku skeptis bisa berbahaya, sih. Apalagi jika orangnya bisa mempersuasi orang lain. Seperti sebelum-sebelumnya juga ada public figure yang skeptis dengan virus corona, bahkan tidak percaya dengan virus corona. Kalau massa atau followers-nya percaya, ini bisa gawat,” ujar Ikhsan. 

“Kalau massanya jadi punya pemikiran yang sama dengan sang public figure itu, makin banyak orang yang jadi meremehkan virus corona. Angka kasus COVID-19 di Indonesia jadi semakin tinggi. Semakin lama pula bagi Indonesia untuk pulih.”

Artikel Lainnya: Presiden Joko Widodo: Puncak COVID-19 di Bulan Agustus-September!

4 dari 5 halaman

Bagaimana Cara Hadapi Orang yang Skeptis dengan Virus Corona 

Beradu argumen dengan orang yang berbeda pemahaman memang tidak ada habisnya. Bukannya menemukan solusi, perselisihan yang justru bisa terjadi.

Karena itu, menurut Ikhsan, jika Anda sedang berhadapan dengan orang yang skeptis, coba pahami terlebih dahulu sudut pandang yang orang itu miliki. 

“Jika Anda ingin dipahami, coba pahami terlebih dahulu jalan pikiran yang mereka miliki. Lihat dari sudut pandang dia, kira-kira apa yang kurang tepat sehingga dia meyakini apa yang dia yakini. Misalnya, coronavirus tidak berbahaya, cari tahu apa yang membuat mereka berpikir seperti itu,” ujar Ikhsan. 

Setelah memahami jalan pikir mereka, barulah Anda berpendapat dengan memberikan data-data valid terbaru terkait virus corona.

Jelaskan dan jabarkan informasi tersebut dengan nada yang santai dan mudah dimengerti. Lawan bicara pun jadi tidak terpancing emosinya. 

“Jika mereka tetap percaya dengan yang mereka yakini, maka biarkan demikian. Karena setiap orang memiliki apa yang mereka yakini sendiri. Biarkan data dan fakta yang nantinya membuka pikiran dan mata mereka,” tutur Ikhsan.

Tak perlu gusar pada orang-orang yang masih skeptis terkait virus corona. Kalaupun ingin protes, sampaikan dengan cara yang baik.

KlikDokter bersama Kemenkes RI dan BNPB memiliki komitmen tinggi untuk mencegah penularan virus corona. Untuk melengkapinya, Anda dapat cek risiko virus corona onlinerapid test, dan PCR. Ini agar masyarakat semakin mudah untuk mendapatkan layanan kesehatan.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar