Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Melegakan, Kemenkes RI Putuskan Tarif Rapid Test Tertinggi 150 Ribu Saja!

Melegakan, Kemenkes RI Putuskan Tarif Rapid Test Tertinggi 150 Ribu Saja!

Jadi salah satu persyaratan untuk bepergian, kini biaya rapid test virus corona lebih murah dan disamaratakan. Berikut informasi selanjutnya.

Prosedur pemeriksaan virus corona di Indonesia dilakukan dengan dua cara, yaitu rapid test dan swab (PCR). Orang yang sudah melakukan rapid test, hasilnya harus dikonfirmasi lagi dengan tes swab PCR. Namun, orang yang sudah lakukan tes swab PCR, tak perlu lakukan rapid test lagi karena hasilnya sudah valid. 

Untuk mengetahui penyebaran virus corona di Indonesia, rapid test akan diperbanyak. Tes ini juga menjadi syarat untuk bepergian ke luar kota. 

Sayangnya, karena biaya rapid test yang mahal dan bervariatif, masyarakat jadi enggan melakukannya. 

Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI akhirnya memukul rata semua biaya rapid test virus corona menjadi Rp150.000. Lantas, apa yang membuat biaya tes sebelumnya berbeda-beda? Simak ulasan lengkapnya berikut ini. 

Kemenkes Keluarkan Surat Edaran Terkait Rapid Test Virus Corona

Sebelum Anda mengetahui alasan di balik harga rapid test virus corona yang sangat bervariatif, sebaiknya ketahui dulu soal surat edaran dari Kemenkes terkait harga rapid test pada tanggal 6 Juli 2020 kemarin.  

Di dalam Surat Edaran Nomor HK.02.02/I/2875/202 yang ditandatangani Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Bambang Wibowo, pihaknya mengimbau semua fasilitas kesehatan untuk memberikan pelayanan rapid test dengan batasan tarif maksimal sebesar Rp150.000. 

Biaya Ini berlaku untuk masyarakat yang ingin mengecek virus corona secara pribadi. Orang yang menguji pun tak boleh sembarangan, tentunya mesti petugas medis yang bersertifikat, diakui dan berasal dari institusi kesehatan. Semua faskes harus mematuhi peraturan ini. 

Artikel Lainnya: Jadi Mitra Kemenkes RI dan BNPB, KlikDokter Gelar Rapid Test Gratis!

1 dari 3 halaman

Mengapa Rapid Test Tetap Perlu Dilakukan?

Tak bisa dimungkiri, jumlah tenaga medis dan alat tes swab PCR di Indonesia tak sebanyak di negara-negara maju seperti Amerika Serikat atau Tiongkok.

Maka dari itu, tidak semua orang bisa langsung mendapatkan tes swab atau PCR di sini. Hal tersebut dapat dilihat dari jauhnya jarak antara jumlah orang yang sudah dites swab PCR dengan jumlah penduduk Indonesia. 

Awalnya, orang tersebut harus melakukan rapid test dulu. Jika hasil rapid test reaktif, barulah hal tersebut dikonfirmasi lagi lewat tes swab PCR. Sebab, hasil tes PCR lebih akurat ketimbang rapid test

Kendati demikian, hasil rapid test jauh lebih cepatnya keluarnya ketimbang PCR, sehingga ini mempermudah petugas untuk melakukan tracing (penelusuran kontak). Untuk keperluan bepergian ke luar kota pun tes rapid dianggap lebih ringkas. 

Di dalam surat edaran Kemenkes, rapid test juga dapat digunakan untuk menyaring siapa saja yang terinfeksi COVID-19 di antara kelompok OTG, ODP, dan PDP pada wilayah yang tidak memiliki fasilitas pemeriksaan PCR. 

Namun sekali lagi, rapid test ini adalah skrining awal. Hasil pemeriksaan rapid test virus corona harus tetap dikonfirmasi dengan PCR!

Artikel Lainnya: Pengalaman Mengecek Virus Corona secara Pribadi

2 dari 3 halaman

Mengapa Tarif Rapid Test Sebelumnya Bisa Berbeda-beda?

Seperti yang sempat disinggung di atas, harga rapid test virus corona ini sempat bervariatif. 

Bahkan, ada yang sampai menginjak harga satu juta rupiah! Sementara itu, ada pula faskes yang menawarkan dengan harga tak sampai 100 ribu. Kok, bedanya bisa jauh begitu, ya?

Menanggapi pertanyaan di atas, begini penjelasan dr. Alvin Nursalim, Sp.PD kepada KlikDokter. Tentang biaya rapid test virus corona yang berbeda-beda, dr. Alvin mengatakan,

 “Ada beberapa faktor, salah satunya adalah perbedaan alat atau kebijakan di setiap rumah sakit.”

Saat melakukan rapid test, tenaga medis harus mengenakan alat pelindung diri (APD), inilah yang membuat ada biaya tambahan di luar harga skrining-nya itu sendiri. 

Ditambah lagi dengan adanya rekomendasi 150 merek rapid test yang diedarkan, pada akhirnya ini membuat harga skrining di tiap faskes menjadi berbeda. 

Apabila faskes memakai rapid test yang harganya dari awal sudah murah dan kita memilih itu, apakah mutunya lebih jelek daripada yang mahal?

“Seharusnya tidak, kalau sudah diizinkan untuk beredar, maka sudah ada standarnya. Jadi, ya, nggak apa-apa jika Anda memilih tes dengan harga yang murah. Rapid itu ada nilai sensitivitasnya, bukan berarti kalau hasilnya negatif, Anda fix bebas COVID-19. Hasil tes tetap harus dikonsultasikan ke dokter, pemeriksaan fisik, dan dilihat ada infeksi atau tidak,” jelas dr. Alvin.

Mau yang murah atau mahal, hasil tes rapid sebenarnya bukanlah hasil pasti atau diagnosis pasti. 

Masih butuh pengulangan 7-10 hari kemudian (bagi yang hasilnya negatif), serta pemeriksaan penunjang lain dan juga tes swab PCR untuk memastikannya. 

Itu dia penjelasan soal keputusan Kemenkes terkait biaya rapid test virus corona dan alasan mengapa harganya bisa bervariatif. 

Jika ingin tahu lebih lanjut seputar virus corona ataupun masalah kesehatan lainnya, gunakan fitur Live Chat 24 jam untuk konsultasi dengan dokter. Nah, untuk memeriksa kondisi pribadi, Anda bisa coba tes coronavirus online dan rapid test dari KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar