Sukses

Hasil Autopsi Temukan George Floyd Positif Virus Corona

Hasil autopsi baru katakan bahwa George Floyd positif virus corona, tanpa gejala. Namun, apa bisa melakukan pemeriksaan virus corona pada jenazah?

Nama George Floyd memang tak asing lagi didengar. Pria kulit hitam berusia 46 tahun itu tewas di tangan seorang polisi berkulit putih. Akibatnya, kericuhan besar-besaran sedang melanda Amerika Serikat untuk menuntut keadilan bagi George Floyd.

Meski begitu, sampai saat ini penyebab kematian dari George Floyd masih jadi pertanyaan.

Ada yang mengatakan dirinya tewas akibat tercekik sang polisi, ada juga yang mengatakan bahwa George meninggal karena pola hidup yang buruk selama ia hidup.

Namun hasil autopsi terbaru menunjukan bahwa Floyd juga dinyatakan positif virus corona, meski tanpa gejala.

 

1 dari 4 halaman

George Floyd Positif COVID-19 Tanpa Gejala

Virus corona bisa menyerang siapa saja dan di mana saja. Gejala virus corona bervariasi, ada yang timbul seperti pada umumnya, ada yang timbul gejala tidak biasa, dan ada yang tidak menunjukkan gejala sama sekali.

Mengutip lama CNN, Floyd dinyatakan positif mengidap coronavirus pada bulan April. Hasil ini didapat setelah autopsi terakhir yang dilakukan pada jenazah Floyd.

Floyd sendiri tidak menunjukkan gejala ketika empat polisi di Minneapolis terlibat dalam kasus kematiannya.

"Karena hasil positif COVID-19 dapat bertahan selama berminggu-minggu setelah waktu pemeriksaan klinis sebelumnya, hasil autopsi kemungkinan besar mencerminkan kepositifan asimptomatik tetapi persisten dari infeksi sebelumnya," ungkap petugas pemeriksaan medis di Hennepin County.

Meski begitu, tidak diketahui pasti apakah virus corona berperan atas kematian Floyd.

Selain merilis tentang hasil autopsi virus corona yang diidap Floyd, tenaga medis lainnya juga merilis rincian lebih lanjut tentang autopsi akhir kematian Floyd.

Menurut laporan tersebut, kematian Floyd disebabkan karena cardiopulmonary atau henti jantung.

Lehernya ditekan oleh lutut petugas kepolisian, Derek Chauvin, selama lebih dari delapan menit, kata laporan tersebut. Akan tetapi, tidak menyimpulkan bahwa kondisi leher ditekan itu langsung menyebabkan George tewas.

Laporan terakhir dari pemeriksaan medis turut mengatakan, Floyd mengalami memar dan luka di kepala, wajah, mulut, bahu, lengan, dan kaki sejak petugas memaksanya ke tanah dan berlutut di lehernya. Namun, tidak ditemukan bukti bahwa luka-luka itu secara langsung akan membunuhnya.

Tidak ditemukan juga bukti cedera leher utama, tengkorak atau cedera otak, serta tidak ada juga kerusakan pada organ dalam. Autopsi terakhir juga mengatakan Floyd memiliki penyakit jantung dan riwayat tekanan darah tinggi.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 4 halaman

Tes Virus Corona Pada Jenazah

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, apa bisa, jenazah atau orang yang sudah meninggal diperiksa untuk dilihat ada tidaknya virus di dalam tubuh mereka?

Begini, saat melakukan autopsi pada jenazah, semua pemeriksaan akan dilakukan. Sehingga virus corona pun juga bisa terdeteksi karenanya.

Menurut dr. Devia Irine Putri, saat melakukan autopsi pada mayat, maka pemeriksaan darah, pemeriksaan luar, dan pemeriksaan dalam akan dilakukan.

“Kalau dilakukan autopsi itu semuanya diperiksa, dari darah, pemeriksaan luar (dilihat tubuhnya dari luar ada luka, lecet, tanda kekerasan, atau tidak) dan pemeriksaan dalam (dilihat organnya satu satu ada atau tidak kelainan),” ujar dr. Devia.

“Saat pemeriksaan darah, itu juga dilihat apakah orang tersebut menggunakan obat-obatan atau tidak, ada infeksi atau tidak. Spesimen atau cairan dari nasofaringnya juga bisa di-swab jika saat meninggal langsung diautopsi,” tambahnya.

Selain itu, pengambilan sampel organ paru juga dilakukan untuk diperiksa di bawah mikroskop. Ini bertujuan untuk melihat ada mikroemboli tidak, ada kerusakan paru tidak, sehingga jika terdapat virus corona, maka akan segera ditemukan.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

3 dari 4 halaman

Dua Kemungkinan Penyebab Kematian George Berdasarkan Autopsi

Mengutip Insider, autopsi dalam penyelidikan kematian Floyd dilakukan dua kali, dan kedua hasil kesimpulannya berbeda.

  • Hasil Autopsi Kantor Kejaksaan Hennepin

Dalam hasil autopsi yang dilakukan oleh Kejaksaan Hennepin, Floyd dinyatakan meninggal akibat adanya cardiopulmonary atau henti jantung.

Hal ini didukung dengan adanya riwayat hidup Floyd yang sering minum-minuman keras, dan ini bisa menyebabkan kematiannya.

Keluhan dari Kejaksaan Hennepin juga mengutip laporan autopsi awal, yang menunjukkan tidak ada temuan fisik yang mendukung diagnosis asfiksia traumatis atau pencekikan.

Hasil laporan mengatakan, bahwa kematiannya Floyd adalah efek gabungan akibat ia ditahan polisi dan kondisi kesehatan yang mendasarinya.

Ketika meninggal, George ditemukan memiliki riwayat jantung, hipertensi, dan kerusakan pada arteri koroner.

“Jika memang semasa hidupnya Floyd ini punya pola hidup yang buruk seperti minum-minuman keras, merokok, atau mungkin menggunakan obat-obatan, maka bisa saja terjadi komplikasinya di saat seperti ini. Jadi ada gangguan jantung yang juga dipengaruhi oleh situasi saat itu dan kondisi kesehatan lainnya seperti hipertensi dan riwayat jantung,” jelas dr. Devia.

  • Hasil Autopsi Mandiri Keluarga Floyd

Autopsi kedua dilakukan secara pribadi oleh dokter yang disewa oleh keluarga George. Hasilnya ditemukan, bahwa ia meninggal bukan hanya karena tercekik.

Namun, akibat lututnya ditekan dani juga karena dua petugas lain yang membantu menjebak dengan memberikan tekanan pada punggungnya.

Penyebab kematian menurut autopsi pribadi, adalah asfiksia (kondisi ketika pasokan oksigen menurun atau terhenti) dan cara kematiannya adalah pembunuhan.

Dengan kata lain, jantung Mr. Floyd berhenti berdetak dan paru-parunya berhenti menghirup udara saat lehernya ditekan dengan lutut Derek.

Dijelaskan oleh dr. Devia, seseorang yang tidak mendapatkan oksigen selama 4 sampai 5 menit, akan mengalami kematian pada otaknya.

“Umumnya ketika seseorang tidak mendapatkan oksigen selama 1 menit, maka orang itu akan terasa lemas dan sulit untuk bergerak. Tapi, jika sudah lebih dari satu menit, bahkan bisa 5 menit ke atas, maka akan ada kematian pada otak. Bukan mati karena ada sumbatan pembuluh darah, tapi karena organ vital nggak dapat oksigen (otak, jantung, paru-paru). Akibatnya jadi tidak berfungsi,” tutup dr. Devia.

Kematian George Floyd memang masih ditelusuri oleh beberapa pihak. Kekerasan fisik menjadi penyebab kematiannya.

Apabila Anda ingin tahu informasi lanjut tentang bahaya kekerasan atau atau virus corona, jangan ragu konsultasi langsung dengan dokter lewat fitur LiveChat di aplikasi KlikDokter.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar