Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Kabar Baik, Vaksin Virus Corona Buatan Indonesia Siap Produksi Tahun Depan

Kabar Baik, Vaksin Virus Corona Buatan Indonesia Siap Produksi Tahun Depan

Sudah masuk tahap 8 pengujian, vaksin virus corona buatan Indonesia disebut-sebut akan diproduksi tahun 2021. Bagaimana perkembangannya?

Sampai saat ini, vaksin virus corona belum juga ditemukan. Banyak negara dan instansi kesehatan berlomba-lomba mencari vaksin virus corona. Kendati demikian, sudah ada lima vaksin yang masuk dalam tahap uji klinis atau yang siap diujikan ke manusia. 

Apa saja vaksin yang sudah diuji? Ada vaksin milik Tiongkok, Amerika Serikat, dan Inggris. Tidak mau kalah, Indonesia pun ikut mengembangkan vaksin virus corona yang disebut akan produksi tahun 2021.

Vaksin COVID-19 Buatan Indonesia Sudah Masuk Tahap 8 Pengujian

Menurut dr. Reisa Broto Asmoro dari Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas Nasional Percepatan Penanganan COVID-19, vaksin virus corona buatan Indonesia siap diproduksi tahun depan. 

Pihak yang ikut membantu mengembangkan vaksin virus corona dari Indonesia adalah PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe). 

Kalbe sudah menandatangani nota kesepahaman untuk mengembangkan vaksin virus corona dengan Genexine, Inc, perusahaan obat biologi asal Korea Selatan.

Dokter Reisa mengatakan, butuh 15 tahapan yang harus dipenuhi agar vaksin layak digunakan. Kini, calon vaksin virus corona dari Indonesia telah berhasil melalui 8 dari 15 tahapan. 

Untuk itu, dr. Reisa meminta seluruh masyarakat untuk tetap optimis dan mendukung usaha Indonesia mengembangkan vaksin sampai ke tahap akhir.

Tidak hanya itu, mengingat vaksin COVID-19 belum ditemukan, dr. Reisa menganjurkan masyarakat tetap menjaga diri lewat berbagai pencegahan. 

Misalnya, mengenakan masker, rajin mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, menjaga jarak dengan orang lain, dan tidak berkerumun pada satu tempat.

Artikel Lainnya: 2 Obat Herbal Virus Corona Kalbe Farma Ikut Uji Klinis

1 dari 4 halaman

Tahapan Umum Pembuatan dan Pengembangan vaksin

Perlu diketahui, tahap pembuatan dan pengembangan vaksin tidak semudah mengupas kulit kacang. 

Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan vaksin yang aman dan manjur, proses pengembangan vaksin butuh waktu bertahun-tahun. 

Menurut jurnal Clinical and Experimental Vaccine Research, evaluasi klinis vaksin mirip dengan obat-obatan kimia yang terdiri dari tiga fase. 

Seluruh prosesnya memakan waktu 10 hingga 15 tahun dan membutuhkan anggaran sekitar 1 miliar dolar AS. 

Rencana pengembangan vaksin harus ditetapkan dengan jelas agar efisien dan berhasil sebelum evaluasi klinis. Proses ini termasuk: 

  • Identifikasi populasi target. 
  • Penilaian risiko penyakit target dan vaksin itu sendiri. 
  • Pemahaman tentang kejadian penyakit pada target dan faktor lingkungan. 
  • Identifikasi dosis dan rute pemberian. 
  • Rencana untuk menginduksi kekebalan satu kelompok. 
  • Strategi pengaturan.

Artikel Lainnya: Heboh Kalung Anti Corona, Efektifkah Eucalyptus Cegah COVID-19?

  1. Tahap Pertama

Pada tahap awal ini, beberapa kandidat vaksin akan diuji untuk melihat keamanan dan reaktivitasnya pada manusia. Selain itu, keamanan dan tolerabilitas vaksin juga akan diuji pada tingkat lokal dan sistemik. 

Analisis statistik umumnya bersifat deskriptif dan eksploratif, karena uji coba vaksin hanya melibatkan peserta dengan jumlah kecil (sekitar 20-80 peserta). 

  1. Tahap Kedua 

Di tahap kedua, pengujian akan dilakukan dengan bukti konsep dari sebuah produk vaksin. 

Uji klinis fase ini dilakukan guna menunjukkan imunogenisitas komponen aktif yang relevan dan profil keamanan dari kandidat vaksin dalam populasi target. 

Tujuannya, untuk menentukan dosis yang optimal, jadwal pemberian vaksin, dan profil kesehatan dari kandidat vaksin.

  1. Tahap Ketiga

Di langkah akhir, vaksin akan masuk dalam tahap uji coba. Tahap ini dilakukan untuk memberi kesimpulan penting yang diperlukan untuk persetujuan pemasaran, kemanjuran, dan keamanan formulasi komponen aktif secara imunologis. 

Hasil klinis sangat direkomendasikan sebagai parameter (tolak ukur) untuk membandingkan kemanjuran vaksin itu sendiri. 

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri mengatakan pembuatan vaksin memang bukan suatu hal yang mudah dan bisa dilakukan dalam waktu singkat. 

Apabila sampai saat ini belum ada vaksin yang manjur untuk mengatasi virus corona, ini bukan berarti pihak atau instansi kesehatan tidak berusaha. 

Mereka semua sedang fokus membuat dan terus bekerja mengembangkan vaksin agar nantinya efektif digunakan untuk mengatasi virus COVID-19. Sekali lagi perlu dipahami, bahwa pembuatan dan pengembangan vaksin butuh waktu yang lama. 

“Tahapannya memang sangat banyak. Setiap tahapan itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Jadi nggak hanya sehari atau dua hari saja. Bisa berbulan-bulan bahkan tahunan. Lalu, kalau tahapannya tidak berhasil, mereka akan mulai lagi dari awal, sehingga butuh waktu yang cukup lama,” kata dr Devia

Artikel Lainnya: Ternyata Membunuh Virus Corona Bisa Pakai Obat Kumur, Apa Ampuh?

2 dari 4 halaman

Mengapa Kita Butuh Vaksin?

Mendapatkan vaksin atau imunisasi merupakan salah satu hal wajib yang perlu Anda dapatkan sejak kita masih bayi. 

Ini berguna untuk mencegah penyakit masuk dan akhirnya menginfeksi tubuh Anda. Baik bayi maupun orang dewasa harus melengkapi vaksin wajib. 

“Mulai dari vaksin Hepatitis B, vaksin BCG, vaksin polio, vaksin campak, Vaksin DPT, sampai vaksin yang nanti harus dilakukan saat menikah, semuanya memang wajib. Tujuannya memang untuk menjaga imunitas tubuh, dan menjaga tubuh dari serangan penyakit,” kata dr. Devia. 

3 dari 4 halaman

Ini Prioritas Penerima Vaksin Virus Corona

Jika vaksin virus corona sudah berhasil ditemukan, siapakah orang yang harus diprioritaskan untuk mendapatkan vaksin tersebut?  

Menurut dr. Devia, orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh lemah wajib menjadi prioritas penerima vaksin virus corona. 

“Harus mengutamakan mereka yang punya sistem kekebalan tubuh yang lemah seperti anak-anak dan juga lansia. Selain itu, kelompok masyarakat yang punya penyakit penyerta juga masuk dalam prioritas utama,” ujar dr. Devia. 

Ini karena mereka yang memiliki imunitas rendah atau penyakit penyerta lebih mudah terinfeksi virus corona. 

Mereka juga rentan mengalami komplikasi kesehatan yang berbahaya, sehingga risiko kematian pun lebih tinggi menyerang kelompok masyarakat tersebut.

Nah, itulah beberapa informasi seputar tahap pembuatan dan pengembangan vaksin di dunia. Jika Anda memiliki pertanyaan seputar COVID-19, silahkan konsultasikan dengan Dokter Spesialis via LiveChat di KlikDokter, atau langsung membaca artikel yang sudah tersedia.

Perlu Anda ketahui, KlikDokter, Kementerian Kesehatan RI, dan BNPB bekerjasama untuk mencegah penularan virus corona di masyarakat Indonesia.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar