Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Belasan Pelajar di Tiongkok Bunuh Diri saat Lockdown Virus Corona

Belasan Pelajar di Tiongkok Bunuh Diri saat Lockdown Virus Corona

Belasan siswa SD dan SMP di Tiongkok bunuh diri dengan cara tragis selama masa lockdown virus corona. Hal ini dihubungkan dengan kesehatan mental selama pandemi.

Masalah yang ditimbulkan akibat virus corona seakan tidak ada habisnya. Pasalnya, virus tersebut tidak hanya menyebabkan banyak kerugian materi, tapi juga turut memicu terjadinya gangguan kesehatan mental. 

Salah satu kasus terganggunya kesehatan mental akibat pandemi virus corona dialami oleh beberapa pelajar di Tiongkok. Setelah status lockdown dihilangkan, belasan pelajar setempat justru ditemukan bunuh diri. 

1 dari 4 halaman

Kehidupan Sekolah Usai Lockdown Virus Corona di Tiongkok

Melansir Reuters, masalah kesehatan mental di Tiongkok muncul lantaran para siswa mesti menghabiskan beberapa bulan untuk belajar di rumah. 

Hal tersebut rupanya juga membuat mereka merasa sangat khawatir jika nantinya sekolah sudah mulai dibuka kembali usai lockdown.

Wali Kota Distrik Pudong, Shanghai, Li Guohua mengatakan sepanjang tahun 2020 terdapat 14 siswa sekolah dasar dan menengah yang bunuh diri di wilayah tersebut. 

Ini merupakan angka bunuh diri yang tinggi di kalangan anak-anak dalam tiga tahun terakhir.

Selain itu, media lokal setempat seperti Health Times juga melaporkan bahwa secara nasional, terdapat 18 siswa yang bunuh diri dengan cara tragis dalam tiga bulan terakhir. 

Dalam sebuah survei yang melibatkan 1,22 juta siswa SD dan SMP di Guangdong, ditemukan bahwa sekitar 10,5% anak mengalami masalah kesehatan mental. Karenanya, pemerintah setempat pun mengambil langkah pencegahan.

Pada akhir bulan lalu, Kementerian Pendidikan Tiongkok memerintahkan sekolah-sekolah di daerah setempat untuk berfokus pada kesehatan mental anak dan menyesuaikan pelajaran agar siswa tidak terlalu tertekan. 

Di Kota Wuhan, hampir semua sekolah telah menyediakan kelas pendidikan kehidupan guna mengatasi rasa stres dan depresi yang dialami para siswa selama pandemi virus corona. 

Dalam kelas ini, para siswa diminta untuk berdiskusi atau membagikan tentang pengalaman yang mereka rasakan. 

Tujuan diadakannya kelas tersebut adalah untuk menyadarkan siswa bahwa stres merupakan hal yang lumrah untuk dirasakan sehingga mereka tidak perlu cemas berlebihan. 

Artikel Lainnya: Perlu Dijaga, Kesehatan Mental Pasien Virus Corona Juga Penting!

2 dari 4 halaman

Mengapa Pandemi Virus Corona Bisa Sebabkan Gangguan Mental?

Menurut Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog, anak-anak yang tidak terbiasa dengan pola hidup baru semasa pandemi virus corona bisa berisiko mengalami gangguan kecemasan dan depresi

“Seseorang yang mengalami gejala depresi bisa menimbulkan komplikasi berbahaya jika tidak diobati sesegera mungkin. Gejala depresi merupakan gangguan serius yang bisa menghambat aktivitas kerja otak, bukan hanya sekedar timbul perasaan murung atau sedih dalam beberapa hari,” ujar Ikhsan. 

Depresi itu sendiri adalah gangguan kesehatan mental yang memengaruhi suasana hati. Kondisi ini bisa menyebabkan perasaan sedih dan kehilangan minat secara berkepanjangan. 

Depresi juga bisa memengaruhi seseorang dalam bersikap, berpikir, dan mengambil keputusan, yang ujungnya memicu berbagai masalah fisik maupun emosional. 

Sama seperti penyakit lainnya, gejala depresi pada anak muda juga memiliki faktor pencetus. Lantas, apa saja yang jadi penyebab gejala depresi pada anak muda di masa pandemi virus corona? 

  • Banyak Perubahan

Perubahan gaya hidup yang terjadi semasa pandemi dapat membuat seseorang kesulitan untuk beradaptasi. 

Bahkan, hal ini pun masih bisa terus dirasakan meski status lockdown sudah dihilangkan.

Kegiatan-kegiatan yang menjadi sangat terbatas lantaran masih adanya bayang-bayang virus corona membuat ruang gerak seseorang menjadi sangat terbatas. 

Tentu saja, hal ini bisa memberikan beban pada pikiran, yang pada akhirnya memicu munculnya stres dan depresi.

  • Tidak Merasa Nyaman

Rumah menjadi salah satu tempat yang paling aman dan paling nyaman untuk tinggal. Namun, bagi beberapa siswa yang punya jiwa ekstrover tinggi, hal ini sangat sulit untuk dilakukan. 

Kebanyakan anak muda zaman sekarang pasti lebih gemar bersosialisasi bersama teman-teman sebayanya di luar rumah. 

Ketika dihadapkan dengan situasi di mana mereka harus diam di rumah dalam waktu lama, hal ini bisa menimbulkan kecemasan tersendiri. 

  • Punya Masalah Keluarga 

Jika remaja itu memiliki masalah keluarga, ini bisa jadi faktor yang memicu terjadinya depresi. 

“Misalnya, ketika dia memiliki hubungan yang kurang baik dengan orang tuanya, maka melakukan self quarantine bisa jadi cobaan terberat selama masa pandemi virus corona,” tambah Ikhsan.

  • Punya Riwayat Depresi

Situasi saat pandemi virus corona bisa menyebabkan kekambuhan gejala pada orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami depresi. 

Hal ini bisa terjadi akibat berbagai alasan, misalnya harus berada di dalam rumah, stres karena keluarganya ada yang terinfeksi virus corona, dan lainnya.

Artikel Lainnya: Tak Positif Coronavirus tapi Harus Karantina, Waspada Gangguan Mental!

3 dari 4 halaman

Apakah Remaja Perlu Waktu untuk Stabilkan Kesehatan Mental usai Lockdown Virus Corona?

Menurut Ikhsan, adanya bimbingan konseling atau pembelajaran mengenai kesehatan mental sangat penting dilakukan di berbagai sekolah. 

“Setiap orang perlu menstabilkan kesehatan mental, khususnya jika masih remaja. Karena pada remaja, emosi mereka belum stabil dan kontrol diri juga masih berkembang. Maka itu, kalau ada stres ditambah kondisi pandemik atau lockdown bisa saja memperburuk kondisi mereka,” Ikhsan menegaskan.

Apa yang Bisa Dilakukan untuk Menjaga Kesehatan Mental Remaja? 

Untuk mencegah gejala depresi selama masa pandemi, Ikhsan menyarankan anak muda untuk melakukan kegiatan yang disukainya. 

Bila gemar memasak, cobalah untuk memasak menu baru untuk keluarga tercinta. Tuliskan juga resep-resep masakan yang dibuat dalam sebuah jurnal, yang nantinya bisa disimpan untuk jangka waktu panjang. 

Jika gemar menggambar, coba lukis pemandangan yang setiap hari dilihat di depan rumah. Bisa juga melukis kegiatan apa saja yang dilakukan oleh seisi keluarga.

Tidak cukup dengan itu, remaja juga perlu berolahraga di dalam rumah dan membatasi diri dari paparan berita negatif. 

Olahraga bisa membuat tubuh dan pikiran relaks, sedangkan mendengar berita yang terlalu negatif tentang virus corona justru bisa membuat pikiran semakin tertekan. 

“Perbanyak juga interaksi dengan teman sebaya. Baik dengan bermain game atau ngobrol bersama lewat telepon. Mereka juga bisa tuliskan hal-hal yang bisa disyukuri dari kondisi ini. Contoh, mereka belum terpapar virus,” tutur Ikhsan. 

“Jika memang gundah, cobalah untuk mulai terbuka dengan orang tua. Ini karena masa pandemi juga bisa dimanfaatkan untuk mendekatkan diri atau memperbaiki hubungan dengan orang tua,” pungkasnya. 

Ingin tahu lebih lanjut mengenai masalah kesehatan mental atau bahaya virus corona? Jangan sungkan untuk bertanya langsung pada dokter melalui LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Anda juga bisa melakukan deteksi dini gejala virus corona dengan melakukan Cek Corona Online.

KlikDokter bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menekan angka persebaran virus corona di Indonesia.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar