Sukses

Awas, Pandemi COVID-19 Bisa Picu Gangguan PTSD!

Jangan pernah anggap sepele pandemi COVID-19. Pasalnya, kondisi ini juga bisa mengancam kesehatan mental dan menyebabkan PTSD atau post-traumatic stress disorder.

Kasus virus corona di Indonesia masih belum menemukan ujungnya. Kondisi ini bisa menyebabkan berbagai dampak dalam segala aspek kehidupan. Salah satu dampak pandemi COVID-19 yang bisa saja terjadi tanpa disadari adalah trauma secara emosional.

Dalam medis, trauma emosional yang terjadi akibat pernah mengalami kejadian tidak menyenangkan di masa lampau dikenal dengan istilah PTSD alias post-traumatic stress disorder.

PTSD Banyak Terjadi Selama Pandemi COVID-19

Dijelaskan oleh dr. Resthie Rachmanta Putri. M.Epid, PTSD adalah gangguan kondisi mental yang bisa terjadi akibat pernah mengalami peristiwa mengerikan, terjadi mendadak, dan mengancam hidup.

"PTSD juga bisa dialami oleh seseorang yang menyaksikan suatu kejadian mengerikan pada orang-orang terdekatnya," ungkap dr. Resthie.

Seseorang dikatakan mengalami PTSD jika memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh American Psychological Association's Diagnostic and Statistical Manual Fifth Edition, sebagai berikut.

  • Pernah mengalami kejadian yang mengancam keselamatan.
  • Mengalami atau melihat langsung cedera serius maupun kekerasan seksual yang dialami oleh rekan terdekatnya.
  • Mengalami dua atau lebih gejala yang memengaruhi suasana hati dan pikiran selama lebih dari satu bulan.
  • Mengalami satu atau lebih gejala penghindaran selama lebih dari satu bulan. gejala penghindaran biasanya berupa keengganan untuk mendiskusikan apa yang pernah terjadi, serta menghindari situasi yang mengingatkan pada kejadian yang traumatis..
  • Mengalami satu atau lebih gejala intrusi (gejala kilas balik) selama lebih dari satu bulan. Gejala intrusi meliputi sulit tidur, lekas marah, hipersensitif terhadap kemungkinan bahaya, serta merasa tegang atau cemas.
  • Mengalami dua atau lebih gejala gairah dan reaktivitas yang dimulai setelah trauma selama lebih dari satu bulan. Gejala ini mirip dengan yang terjadi pada kondisi intrusi.

Artikel Lainnya: 4 Hal yang Perlu Anda Tahu tentang PTSD

1 dari 3 halaman

Siapa yang Berisiko Terkena PTSD Akibat Pandemi COVID-19?

Ada beberapa orang yang berisiko terkena PTSD akibat pandemi COVID-19. Menurut psikolog Ikhsan Bella Persada, M.Psi, mereka adalah orang dengan gangguan obsessive compulsive disorder (OCD), serangan panik, dan gangguan kecemasan.

“Mereka yang punya kecenderungan OCD sangat mungkin mengalami PTSD,” ungkap Ikhsan.

Lebih lanjut, Ikhsan juga mengatakan bahwa orang-orang dengan OCD memiliki rasa cemas berlebihan.

Mereka akan selalu cuci tangan setiap saat, karena berpikir bahwa virus corona telah menempel di tangan, di gagang pintu, atau di baju. Padahal, tindakan berlebihan seperti itu justru bisa mengganggu diri mereka sendiri.

“Lain halnya dengan mereka yang punya gangguan serangan panik atau kecemasan. Orang-orang ini akan khawatir ketika sudah mulai new normal. Apalagi, kalau ada yang bersin di sebelahnya, bisa saja orang punya serangan panik akan pingsan,” sambungnya.

Artikel Lainnya: Antara Pria dan Wanita, Siapa Lebih Rentan Terserang PTSD?

2 dari 3 halaman

Bagaimana Cara Mengatasi PTSD Akibat Pandemi COVID-19?

Sebenarnya, merupakan sebuah hal yang normal apabila Anda merasa cemas, gelisah, sulit tidur, dan sedikit trauma saat menghadapi pandemi COVID-19 seperti sekarang ini.

“Itu adalah cara otak untuk beradaptasi. Ada dalam hyperalert jika Anda perlu melindungi diri sendiri. Pada kebanyakan kasus, kondisi ini akan kembali normal seperti sedia kala,” kata psikiater, Dr. Shaili Jain.

Meski demikian, perasaan yang terjadi akibat menghadapi pandemi COVID-19 tetap perlu dikendalikan agar tidak malah menyesatkan Anda ke jalan ‘kegelapan’. Berikut ini beberapa upaya yang bisa dilakukan.

  • Melakukan Perawatan Diri

Kegiatan sehat yang dapat meningkatkan kesehatan mental harus menjadi bagian dari rutinitas harian Anda.

Beberapa kegiatan yang dimaksud, misalnya meditasi, yoga, berjalan-jalan di sekitar rumah, mendengarkan musik kesukaan, memasak, atau membaca buku.

  • Membatasi Paparan Berita

Fakta mengerikan yang tersiar di berita dapat membuat perasaan semakin tertekan. Atas dasar itu, Anda sebaiknya membatasi diri dari paparan berita, khususnya yang terkait dengan pandemi COVID-19.

  • Mengetahui Akan Adanya Awal dan Akhir

Ada awal, pasti ada akhir. Hal ini juga berlaku untuk pandemi COVID-19 yang sedang terjadi seperti saat ini.

Percayalah, cepat atau lambat, situasi yang sedang dihadapi sekarang ini akan berakhir sehingga Anda bisa kembali ke kehidupan normal.

  • Minta Bantuan

Jika kondisi mental Anda benar-benar tertekan akibat menghadapi pandemi COVID-19, jangan sungkan untuk segera minta bantuan dari tenaga profesional.

Dengan menceritakan segala hal yang menjadi beban, perasaan Anda bisa sedikit tenang. Jika diperlukan, Anda juga mungkin akan mendapatkan terapi obat-obatan yang sesuai.

Tetap waspada dan tenangkan diri Anda. Kontrol kondisi emosi secara berkala, agar pandemi COVID-19 tidak menjadi faktor penyebab PTSD pada diri Anda. Tetap terapkan gaya hidup sehat, dan lakukan aktivitas positif yang menenangkan jiwa secara berkala.

Jika Anda merasa butuh bantuan untuk menenangkan pikiran, jangan sungkan untuk ngobrol langsung dengan psikolog melalui LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter. Sementara itu, jika Anda curiga akan adanya gejala infeksi virus corona, jangan tunda untuk melakukan Cek Corona Online.

(NB/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar