Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Tiga Bulan Hadapi COVID-19, Aktor Broadway Nick Cordero Wafat

Tiga Bulan Hadapi COVID-19, Aktor Broadway Nick Cordero Wafat

Setelah jalani banyak perawatan intensif selama berbulan-bulan, Nick Cordero dinyatakan meninggal dunia akibat COVID-19.

Virus corona tidak pandang bulu dalam mengincar korbannya. Kali ini, virus mematikan tersebut kembali merenggut salah satu aktor Broadway, Nick Cordero.

Dikabarkan bahwa Nick Cordero mengembuskan napas terakhirnya setelah berjuang ‘mati-matian’ melawan virus corona selama kurang lebih tiga bulan.

Nick Cordero Meninggal Akibat Virus Corona

Aktor Nick Cordero dinyatakan meninggal dunia akibat komplikasi COVID-19 pada Minggu (5/7) lalu.

Kabar duka ini diberitahu oleh istrinya, Amanda Kloots, via akun Instagram pribadinya. Berikut ini bunyi posting-annya.

“Sekarang, Tuhan punya malaikat lain di Surga. Suami tercintaku meninggal dunia pagi ini. Dia diliputi cinta dari keluarganya, yang bernyanyi dan berdoa ketika dirinya perlahan meninggalkan dunia,” tulis Amanda Kloots.

Masih dalam postingan yang sama, Amanda menumpahkan kesedihannya atas berpulangnya sang suami pada Yang Maha Kuasa.

“Hatiku hancur. Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa dia. Nick adalah cahaya terang. Dia adalah teman bagi semua orang, sangat suka mendengarkan, menolong, dan terutama mengobrol. Dia mencintai keluarganya,” tambah Amanda.

Lebih lanjut, Amanda juga berterimakasih kepada dokter yang sudah membantu merawat Nick selama beberapa bulan terakhir, sejak dirinya pertama kali dinyatakan positif virus corona.

Artikel Lainnya: Ternyata Membunuh Virus Corona Bisa Pakai Obat Kumur, Apa Ampuh?

1 dari 4 halaman

Masuk Rumah Sakit Sejak Maret dengan Gejala Mirip Stroke

Mengutip The Guardian, sejak Maret lalu, Nick Cordero dirawat di rumah sakit Cedars-Sinai Medical Center di Los Angeles. Sejak saat itu, paru-paru Cordeo memang mengalami infeksi parah.

Tak hanya itu, karena aliran darah pada tubuhnya semakin terbatas, dokter terpaksa mengamputasi kaki kanan Cordero agar jantungnya bisa berfungsi dengan normal dan paru-parunya terselamatkan.

Cordero dikabarkan memasuki ruang gawat darurat pada 30 Maret dan mengalami penurunan  kesehatan.

Dirinya juga mengalami stroke, pembekuan darah, infeksi sepsis, sehingga harus melewati prosedur trakeostomi dan diberikan implan alat pacu jantung sementara. Dirinya pun menggunakan ventilator dan dinyatakan koma sejak 6 Mei lalu.

Hal yang dialami Nick Cordero diduga akibat komplikasi COVID-19. Menurut dr. Devia Irine Putri, hingga saat ini gejala virus corona sangat beragam. Misalnya, ada gejala ini di pasien 1. Namun, gejala tersebut tidak terdapat di pasien 2.

Mengapa bisa seperti itu? Gejala yang muncul sesuai dengan imun tubuh seseorang dan juga riwayat kesehatannya. Bila ada penyakit penyerta, risiko terjadinya komplikasi lebih tinggi..

“Kalau ada yang menyebutkan gejala COVID-19 mirip dengan stroke, hal tersebut mungkin saja terjadi,” kata dr. Devia.

Artikel Lainnya: Tak Hanya Paru, Virus Corona Bisa Rusak Jantung, Hati, dan Ginjal!

2 dari 4 halaman

Sempat Disarankan untuk Melakukan Transplantasi Paru

Karena infeksi pada paru yang semakin parah, Cordero sempat diminta untuk melakukan transplantasi paru-paru.

Ini merupakan sebuah metode pembedahan besar yang dilakukan untuk mengganti paru-paru yang sudah rusak dengan yang masih sehat.

Adapun beberapa kondisi yang memang mengharuskan seseorang untuk melakukan transplantasi paru, misalnya:

  • Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)

PPOK adalah kondisi peradangan paru yang sudah terjadi dalam jangka waktu panjang. Kondisi PPOK akan menghalangi udara dari paru, sehingga penderitanya akan kesulitan bernapas.

  • Sarcoidosis

Sarcoidosis adalah kondisi di mana sel tubuh mengalami peradangan parah, terutama pada bagian paru-paru, mata, kulit, dan getah bening.

  • Cystic Fibrosis

Cystic fibrosis adalah penyakit genetik yang menyebabkan lendir dalam tubuh mengental sehingga penderitanya lebih mudah terkena infeksi.

  • Fibrosis Pulmonal

Fibrosis pulmonal adalah kondisi terjadinya gangguan pernapasan akibat adanya jaringan parut dalam paru-paru. Kondisi ini umumnya akan menyebabkan fungsi paru menjadi tidak normal.

  • Bronkiektasis

Bronkiektasis merupakan kondisi ketika cabang bronkus dari paru-paru melebar dan menebal secara permanen.

Artikel Lainnya: Pemerintah Sarankan Pakai Masker Kain, Efektifkah Hadapi Virus Corona?

3 dari 4 halaman

Seperti Apa Kemungkinan Keberhasilan Transplantasi Paru?

Jika harus transplantasi paru, seberapa besar kemungkinan untuk sukses dan kembali sehat?

Menanggapi hal ini, dr. Devia tidak bisa memastikan betul seberapa besar/kecil kemungkinan seseorang bertahan setelah menjalani transplantasi paru. Ini dikarenakan adanya respons tubuh yang berbeda-beda dari setiap orang.

“Kalau dari penelitian, sekitar 80% tahun pertama orang yang menerima transplantasi paru akan bertahan hidup. Untuk tiga tahun setelahnya, harapan untuk hidup hanya sebanyak 55-70%,” ujar dr. Devia.

“Tapi, hal-hal tersebut dikembalikan lagi lagi ke kondisi tubuh orang yang mendapatkan transplantasi paru. Semua akan jadi faktor penentu, termasuk usia dan riwayat kesehatan pasien,” tambahnya.

Lebih lanjut, dr. Devia juga mengatakan bahwa transplantasi paru bisa dipertimbangkan untuk pasien COVID-19.

Hal ini khususnya dilakukam jika sudah ditemukan kerusakan jaringan paru-paru yang masif akibat infeksi, dan obat-obatan juga tidak memberikan hasil.

Lalu, apakah virus corona memang benar bisa merusak paru-paru seseorang? Ya, dr. Devia mengatakan, adanya virus yang menginfeksi paru-paru memang bisa buat organ ini terganggu.

Terlebih lagi, jika orang tersebut sudah memiliki riwayat penyakit paru-paru atau sudah mengalami komplikasi yang cukup parah.

Oleh karena itu, jika Anda memang dinyatakan positif COVID-19, jangan tunda melakukan perawatan sejak dini. Ikuti instruksi dokter dengan sepenuh hati, agar penyakit segera teratasi dan komplikasi bisa dihindari.

Curiga mengalami gejala virus corona? Jangan sungkan untuk memanfaatkan layanan Cek Coronavirus Online yang disediakan KlikDokter. Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar masalah kesehatan lainnya, gunakan layanan Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

KlikDokter telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menekan angka persebaran virus corona di Indonesia.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar