Sukses

Anak Membentuk Geng Sejak Kecil, Apa Alasannya?

Anak Anda yang masih kecil sudah punya geng? Mari ketahui alasan pasti dari anak yang membentuk kelompok menurut psikolog.

Ternyata kecenderungan membentuk kelompok pertemanan alias geng bukan muncul pada saat remaja saja. Sejak usia dini pun, anak sudah cenderung punya kelompok pertemanan sendiri. Kenapa begitu, ya?

Geng pertemanan biasanya sering dianggap negatif oleh banyak orang. Akan tetapi, pada dasarnya, manusia memang butuh lingkaran pertemanan untuk eksistensi diri.

Mengapa Anak Membentuk Kelompok Pertemanan Sejak Dini?

Bisa dibilang, anak yang membentuk geng bukan tanpa alasan. Dijelaskan oleh Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, ketika membentuk geng, berarti anak-anak sedang dalam tahap perkembangan aspek sosial.

Ini sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Anak-anak yang sudah mulai masuk sekolah dasar umumnya sering membentuk geng atau perkumpulan teman.

"Sebenarnya proses pembentukan kelompok pada anak adalah salah satu bentuk tahapan perkembangan pada aspek sosialnya, terutama anak yang mulai masuk sekolah dasar," ujar Ikhsan. 

"Karena, anak sedang adaptasi dengan lingkungan di luar keluarganya. Ia biasanya akan mencari teman-teman yang memang memiliki minat yang sama, misalnya anak yang suka sepak bola akan kumpul dengan yang suka sepak bola," sambungnya.

Jadi, membentuk geng adalah hal wajar bagi anak-anak yang masih kecil. Bagi anak yang beranjak dewasa, Anda hanya perlu mengawasinya. 

Artikel Lainnya: Usia Berapa Sebaiknya Anak Mulai Sekolah?

1 dari 4 halaman

Apa Untungnya Membentuk Geng bagi Anak?

Soal ini, Anda perlu tahu. Ternyata, membentuk geng tidak buruk bagi anak, lho

Gary Ladd, seorang profesor psikologi dari Arizona State University, meneliti peran hubungan teman sebaya dalam perkembangan anak dan remaja dengan melacak temuan penelitian utama dari tahun 1.900-an hingga saat ini.

Aspek-aspek yang termasuk meliputi penerimaan dan penolakan teman sebaya, pengembangan persahabatan, penyesuaian sekolah, intimidasi, harga diri, dan rasa kesepian. 

Lalu, ada juga peran yang dimainkan oleh perbedaan jenis kelamin, emosi, dan budaya dalam hubungan teman sebaya.

"Anak-anak memulai hidup mereka di dunia sosial keluarga mereka. Namun, ketika tumbuh dewasa, mereka diperkenalkan ke dunia sosial teman sebaya dan menghabiskan lebih banyak waktu dengan anak-anak seusia mereka," kata Ladd. 

"Jenis hubungan yang mereka bentuk berbeda dari yang dimiliki dengan orang tua dan saudara kandung. Ini mengajari mereka keterampilan unik yang memengaruhi perkembangannya. 

Artikel Lainnya: Anak Tak Mau Masuk Sekolah, Wajarkah?

Hubungan teman sebaya lebih seimbang, dan teman sebaya cenderung membawa tingkat kemampuan, penalaran, dan keterampilan yang serupa ke dalam interaksi mereka," sambungnya.

Sejak usia prasekolah, anak-anak menghadapi berbagai tantangan, seperti perlu mendapatkan teman baru, mempertahankan persahabatan, menyesuaikan diri dengan kelompok sebaya, dan menghindari bully

Menurut Ladd, semua keterampilan interpersonal ini membutuhkan keterampilan berpikir dan perilaku yang kompleks.

Lagipula, saat membentuk geng atau perkumpulan teman sebaya, ada beberapa keterampilan yang bisa dipelajari anak. 

Menurut Ladd, punya geng bisa membuat anak belajar tentang ketegasan, manajemen konflik, cara mendapatkan rasa hormat, dan mengendalikan agresi. 

Penelitian juga menunjukkan, punya geng yang sebaya memberi anak-anak peluang penting untuk mendiskusikan perasaan, memperluas proses pemikiran dan pengetahuan, serta bereksperimen dengan bahasa dan peran sosial.

Hal yang sama disampaikan oleh psikolog Ikhsan. Ia mengatakan, umumnya punya geng itu adalah hal yang baik.

"Sebenarnya anak punya kelompok itu baik, kok. Bisa meningkatkan kemampuan interaksi, memberikan motivasi dalam mencapai sesuatu, karena melihat ada temannya mungkin yang pintar atau rajin," katanya.

Artikel Lainnya: Anak Jadi Korban Bullying, Apa Yang Harus Dilakukan?

2 dari 4 halaman

Adakah Risiko Anak Punya Geng Sejak Kecil?

Pada dasarnya, semua hal memang ada risikonya. Seperti sudah disebutkan di atas, anak berlaku sesuai dengan pengaruh lingkungannya. Nah, peran orang tua yang dibutuhkan pada saat ini.

Kalau ortu melihat sudah ada yang salah dalam geng anak, sudah seharusnya mereka terlibat dan jelaskan pada anak bahwa hal itu salah.

"Kalau orang tua melihat kelompok anak ini sudah mengarah ke yang tidak baik, maka di situ orang tua perlu intervensi anak dan jelaskan bahwa yang dilakukan dalam kelompok tidaklah baik," jelas Ikhsan.

3 dari 4 halaman

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Supaya Geng Anak Tidak Toxic?

Orang tua punya kendali penuh untuk membuat kelompok anak tetap sehat secara psikologis. Kalau ada yang menyimpang, Anda perlu bertindak.

Pola asuh orang tua sangat menentukan. Perhatikan pengajaran yang diberikan di rumah, terutama tentang norma dan nilai kehidupan.

"Agar kelompok tetap sehat, sebenarnya itu kembali lagi ke pola asuh orang tuanya. Di rumah, apakah orang tua sudah mengajarkan anaknya tentang nilai atau aturan sosial yang baik," ujar Ikhsan.

"Ini agar ketika para anak berkelompok, mereka tidak merendahkan orang lain di luar kelompoknya atau mem-bully orang lain," sambungnya.

Anak-anak punya geng sebenarnya punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal bagaimana Anda sebagai orang tua mengambil peran agar mereka tidak kebablasan.

Mau tahu info dan tips pola asuh yang tepat untuk anak langsung dari psikolog? Download saja aplikasi KlikDokter!

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar