Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Satu Keluarga Meninggal Berurutan Diduga karena COVID-19

Satu Keluarga Meninggal Berurutan Diduga karena COVID-19

Kasus semakin meningkat di Surabaya, satu keluarga tewas secara bergilir yang diduga akibat COVID-19. Bagaimana ini bisa terjadi?

Meningkatnya jumlah pasien positif virus corona di Indonesia memang masih berlanjut. Di Jawa Timur, kota Surabaya jadi salah satu kota yang mengkhawatirkan dalam hal penyebaran virus corona.

Merangkum berbagai sumber, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa merasa sangat khawatir dengan persebaran virus corona yang terjadi di Surabaya. Menurutnya, penularan ini sering kali terjadi pada keluarga yang tinggal dalam satu rumah.

Dengan kata lain, ketika ada satu anggota keluarga yang positif virus corona, maka ia sangat rentan menularkan ke anggota keluarga lainnya.

 

1 dari 3 halaman

Kronologi Kematian Satu Keluarga Secara Berurutan

Satu keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak di Surabaya meninggal diduga positif virus corona.

Salah satu anggota keluarga yang selamat berinisial DW (anak bungsu di keluarga itu) menceritakan kronologi meninggalnya keluarganya hanya dalam waktu enam hari.

Melansir Detiknews, DW bercerita ada gejala-gejala awal yang memang sudah dimiliki keluarganya. Mulai dari gejala demam, batuk, hingga flu yang dialami oleh kakak perempuannya.

Di waktu yang sama, kakak perempuan DW juga tengah mengandung delapan bulan. DW juga menjelaskan seisi keluarganya sudah melakukan pemeriksaan ke RS PHC dan rapid test di Pura Raharja, Jawa Timur. Namun, hasil tes menunjukkan negatif.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

Saat menjalani perawatan di rumah, kondisi kakak perempuannya kian memburuk. Karena itu, ia dirujuk kembali ke RS PHC Surabaya, Selasa (26/5) lalu.

Ketika berada di rumah sakit, kakak DW mengalami gagal napas sehingga sempat dipasangkan ventilator. Namun naas, setelah diperiksa detak jantung kakak DW beserta janin yang dikandungnya sudah tidak ada.

Tiga hari kemudian (29/5), orang tua DW dibawa ke Rumah Sakit Islam Jemursari, Jawa Timur. Saat itu, kondisi ayah DW sudah hilang kesadaran dan mengalami diare. Sedangkan, ibu DW mengalami meriang, batuk, dan sesak napas.

Setelah sehari menjalani perawatan di rumah sakit, nasib buruk kembali datang pada DW. Ia harus kembali kehilangan orang tercintanya yaitu sang ayah yang meninggal pada Sabtu (30/5).

DW mengatakan, ayahnya sempat kembali lakukan rapid test dan hasilnya reaktif, namun belum lakukan swab test sehingga ayahnya meninggal dengan status PDP (pasien dalam pengawasan).

Lalu, pada Selasa (2/6) lalu, lagi-lagi DW berduka karena kehilangan ibunya. Sama seperti sang ayah, ibu DW juga belum tes swab meski sempat menjalani rapid test dan hasilnya reaktif.

DW sendiri tidak mengelak bahwa keluarganya terpapar COVID-19. Namun, dirinya sangat keberatan bila ibu dan ayahnya dianggap meninggal akibat positif virus corona karena belum menjalani swab test dan masih dianggap sebagai PDP.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

2 dari 3 halaman

Mengapa Satu Keluarga Rentan Tertular?

Dokter Devia Irine Putri mengatakan, tinggal satu rumah dengan orang yang positif virus corona memang sangat rentan tertular.

Apalagi bila orang itu sebelumnya tidak mengetahui bahwa dirinya adalah pasien positif virus corona karena tidak menunjukkan gejala apa pun.

Karenanya, sangat penting untuk tetap berada di rumah dan menghindari aktivitas di luar rumah selama pandemi.

“Jika memang salah satu anggota keluarga sering bepergian ke luar rumah, maka melakukan swab test sebenarnya diperlukan. Hal ini berguna untuk mengetahui apakah Anda berpotensi menularkan virus corona pada anggota keluarga lain atau tidak,” ujar dr. Devia.

Jika salah satu anggota keluarga sudah dinyatakan positif virus corona, maka perlu ada tindakan yang dilakukan agar virus ini tidak menyebar ke anggota keluarga lainnya.

“Kalau memang ada yang kena corona di satu rumah, sebaiknya ia tidurnya pisah dengan orang sehat lainnya. Sebaiknya ia di kamar dulu, kalau makan juga di kamarnya sendiri. Kalau mau mandi boleh di kamar mandi bersama, tapi setelah orang itu pakai, kamar mandi harus dibersihkan dengan disinfektan. Beberapa jam kemudian baru boleh digunakan,” jelas dr. Devia.

Selain itu, menghindari stres juga wajib dilakukan. Karena, stres bisa menurunkan sistem imunitas dan membuat Anda jadi lebih rentan tertular virus penyebab penyakit.

Menggunakan masker, rajin mencuci tangan, dan memisahkan alat makan yang dipakai oleh orang positif virus corona juga perlu dilakukan. 

“Seisi keluarga bisa minum vitamin C atau D untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. Bila tidak memungkinkan untuk keluar rumah (bagi yang sehat), berjemur di garasi atau menghirup udara segar bisa bantu merelakskan pikiran agar sistem imun meningkat,” lanjutnya.

Untuk menghindari risiko tertular, Anda wajib melakukan physical distancing dengan orang lain. Apabila dalam fase transisi ini Anda sudah diwajibkan untuk ke kantor, maka ikuti protokol-protokol kesehatan yang ada, serta langsung mandi dan mencuci pakaian yang digunakan.

KlikDokter bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB menyediakan cek risiko virus corona online dan rapid test bagi Anda yang ingin memeriksakan gejala. Lakukan konsultasi dengan dokter lebih praktis lewat Live Chat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar