Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Puluhan Murid Pesantren Gontor Positif COVID-19, Bukti Asrama Berisiko

Puluhan Murid Pesantren Gontor Positif COVID-19, Bukti Asrama Berisiko

Puluhan murid pesantren di Gontor diketahui positif virus corona. Lantas, apakah sekolah asrama lebih rentan penularan virus COVID-19?

Beberapa waktu yang lalu, masyarakat sempat geger oleh berita ribuan siswa Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) positif virus corona. Kini, kejadian serupa terjadi di sebuah pesantren Pondok Modern Darussalam Gontor 2, Jawa Timur.

Usai dilakukan tes, puluhan santri di pesantren tersebut diketahui positif COVID-19. Bagaimana kronologinya?

23 Santri di Gontor Positif Virus Corona

Seperti dirangkum dari berbagai sumber, sebanyak 23 santri di Gontor Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, dinyatakan positif virus corona.

Disampaikan Bupati Ponorogo, Ipong Muchlissoni, ada sekitar 495 santri yang sudah melakukan rapid test, dan 23 di antaranya dinyatakan reaktif.

Ipong mengatakan kasus COVID-19 yang terjadi di Pondok Pesantren Gontor 2 ini terjadi setelah salah satu seorang santri terkonfirmasi positif virus corona.

Diketahui, murid pesantren tersebut berasal dari daerah Sidoarjo, Jawa Timur. Kebetulan ketika datang ke pondok tanggal 17 Juni lalu, ia tak membawa surat keterangan bebas virus corona.

Selain itu, orang tua dari santri ini pun juga telah terkonfirmasi positif virus corona pada 8 Juli lalu.

Berdasarkan temuan tersebut, DInas Kesehatan Ponorogo melakukan tes swab kepada santri tersebut.

Kini, Pemerintah Kabupaten Ponorogo telah melakukan tindakan cepat dengan menutup akses masuk ke Pondok Modern Darussalam Gontor 2 yang berlokasi di Desa Madusari, Kecamatan Siman.

Artikel Lainnya: Tips Kurangi Waktu Berkumpul dengan Teman saat New Normal

1 dari 4 halaman

Pondok Pesantren Gontor Punya Alat PCR Sendiri

Untuk menelusuri santri yang sudah terpapar COVID-19, Pondok Modern Darussalam Gontor 2 memiliki alat PCR sendiri yang didapat dari para alumni pondok.

Meski masih dalam proses instalasi di RS Aisyiyah Ponorogo, alat tersebut akan segera dibagikan untuk mengetes para santri dan masyarakat yang memerlukan.

Namun, apakah alat PCR yang dimiliki oleh Pesantren Gontor 2 bisa tergolong efektif? Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri berpendapat, jika alat PCR itu memang didapatkan dari alumni pondok dan berasal dari rumah sakit, alat tersebut bisa dikatakan efektif.

“Kalau PCR ini sepertinya ada sumbangan dari salah satu alumni dari sekolah ini untuk di rumah sakit setempat. Harusnya kalau sudah bekerja sama dengan RS pasti sudah terjamin alat PCR-nya, sudah sesuai standar,” kata dr. Devia kepada KlikDokter.

Artikel Lainnya: Mau Mulai Beraktivitas? Ini Level Risiko Terinfeksi Virus Corona!

2 dari 4 halaman

Kasus Pesantren Gontor, Menteri Agama Akui Sekolah Asrama Berisiko COVID-19

Jika mengingat kembali kasus di Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD), di mana 1.280 siswa positif virus corona, apa yang terjadi di pesantren Gontor ini sebenarnya mirip.

Keduanya sama-sama sekolah berasrama yang ditinggali bersama oleh banyak murid. Tentunya, ini membuktikan adanya risiko tinggi terhadap sekolah-sekolah berbasis asrama.

Terkait lonjakan kasus corona yang berasal dari sekolah berasrama, Menteri Agama Fachrul Razi mengatakan, membuka kembali sekolah keagamaan berbasis berasrama sangat berisiko besar. Menurutnya, sekolah berasrama memang rawan terhadap penularan virus corona.

Dari berbagai sumber, Fachrul mengatakan pihaknya telah menemukan sekolah berasrama yang di dalamnya sudah ada kasus positif virus corona.

Ia juga mengatakan, jika ada siswa yang membawa virus ini ke dalam asrama, ini bisa jadi sumber penularan ke teman-temannya yang lain.

Dokter Devia pun sepakat tentang hal tersebut. Menurutnya, saat seorang murid berada di asrama, tentunya kita tak bisa mengontrol kegiatan bersosialisasi mereka. Hal tersebut tak bisa dihindari.

Apalagi, kata dr. Devia, dalam sekolah asrama, murid sharing kamar hingga meja makan. Saat ada satu siswanya terjangkit virus corona, sekolah asrama bisa jadi tempat penularan COVID-19.

“Kalau asrama memang rentan ya, dimana muridnya jumlahnya padat, tempat tidur berdempetan. Sebaiknya untuk amannya memang sekolah asrama diliburkan dulu, pembelajaran dilakukan di rumah dulu saja,” dia menambahkan.

Artikel Lainnya: Panduan Naik Transportasi Umum saat New Normal

3 dari 4 halaman

Supaya Sekolah Asrama Aman dari Virus COVID-19

Jika memang sekolah berbasis asrama tetap ingin dibuka, ada beberapa cara aman yang bisa diikuti oleh setiap instansi sekolah. Dijelaskan oleh dr. Devia, berikut tipsnya:

  • Batasi Jumlah Murid/Santri yang Masuk

Membatasi jumlah murid atau santri yang masuk adalah salah satu cara yang bisa dilakukan agar sekolah berasrama bebas dari COVID-19.

Selain itu, mengatur jarak tempat tidur dan menjaga jarak selama beraktivitas juga wajib dilakukan.

  • Bawa Surat Keterangan Bebas COVID-19

Sebelum kembali ke asrama, para santri/murid sebaiknya menunjukkan surat keterangan bebas COVID-19 pada pihak sekolah.

Akan lebih baik lagi, jika surat keterangan itu berasal dari swab test/tes usap, karena hasilnya akan lebih akurat.

  • Taati Protokol Kesehatan

Meski sedang berada di dalam ruangan kelas, atau kantin sekolah, para santri/murid wajib menggunakan masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan.

Semua protokol kesehatan tetap harus dilakukan dengan baik agar risiko tertular COVID-19 pun menjadi sangat rendah.

  • Lapor jika Ada Gejala

Apabila ada santri/murid yang tidak enak badan atau memiliki gejala COVID-19, jangan malu untuk melaporkan kepada pihak sekolah. Semakin cepat melapor, semakin cepat juga penanganan yang akan diterima.

Virus corona memang lebih tinggi risikonya menyebar di lingkungan sekolah asrama. Itu sebabnya, para siswa, guru, serta seluruh penghuni asrama wajib menerapkan protokol secara ketat dan disiplin.

Masih perlu penjelasan soal COVID-19? Anda bisa langsung konsultasi dengan dokter lewat layanan LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Anda juga bisa mencoba fitur cek risiko virus corona online dan rapid test dari KlikDokter.

(HNS/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar