Sukses

  • Home
  • Info Sehat
  • WHO: Semua Negara Selidiki Kasus Pertama Virus Corona di Wilayahnya!

WHO: Semua Negara Selidiki Kasus Pertama Virus Corona di Wilayahnya!

Meski baru diumumkan di bulan Januari 2020, ternyata setelah diselidiki, virus corona sebenarnya telah menyebar di tahun 2019. Lalu, bagaimana efeknya?

Hingga pagi ini (8/5), kasus positif virus corona di dunia berjumlah lebih dari 3 juta. Untuk jumlah kasus yang sembuh mencapai lebih dari 1 juta orang, sedangkan kasus kematian ada sekitar 270 ribu.

Sementara itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) kini sedang “memaksa” semua negara untuk menyelidiki kembali kasus pertama virus corona di wilayah masing-masing.

Hal itu dilakukan karena WHO mendapat laporan bahwa COVID-19 muncul pada bulan Desember 2019 di Prancis. Padahal, yang selama ini kita tahu, Tiongkok-lah yang menjadi negara pertama yang melaporkan kasus virus corona di akhir Desember 2019.

Dengan demikian, seharusnya virus berbahaya tersebut belum masuk ke wilayah Eropa pada akhir tahun lalu.

 

1 dari 4 halaman

Kasus Virus Corona Pertama di Prancis Ternyata Sejak Desember 2019

Sebuah rumah sakit Prancis melakukan tes ulang sampel lama dari pasien pneumonia. Mereka melaporkan, mereka telah merawat seorang pria dengan gejala coronavirus pada tanggal 27 Desember. Itu hampir sebulan sebelum Pemerintah Prancis mengonfirmasi kasus pertama.

Dokter Yves Cohen, Kepala Resusitasi di RS Avicenne dan Jean Verdier di utara Paris mengatakan kepada BFM TV.

Menurut Cohen, para ilmuwan telah menguji ulang sampel dari 24 pasien yang dirawat pada bulan Desember 2019 dan Januari 2020. Dulu mereka hanya dites pneumonia.

"Dari 24 sampel, kami memiliki satu hasil positif untuk virus corona, yakni di tanggal 27 Desember," tuturnya.

Di Prancis, hampir 25.000 orang telah meninggal akibat COVID-19. Negara itu mengonfirmasi tiga kasus pertamanya pada 24 Januari, termasuk dua pasien di Paris dan satu lagi di kota barat daya Bordeaux.

Mengetahui kasus pertama virus corona di suatu negara sangat penting untuk memahami bagaimana virus menyebar. Namun, terlalu dini untuk mengatakan bahwa pasien 27 Desember itu merupakan pasien nol (patient zero) Prancis.

Pasien tersebut sempat sakit selama 15 hari, dan menginfeksi kedua anaknya dan orang yang bekerja di supermarket. Perlu diketahui, ia tidak pernah bepergian ke Tiongkok sebelumnya dan hanya berkontak dengan istrinya saja.

Namun, istri pasien itu bekerja di samping kedai sushi dan dekat dengan rekan-rekan asal Tiongkok.

Artikel Lainnya: Perhatikan, Ini 5 Gejala Virus Corona yang Tidak Biasa

2 dari 4 halaman

Patient Zero Virus Corona Inggris Ada Sebelum Pengumuman Kasus Pertama

Serupa dengan Prancis, dilansir dari Mirror UK, COVID-19 ternyata ada di Inggris beberapa minggu sebelum kasus pertama virus corona diumumkan.

Menurut laporan yang diterbitkan dalam jurnal Infection, Genetics and Evolution, virus SARS-CoV-2 itu mungkin telah beredar jauh sebelum diidentifikasi dan menginfeksi sebagian besar populasi.

Analisis menunjukkan, “leluhur bersama” untuk virus corona kemungkinan besar berasal dari kelelawar. Namun, sejak itu, ada banyak mutasi yang terjadi.

Tim peneliti pun mengatakan, meski virus corona telah berhasil bermutasi, tetapi mereka belum bisa mengatakan secara pasti apakah mutasi tersebut memiliki efek lebih mematikan atau tidak.

Intinya, menurut Francois Balloux (peneliti yang penelitiannya diterbitkan dalam jurnal Infection, Genetics and Evolution), terdapat perkiraan yang mendukung bahwa penyebaran virus corona dimulai sekitar 6 Oktober 2019 hingga 11 Desember 2019 – lebih awal dibanding pengumuman kasus pertama di Tiongkok.

Artikel Lainnya: Waspada! WHO Peringatkan Adanya Peredaran Obat Virus Corona Palsu!

3 dari 4 halaman

Bila Virus Corona Sudah Tersebar Lebih Lama, Apa Artinya?

 

Menanggapi kasus COVID-19 yang ternyata sudah menyebar lebih awal, begini penjelasan dr. Devia Irine Putri kepada KlikDokter.

Menurutnya, semakin lama virus itu menyebar, sementara penanganannya saat ini masih belum bisa terkendali, patut diwaspadai bahwa virus tersebut sudah bermutasi.

“Jika virus mutasi terus-menerus atau berubah-ubah terus, maka tentu penanganannya berbeda dan bisa semakin lama proses penyembuhannya.

Kalaupun nanti akhirnya ditemukan vaksin, dikhawatirkan efektivitas vaksin tersebut kurang efektif karena targetnya berubah,” jelas dr. Devia.

Kita tunggu saja bagaimana hasil selanjutnya dari para peneliti. Mengingat angka kesembuhan juga sudah berangsur banyak, semoga mutasi yang sempat dialami virus corona tidak memberikan efek yang lebih mematikan.

Untuk membantu mengendalikan penularan virus corona, KlikDokter bersama dengan Kementerian Kesehatan RI dan BNPB merilis cek risiko virus corona online dan rapid test gratis. Yuk, manfaatkan fitur tersebut!

Bila ingin tahu lebih detail dan cepat seputar virus corona pada dokter, pakai fitur LiveChat 24 jam di aplikasi KlikDokter.

(FR/AYU)

0 Komentar

Belum ada komentar