Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Sekolah yang Masuk Zona Hijau Virus Corona Diperbolehkan Masuk

Sekolah yang Masuk Zona Hijau Virus Corona Diperbolehkan Masuk

Masuk masa transisi PSBB, sekolah yang ada di zona hijau sudah diperbolehkah masuk. Amankah jika anak mulai masuk sekolah?

Untuk mempersiapkan masuk ke fase new normal, sejumlah sekolah yang berada di zona hijau berencana kembali dibuka. Hal tersebut diinformasikan langsung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Hal ini berkaitan dengan tahun ajaran baru yang akan dimulai pada 13 Juli mendatang.

Tak dimungkiri, pengumuman ini memicu respon para orang tua di rumah yang menjadi cemas. Lantas, apakah aman membiarkan anak belajar di sekolah saat jumlah kasus positif COVID-19 masih meningkat terus?

Sekolah Dibuka untuk Zona Hijau Virus Corona

Dilansir dari CNN Indonesia, Kepala Biro Kerja Sama dan Humas Kemendikbud, Evy Mulyani, mengatakan sekolah yang masih berada di dalam zona merah dan kuning akan tetap menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh atau online.

Evy juga menambahkan meski sekolah yang berada di zona hijau sudah kembali dibuka, ini bukan berarti sekolah tersebut bisa langsung dibuka. Melainkan harus melewati prosedur dan izin syarat yang ketat.

Misalnya, sebuah sekolah berada di zona hijau, tetapi berdasarkan penilaian keseluruhan prosedur dan syarat, ternyata tidak layak untuk dibuka, maka murid sekolah di tempat itu tetap harus melakukan pendidikan jarak jauh atau online.

Kemendikbud juga mengatakan, prioritas utama kebijakan pembukaan sekolah di tengah pandemi COVID-19 adalah kesehatan dan keselamatan siswa, guru, juga orang tua.

Untuk menunjang pembelajaran jarak jauh, Kemendikbud telah merekomendasikan 23 situs yang bisa digunakan untuk peserta didik sebagai referensi belajar dalam menerapkan sistem pembelajaran jarak jauh atau online.

Selain itu, para siswa juga bisa memanfaatkan berbagai layanan yang telah disediakan oleh Kemendikbud, antara lainnya seperti program belajar dari rumah melalui TVRI, radio, modul belajar mandiri, lembar kerja, bahan ajar cetak, serta alat peraga dan media belajar dari benda atau lingkungan sekitar.

Evy juga menambahkan, aktivitas dan tugas pembelajaran pada sistem online atau jarak jauh  bisa dilakukan bervariasi yang disesuaikan dengan minat siswa, serta akses, dan fasilitas belajar di rumah.

Artikel Lainnya: Kiat Mendampingi Anak Belajar di Rumah

1 dari 4 halaman

Apa Temu Muka di Sekolah Saat Pandemi COVID-19 Tergolong Aman?

Dijelaskan oleh dr. Devia Irine Putri, jika memang sekolah tersebut sudah memenuhi standar untuk kembali dibuka selama pandemi virus corona, sebenarnya bisa dikatakan aman.

Namun, dr. Devia tetap menyarankan agar para murid tetap belajar di rumah sampai keadaan benar-benar aman.

“Kalau dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) sendiri, tetap menyarankan untuk menunda pembukaan sekolah dahulu dan tetap melakukan sistem belajar jarak jauh atau online. Mengingat angka infeksi masih tinggi dan belum terkendali dengan baik,” ujar dr. Devia.

Selain itu, anak-anak juga belum paham betul akan pengertian harus menjaga jarak dengan teman sepermainannya.

Meski Anda sudah memberi penjelasan,  saat mereka bertemu teman-temannya, pasti akan ada perasaan senang dan bahagia, dan pasti maunya berdekatan terus.

“Kalau seperti ini akan ada risiko yang mungkin akan muncul. Karena anak-anak bisa menjadi carrier (yang tidak bergejala), atau bahkan yang terinfeksi dan bergejala,” tambah dr. Devia.

2 dari 4 halaman

Kematian anak akibat virus corona di Indonesia tinggi

Mengutip Detiknews, jumlah anak Indonesia yang menjadi korban akibat virus corona ternyata tidak sedikit, bahkan masuk dalam kategori banyak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang menelusuri dan menghitung secara mandiri mencatat setidaknya ada 3.324 anak Indonesia yang terinfeksi COVID-19 serta berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) sampai (18/5) lalu.

Salah satu contohnya, seorang bayi laki-laki berusia sembilan bulan di Mataram, Nusa Tenggara Barat, yang sebelumnya dinyatakan positif virus corona, meninggal dunia Rabu (27/05) lalu.

Bayi tersebut terdaftar sebagai pasien 554 COVID-19 di NTB. Bayi ini juga sempat dirawat intensif dengan keluhan pneumonia atau kesulitan bernapas.

Gita Ariadi, Ketua Pelaksana Harian Gugus Tugas Provinsi NTB, mengaku belum mengetahui sumber penularan virus corona terhadap bayi itu. Bahkan, bayi tersebut juga diketahui tidak memiliki riwayat kontak dengan pasien positif virus corona sebelumnya.

Satu bulan sebelumnya, seorang anak berumur satu tahun juga diketahui meninggal dunia setelah dirawat selama dua hari di RS Umum Wonolangan. Balita ini berasal dari Desa Gending Probolinggo, Jawa Timur, dan masuk dalam kategori Pasien Dalam Pengawasan (PDP).

Meski belum melakukan tes COVID-19, tapi balita ini meninggal dengan gejala yang mirip dengan virus corona yaitu, sesak napas.

Artikel Lainnya: 3 Cara Jelaskan Konsep New Normal Pandemi COVID-19 pada Anak

3 dari 4 halaman

Sekolah Online Masih Jadi Prioritas

Meski akan dibuka kembali, Kemendikbud tetap memperbolehkan siswa untuk tidak masuk sekolah untuk belajar tatap muka. Terlebih masih merasa tidak nyaman jika keluar dari rumah.

Hal ini pun disampaikan oleh Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar Menengah, (Plt. Dirjen PAUD, Dikdasmen) Kemendikbud, Hamid Muhammad, dalam video konferensinya Kamis (04/06) kemarin.

Mengutip laman Kompas, Hamid Muhammad mengatakan, apabila di satu wilayah zona hijau, kepala sekolah melakukan assessment itu sudah siap.

Namun, ada sebagian orang tua yang tak mau karena merasa tak aman atau insecure, maka murid diperbolehkan untuk tidak masuk sekolah tatap muka seperti teman-temannya yang lain.

Hamid juga mengatakan, meski tidak masuk secara tatap muka, murid tersebut tetap harus melakukan pembelajaran online dan orangtuanya wajib melapor kepada kepala sekolah dan guru.

Hamid memastikan, pembukaan sekolah kegiatan belajar mengajar di zona hijau pada masa new normal akan dilakukan secara bertahap. Belum pasti di bulan Juli atau Agustus, yang jelas tidak dilakukan serentak, menurut Hamid.

Menanggapi hal ini, dr. Devia Irine Putri pun juga setuju, karena di luar sana masih banyak orang tua yang insecure dengan kondisi pandemi virus corona.

“Kalau memang boleh disarankan, justru sebaiknya anak melakukan pembelajaran online terlebih dahulu, sampai kondisi benar-benar sudah aman dan sudah tidak ada penambahan jumlah korban positif virus corona selama beberapa pekan. Mengingat virus corona bisa menyerang siapa saja termasuk anak-anak,” kata dr. Devia.

Nah, jika Anda adalah orang tua dengan anak yang sudah diperbolehkan masuk ke sekolah, keputusan kembali ada di tangan Anda.

Namun, dr. Devia tetap menyarankan agar Anda menunda dulu anak masuk sekolah dan memprioritaskan belajar via online.

KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Apabila mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 gunakan fitur LiveChat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Sedangkan untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar