Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Rekor, Tambahan Pasien Virus Corona di Indonesia dan Jakarta Terbanyak!

Rekor, Tambahan Pasien Virus Corona di Indonesia dan Jakarta Terbanyak!

Bikin geleng-geleng kepala, kemarin (9/6) penambahan kasus corona di Indonesia lebih dari 1.043 kasus! Pasien virus corona di Jakarta pun kian banyak. Kenapa bisa?

Baru lima hari merasakan masa transisi menuju era new normal, ada kabar tidak mengenakkan tentang jumlah kasus virus corona di Indonesia. Bukannya menurun, jumlahnya justru makin banyak!

Jadi pusat penyebaran virus corona untuk pertama kalinya di Tanah Air, sebenarnya kasus positif COVID-19 di DKI Jakarta sendiri sempat menurun. Sayangnya, itu hanya berlaku sebentar.

Lonjakan kasus akhirnya terjadi lagi dan bikin ragu sebagian orang untuk tetap positive thinking terhadap masa transisi ke era new normal.

Jumlah Tambahan Pasien Corona Indonesia dan Jakarta Pecah Rekor

Pemprov DKI Jakarta mencatat bahwa lonjakan kasus positif virus corona kemarin (9/6) merupakan yang terbanyak sejak diumumkan pertama kali pada Maret lalu.

Berdasarkan situs resmi pemantauan virus corona DKI Jakarta, kasus positif bertambah 239 orang. Jika dikumulatifkan, maka ada 8.276 orang pasien virus corona di ibu kota.

Sebelumnya, lonjakan tertinggi kasus infeksi virus corona di Jakarta terjadi pada 16 April 2020. Saat itu, penambahan kasus positif harian corona mencapai 223 orang.

Lonjakan kasus tertinggi juga sempat terjadi pada pertengahan Mei lalu. Tercatat pada 10 Mei, penambahan berjumlah 182 kasus.

Dalam beberapa hari terakhir, kasus virus corona di Jakarta sebenarnya sempat menurun. Misalnya saja dua hari lalu (8/6), cuma ada penambahan 91 kasus positif.

Di tanggal 5 Juni, hanya ada 84 kasus. Sementara, di tanggal 4 Juni pun hanya ada penambahan 61 kasus COVID-19.

Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Doni Monardo menyebut, kasus baru virus corona di Jakarta kini didominasi pekerja migran atau TKI yang pulang dari luar negeri.

Artikel Lainnya: Mau Naik Ojek Online saat New Normal? Ini Aturannya!

Pada akhir Mei lalu, Doni mengatakan jika kasus positif COVID-19 dari TKI tidak dihitung, maka kasus virus corona di Jakarta sudah jauh berkurang.

Lalu, bagaimana dengan lonjakan kasus virus corona Indonesia sendiri? Tercatat pada Rabu (10/6) ini, terdapat 1.241 pasien positif virus corona baru. Angka penambahan ini tertinggi sejak kasus pertama muncul di tanah air.

1 dari 4 halaman

Kenaikan Jumlah Pasien COVID-19 Jakarta Akibat Pending Sample?

Di sisi lain, bukan soal TKI, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan, Dinas Kesehatan DKI, Ani Ruspitawati, menjelaskan penyebab tingginya penambahan kasus virus corona di Jakarta. Menurutnya, itu karena pengetesan sampel yang tertunda. 

"Penambahan jumlah kasus positif ini karena adanya pending sample dari beberapa laboratorium swasta," kata Ani dalam acara daily brief di Balai Kota, Jakarta Pusat, Selasa (9/6).

Menurut Ani, laboratorium-laboratorium swasta banyak yang libur pada akhir pekan lalu, sehingga pemeriksaan spesimen baru dilakukan pada Senin (8/6) lalu dan dilaporkan hasilnya hari ini (10/6). 

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun memberi penjelasan. Apa yang terjadi kemarin dan hari ini merupakan imbas dari apa yang terjadi 2-3 pekan sebelumnya, baik itu dari kebijakan atau dari sikap masyarakat saat PSBB.

"Tiap kebijakan yang dilaksanakan disiplin oleh masyarakat akan memberikan dampak yang muncul 2-3 minggu kemudian. Ketika memutuskan pengetatan Maret, baru kemudian 2-3 minggu muncul efeknya, tren mulai melandai dan kita lihat angka ini sejak mulai kebijakan," tutur Anies.

Bila merujuk pada pernyataan di atas, kemungkinan penambahan kasus yang begitu besar ini terjadi akibat banyak warga yang nekat datang ke lokasi-lokasi tertentu dan akhirnya membuat kerumunan saat jelang Lebaran.

Artikel Lainnya: Antre Naik KRL pada Masa New Normal, Ini Beberapa Tips Amannya!

2 dari 4 halaman

Bila Terus Tinggi, Pemerintah Bisa Lakukan Emergency Brake

Tak menutup kemungkinan, jika jumlah kasus virus corona dan angka kematian melonjak di Jakarta, maka Gubernur Anies tak segan untuk mengambil kebijakan emergency brake

“Kami tidak ingin ada kasus, pasien, atau kematian baru. Jika angka-angka itu tiba-tiba melonjak ke level yang mengkhawatirkan kami, maka kami akan menarik ‘remnya’,” ujar Anies dalam wawancara dengan Al Jazeera, Selasa (9/6). Emergency brake merupakan upaya terakhir dari pemerintah Jakarta.

Jika kebijakan emergency brake diambil, maka semua sektor yang semula dibuka 50% harus kembali ditutup dan pelaksanaan PSBB kembali dilakukan secara penuh.

3 dari 4 halaman

Perlukah Jakarta Lakukan Emergency Brake?

Nah, menyikapi persoalan pending sample dan emergency brake yang akan dilakukan pemerintah andaikata peningkatan kasus terus terjadi, begini penjelasan dr. Alvin Nursalim, Sp. PD.

“Masalah teknis laboratorium bisa saja terjadi. Tapi, angka yang meningkat, kan, tetap berarti ada peningkatan secara alami. Karena itu, evaluasi sangatlah diperlukan. Langkah mitigasi harus diperketat di Jakarta,” kata dr. Alvin.

“Soal kebijakan emergency brake, tentunya kalau semakin meningkat, nggak menutup kemungkinan pembatasan akan kembali dilakukan. Semoga dengan adanya kejadian ini, kita makin tergerak untuk tetap melakukan protokol kesehatan, sehingga bisa memasuki era new normal dengan lancar tanpa ada spike kasus baru,” tambahnya.

Lonjakan kasus virus corona di Jakarta memang mengkhawatirkan. Namun, seperti yang sempat disinggung di atas, hasil hari ini merupakan perbuatan kita kemarin.

Kita semua harus kompak dan sadar untuk melakukan langkah-langkah dalam mencegah penyebaran virus corona hari ini, agar hasilnya bisa terlihat nantinya dan emergency brake tidak mesti diterapkan.

KlikDokter bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Bila mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 atau masalah kesehatan lainnya, gunakan fitur Live Chat 24 jam untuk konsultasi dengan dokter. Untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa cek risiko virus corona online dan rapid test dari KlikDokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar