Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • Longgarkan Aturan, Muncul Klaster COVID-19 Baru di Itaewon, Korsel

Longgarkan Aturan, Muncul Klaster COVID-19 Baru di Itaewon, Korsel

Sengaja longgarkan aturan karantina, Korea Selatan malah hadapi kluster penyebaran infeksi virus corona baru, khususnya di pusat hiburan malam di Itaewon, Seoul.

Nama Itaewon tentu sudah tidak asing lagi untuk kebanyakan orang, khususnya bagi mereka yang gemar menonton serial drama Korea yang berjudul Itaewon Class. Tidak hanya terkenal dari nama sebuah drama, baru-baru ini nama Itaewon juga semakin dikenal karena kasus penambahan jumlah korban virus corona yang cukup signifikan.

Puluhan Kasus Infeksi Virus Corona Baru Muncul dari Klub di Itaewon, Seoul

Melansir dari Korea Times, Korea Selatan melaporkan ada lebih dari 34 kasus infeksi virus corona baru yang muncul sejak Sabtu (9/5) kemarin.

Pemerintahan Kota Seoul menyatakan, kluster penularan baru ini terjadi di Itaewon, di mana merupakan salah satu distrik ibu kota yang ramai dengan kehidupan malam seperti bar dan club malam.

Beberapa kasus baru ini menambah jumlah kasus COVID-19 di Korea Selatan yang menjadi 10.874 dan angka kematian 256, menurut Korea Centers for Disease Control and Prevention (KCDC).

Dilaporkan ada 18 kasus baru yang terjadi pada Sabtu kemarin, sebanyak 17 orang di antaranya tertular dari pasien yang mendatangi klub malam di Itaewon.

Pemerintahan setempat juga telah melacak sekitar 1500 orang yang telah pergi ke bar dalam minggu-minggu tersebut.

Bahkan, salah satu pasien yang dipercaya menjadi sumber penyebaran virus corona adalah seorang pria berumur 29 tahun. Sebelumnya diketahui mendatangi lima bar serta club malam pada 1 Mei lalu.

Tiga dari klub yang ia kunjungi di antaranya adalah King Club, Queen, and Trunk, yang semuanya dikenal sebagai gay bar.

Pemerintah Korea meminta siapa pun yang pernah berkunjung ke bar maupun club malam untuk tidak pergi ke luar rumah, melakukan isolasi mandiri selama 14 hari, dan melakukan tes.

"Kasus ini sekali lagi menunjukkan penyebaran virus yang cepat serta daya menular yang tinggi. Kami sedang berjuang melawan waktu untuk mencegah transmisi tambahan di komunitas lokal, " direktur KCDC Jeong Eun-kyeong

Menanggapi kasus yang ada di Itaewon, Korea Selatan, dr. Devia Irine Putri berpendapat bahwa gelombang kedua dari penyebaran virus corona mungkin saja bisa terjadi.

Ini dikarenakan Pemerintah Korea Selatan yang mulai melonggarkan sistem social distancing di negaranya  tersebut.

“Harusnya bisa di-tracking pria itu kontak langsung dengan siapa saja, dan langsung dites dan isolasi. Kalau misalnya terlambat untuk tracking, tentu orang yang sudah pernah berkontak fisik dengan pria tersebut juga bisa jadi carrier untuk orang lain. Akibatnya, makin banyak orang terinfeksi,” ujar dr. Devia.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

1 dari 3 halaman

Munculnya Kasus Baru Berawal dari Aturan Social Distancing yang Dilonggarkan

Kembali dibukanya bar, restoran, dan fasilitas umum di Korea Selatan memang memicu adanya kasus COVID-19 baru yang jumlahnya cukup signifikan.

Melansir Guardian, sekitar 5,5 juta anak di negeri gingseng itu akan mulai kembali sekolah secara bertahap mulai minggu ini.

Selain itu, penerbangan domestik juga sudah mulai ada lonjakan bookingan, begitu juga dengan hotel-hotel setempat. Bahkan, di Kota Daegu (yang pernah jadi pusat wabah COVID-19 di negara Korea Selatan) telah kembali memulai musim permainan tim baseball lokal, Samsungs Lions.

Tidak hanya itu, para pekerja telah kembali ke kantor dan museum serta perpustakaan juga telah dibuka kembali.

"Saya sudah bersiap-siap untuk membuka restoran pizza saya selama berbulan-bulan sejak wabah dimulai," kata Yang Ji-Hyuk, seorang pemilik restoran di kota Hanam, sebelah timur Seoul.

“Saya harus menunggu sebentar, tetapi saya memutuskan untuk membukanya minggu ini karena saya merasa semuanya kembali normal. Tapi, saya tetap terapkan sistem pesan antar demi keamanan pelanggan dan pegawai,” tambahnya.

Menurut dr. Devia, memang wajar jika pemerintahan Korea memutuskan untuk melonggarkan sistem social distancing. Sebab, jumlah korban terinfeksi di Korea memang menurun secara drastis, bahkan angkanya mulai tidak menambah.

Namun, pelonggaran social distancing ini tetap perlu dipertimbangkan ulang, dilakukan secara bertahap, dan tidak boleh serentak.

Jika kasusnya justru semakin meningkat, sebaiknya pemerintah kembali melakukan sistem lockdown dan social distancing sampai jangka waktu yang cukup lama.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

2 dari 3 halaman

Pemerintah Korea Tracking Hampir 2 Ribu Orang dan Tutup Toko Sebulan Lagi

Kembali ke kasus klaster Itaewon, pihak berwenang setempat mengatakan pria berusia 29 tahun tersebut diyakini telah melakukan kontak dengan 2 ribu orang, dan semua suspek sedang dalam pemantauan atau di bawah tracking pemerintah.

Pria tersebut juga diketahui telah melakukan perjalanan ke Seoul, Gapyeong, Chuncheon, dan Hongcheon pada Kamis lalu. Ditambah, ia mengunjungi lima klub di Itaewon, dari Jumat malam hingga Sabtu dini hari.

Ia mengaku menderita demam tinggi dan diare pada Sabtu malam dan pergi ke rumah sakit pada hari berikutnya.

Berdasarkan peraturan pemerintah Korea yang akan keluar, semua klub, bar, dan perusahaan hiburan malam lainnya di seluruh Seoul akan ditutup sementara (kurang lebih satu bulan lamanya) serta dilarang menampung kerumunan orang.

“Fasilitas tersebut harus segera menghentikan bisnisnya dan bila melanggar perintah akan dihukum," kata Walikota Seoul, Park Won Soon dalam jumpa pers, yang masih dikutip dari Korea Times.

Hampir sama dengan rencana di Korea, pemerintah di Jakarta mengatakan bahwa mall akan kembali beroperasional secara bertahap mulai Juni mendatang.

Namun, menurut dr. Devia, sebaiknya sistem pelonggaran social distancing tidak dilakukan terlebih dahulu, mengingat jumlah korban terinfeksi virus corona semakin meningkat.

“Kalau di Indonesia seharusnya tetap tidak diberikan kelonggaran, mengingat kasusnya bertambah terus. Edukasi masyarakatnya juga masih kurang, masih banyak yang masa bodoh, kalau misalnya ditambah diberi kelonggaran menurutku akan berdampak lebih parah, ” kata dr. Devia.

Ada baiknya, jika Indonesia tetap memberlakukan aturan social distancing dan karantina sampai jangka waktu yang masih belum ditentukan.

Apabila angka penyebarannya sudah menurun, dan dalam beberapa bulan angka penurunannya semakin tinggi dan tidak ada korban terinfeksi, maka aturan social distancing baru boleh dilonggarkan, dengan catatan tetap secara bertahap.

Misalnya, aturan jam buka mal yang dibatasi, jumlah pengunjungnya juga dibatasi, penggunaan transportasi umum juga masih dibatasi.

KlikDokter juga telah bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana untuk menekan angka persebaran virus corona.

Apabila mau tahu lebih lanjut seputar COVID-19 gunakan fitur Live Chat untuk konsultasi langsung dengan dokter. Sedangkan untuk membantu menentukan gejala, Anda bisa mencoba tes coronavirus online di sini.

(OVI/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar